PATI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Bupati Pati, Sudewo, akhirnya angkat suara terkait pernyataannya yang sempat memicu kontroversi dan dinilai menantang masyarakat yang hendak menggelar aksi menolak kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di wilayahnya. Dalam jumpa pers di Pendapa Kabupaten Pati, Kamis (7/8/2025), ia menegaskan bahwa tidak pernah bermaksud meremehkan rakyatnya.
“Saya tidak menantang rakyat. Sama sekali tidak ada maksud untuk menantang rakyat. Masak rakyatku tak tantang,” ujar Sudewo.
Pernyataan tersebut merupakan klarifikasi atas ucapannya terdahulu yang menyebut siap jika harus dihadapkan pada unjuk rasa hingga puluhan ribu orang. Ia menyatakan maksud sesungguhnya adalah agar aksi yang akan digelar benar-benar merupakan saluran aspirasi murni dan tidak ditunggangi pihak lain.
“Saya hanya ingin menyampaikan supaya demo tersebut berjalan lancar dan betul-betul murni tuntutan aspirasi. Bukan karena ditumpangi pihak tertentu,” sambungnya.
Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan yang beredar luas di media sosial, Sudewo sempat melontarkan kalimat yang memantik reaksi luas.
“Siapa yang akan melakukan penolakan? Yayak Gundul? Silakan lakukan. Jangan hanya 5.000 orang, 50.000 orang saja suruh ngerahkan, saya tidak akan gentar, terus maju,” ucap Sudewo kala itu.
Ucapan tersebut memicu gelombang kemarahan masyarakat. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu bahkan memastikan akan menggelar aksi besar-besaran pada 13 Agustus mendatang. Sejak awal Agustus, mereka mulai menghimpun bantuan logistik berupa makanan dan minuman untuk peserta aksi.
Namun suasana memanas pada Selasa (5/8), saat aparat Satpol PP membubarkan posko penggalangan bantuan di depan Kantor Bupati. Tindakan itu berbuntut pada aksi protes warga yang mendatangi markas Satpol PP. Setelah mendapat tekanan dari masyarakat, barang-barang donasi yang sempat disita akhirnya dikembalikan.
Sudewo pun menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Ia menekankan bahwa tidak ada niat menyita atau menghalangi warga memberikan dukungan logistik terhadap aksi.
“Kami tidak bermaksud melakukan perampasan terhadap barang-barang (donasi) tersebut sama sekali. Hanya ingin memindahkan, supaya tidak mengganggu kirab boyongan Hari Jadi ke-702 Kabupaten Pati dan tidak mengganggu acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia,” jelasnya.
Terkait kebijakan kenaikan PBB yang menjadi sumber polemik, Sudewo kembali menjelaskan bahwa tidak semua objek pajak dinaikkan hingga 250 persen. Menurutnya, angka itu adalah batas maksimal.
“Soal kenaikan sebesar 250 persen itu tidak semuanya. Itu hanya maksimal kenaikan. Jadi yang di bawah 100 persen kenaikannya malah lebih banyak,” tuturnya.
Jika tuntutan warga agar besaran kenaikan ditinjau ulang semakin menguat, pihaknya membuka kemungkinan untuk mengevaluasi kebijakan tersebut.
“Dan alhamdulillah, pembayaran PBB sampai saat ini sudah hampir mencapai 50 persen. Mohon dukungannya,” ujarnya.
Ia pun mengakui masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam kepemimpinannya yang masih di awal masa jabatan. Kritik dan masukan dari masyarakat diakuinya penting sebagai bahan koreksi.
“Saya minta maaf di awal masa pemerintahan saya ini saya memang banyak kekurangan,” ujar Sudewo.
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh pihak menjaga situasi Pati agar tetap kondusif demi kelancaran pembangunan. Ia juga menekankan komitmennya untuk bekerja sungguh-sungguh bagi kepentingan masyarakat.
“Yang terakhir saya tetap konsisten untuk pembangunan Kabupaten Pati. Saya akan berbuat yang setulus-tulusnya untuk rakyat Kabupaten Pati agar menjadi bupati yang amanah. Saya membenahi Rumah Sakit Umum Daerah Soewondo. Infrastruktur jalan yang dulu di mana-mana rusak saya bangun menjadi jauh lebih bagus. Semuanya akan konsisten saya benahi. Mohon dukungan selalu di Kabupaten Pati yang kita cintai,” tandasnya. [*] Berbagai sumber
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.