WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kisah inspiratif datang dari Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, justru muncul langkah berani dari sepuluh warga yang memilih “naik kelas” dan menyatakan lulus dari Program Keluarga Harapan (PKH). Mereka resmi melakukan Graduasi Mandiri, artinya secara sukarela mengundurkan diri dari bantuan sosial pemerintah karena merasa sudah mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga secara mandiri, Senin (2/2/2026).
Langkah ini bukan keputusan instan. Seluruh peserta graduasi tercatat telah menjadi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH sejak tahun 2016 atau hampir sembilan tahun lamanya. Mereka berasal dari empat lingkungan di wilayah Giritontro, yakni Ketonggo, Goboh, Dungkancil, dan Giritontro Kidul. Kesamaan alasan mereka sederhana namun bermakna besar: merasa sudah cukup, merasa sudah mampu, dan ingin memberi kesempatan kepada warga lain yang lebih membutuhkan.
Pendamping Sosial PKH Kecamatan Giritontro, Yoni Ahmadi, mengapresiasi penuh keputusan tersebut. Ia menyebut graduasi mandiri sebagai bukti nyata bahwa bantuan sosial sejatinya bersifat sementara, bukan ketergantungan jangka panjang.
“Bansos itu jembatan, bukan tujuan akhir. Graduasi mandiri itu keren. Tidak harus menunggu kaya, yang penting sudah bisa memenuhi kebutuhan pokok dengan usaha sendiri,” ungkap Yoni saat mendampingi kunjungan ke salah satu rumah warga yang lulus PKH.
Apresiasi serupa juga disampaikan Camat Giritontro, Sangga Ota Kharisma. Ia menegaskan bahwa graduasi mandiri harus lahir dari kesadaran, bukan tekanan atau sekadar ikut-ikutan. Menurutnya, keputusan sepuluh warga ini mencerminkan peningkatan kualitas hidup dan kepercayaan diri masyarakat terhadap potensi ekonomi keluarganya.
“Kami berharap ini murni dari kesadaran warga, karena yakin kondisi ekonominya sudah lebih sejahtera. Ini contoh baik dan patut ditiru,” tegasnya.
Lurah Giritontro, Danang Indarto, menilai keberhasilan ini sebagai tujuan utama dari seluruh program perlindungan sosial pemerintah. Ia menyebut keputusan para warga sebagai bukti bahwa PKH bukan hanya soal bantuan tunai, tetapi juga soal proses pendampingan dan perubahan pola pikir. “Kami bangga. Ini menunjukkan program berjalan sesuai arah, yakni memberdayakan hingga masyarakat benar-benar mandiri,” ujarnya.
Sementara itu, Kasi Kesejahteraan Rakyat dan Pelayanan Umum Kecamatan Giritontro, Tarwanto, memastikan bahwa pemerintah tidak akan lepas tangan setelah graduasi. Ia menegaskan, para warga yang telah mandiri tetap akan mendapat perhatian melalui program pemberdayaan lanjutan, pelatihan usaha, maupun akses kegiatan ekonomi produktif.
“Graduasi bukan akhir, justru awal untuk naik level. Kami akan terus memantau agar kemandirian ini berkelanjutan,” jelasnya.
Adapun sepuluh warga yang resmi lulus dari PKH tersebut adalah:
✓ Ika Feri Sarliati (2016–2026)
✓ Lina Anjarwati (2016–2026)
✓ Katni (2016–2026)
✓ Esti Wahyu Palupi (2016–2026)
✓ Sutasmi (2016–2026)
✓ Marinem (2016–2026)
✓ Sularmi (2016–2026)
✓ Isnaini (2016–2026)
✓ Leni Setyowati (2016–2026)
✓ Ely Kurniasari (2016–2026)
Keberhasilan mereka diharapkan menjadi pemantik semangat bagi KPM lain agar terus berjuang meningkatkan ekonomi keluarga. Graduasi mandiri ini juga membuka peluang lebih luas bagi keluarga lain yang masih membutuhkan untuk mendapatkan akses bantuan sosial. Dari Giritontro, pesan kuat itu menggema: bansos bukan selamanya, kemandirian adalah tujuan akhirnya. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

4 days ago
8


















































