DELISERDANG, SUMUTPOS.CO- Di Desa Suka Raya, Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deliserdang, cerita tentang stroke selama ini identik dengan keterbatasan, ketergantungan, dan hilangnya harapan. Namun, kini pemandangan itu mulai berubah.
Berkat program “Model Rehabilitasi Stroke Berbasis Rumah” yang didanai penuh oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia tahun 2025, puluhan penyintas stroke mulai kembali mandiri, dibantu oleh kader Posyandu Melati yang terlatih.
Sebelum program dimulai, banyak pasien stroke di Desa Suka Raya hanya terbaring di matras tipis atau lantai rumah, tanpa peralatan dan pendampingan yang memadai. Posyandu Lansia pun serba terbatas; ruang pelayanan sempit, alat rehabilitasi minim, dan kader belum memiliki pelatihan khusus.
Kini, kondisi itu mulai berubah. Sepuluh kader Posyandu telah mendapatkan pelatihan teknik rehabilitasi pasca-stroke, termasuk latihan Range of Motion (ROM), penggunaan bola terapi, dan panduan pencegahan komplikasi. Empat puluh keluarga pasien pun dilatih agar bisa mendampingi rehabilitasi di rumah.
“Dulu kami bingung mau mulai dari mana. Sekarang kami tahu cara membantu pasien berjalan lagi, melatih tangan, bahkan memantau kemajuan lewat HP,” ujar Aseh, kader Posyandu Melati.
Selain itu, program ini tidak hanya mengandalkan pelatihan tatap muka, tapi juga memanfaatkan teknologi sederhana lewat aplikasi “Rehabku”. Aplikasi ini memungkinkan pasien dan keluarga mengakses video tutorial latihan, mencatat progres, dan berkomunikasi dengan tenaga medis tanpa harus keluar desa.
Tim pengabdian yang diketua Sulaiman ST MKM memberikan bantuan alat rehabilitasi seperti bola terapi dan pegangan tangan membuat pasien bisa berlatih mandiri di rumah. Hasil awal menunjukkan, mayoritas peserta mengalami peningkatan kemampuan fungsional, mulai dari mengangkat tangan, menggenggam, hingga berjalan dengan bantuan tongkat.
Enam bulan pendampingan menghasilkan capaian yang membanggakan yaitu 80% pasien mengalami peningkatan kemampuan fungsional. 40 keluarga mampu melakukan latihan rehabilitasi secara mandiri di rumah.Posyandu Lansia kini memiliki 10 kursi khusus dan 5 unit alat rehabilitasi baru.
Bagi Kepala Desa Suka Raya, ini adalah lompatan besar. “Sekarang pasien stroke tidak lagi dipandang sebagai beban, tapi pejuang yang bisa kembali beraktivitas. Desa kami jadi lebih peduli dan saling mendukung,” ujarnya.
Keberhasilan ini membuat Desa Suka Raya direncanakan menjadi desa binaan Stikes Siti Hajar, sekaligus lokasi praktik mahasiswa fisioterapi. Modul pelatihan dan panduan rehabilitasi yang dihasilkan akan dibagikan ke desa-desa lain, sehingga manfaatnya bisa meluas. Sang penggagas program menegaskan, “Stroke bukan akhir segalanya. Dengan pengetahuan, alat yang tepat, dan dukungan masyarakat, penyintas bisa kembali menjalani hidup dengan mandiri.” (rel/adz)
DELISERDANG, SUMUTPOS.CO- Di Desa Suka Raya, Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deliserdang, cerita tentang stroke selama ini identik dengan keterbatasan, ketergantungan, dan hilangnya harapan. Namun, kini pemandangan itu mulai berubah.
Berkat program “Model Rehabilitasi Stroke Berbasis Rumah” yang didanai penuh oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia tahun 2025, puluhan penyintas stroke mulai kembali mandiri, dibantu oleh kader Posyandu Melati yang terlatih.
Sebelum program dimulai, banyak pasien stroke di Desa Suka Raya hanya terbaring di matras tipis atau lantai rumah, tanpa peralatan dan pendampingan yang memadai. Posyandu Lansia pun serba terbatas; ruang pelayanan sempit, alat rehabilitasi minim, dan kader belum memiliki pelatihan khusus.
Kini, kondisi itu mulai berubah. Sepuluh kader Posyandu telah mendapatkan pelatihan teknik rehabilitasi pasca-stroke, termasuk latihan Range of Motion (ROM), penggunaan bola terapi, dan panduan pencegahan komplikasi. Empat puluh keluarga pasien pun dilatih agar bisa mendampingi rehabilitasi di rumah.
“Dulu kami bingung mau mulai dari mana. Sekarang kami tahu cara membantu pasien berjalan lagi, melatih tangan, bahkan memantau kemajuan lewat HP,” ujar Aseh, kader Posyandu Melati.
Selain itu, program ini tidak hanya mengandalkan pelatihan tatap muka, tapi juga memanfaatkan teknologi sederhana lewat aplikasi “Rehabku”. Aplikasi ini memungkinkan pasien dan keluarga mengakses video tutorial latihan, mencatat progres, dan berkomunikasi dengan tenaga medis tanpa harus keluar desa.
Tim pengabdian yang diketua Sulaiman ST MKM memberikan bantuan alat rehabilitasi seperti bola terapi dan pegangan tangan membuat pasien bisa berlatih mandiri di rumah. Hasil awal menunjukkan, mayoritas peserta mengalami peningkatan kemampuan fungsional, mulai dari mengangkat tangan, menggenggam, hingga berjalan dengan bantuan tongkat.
Enam bulan pendampingan menghasilkan capaian yang membanggakan yaitu 80% pasien mengalami peningkatan kemampuan fungsional. 40 keluarga mampu melakukan latihan rehabilitasi secara mandiri di rumah.Posyandu Lansia kini memiliki 10 kursi khusus dan 5 unit alat rehabilitasi baru.
Bagi Kepala Desa Suka Raya, ini adalah lompatan besar. “Sekarang pasien stroke tidak lagi dipandang sebagai beban, tapi pejuang yang bisa kembali beraktivitas. Desa kami jadi lebih peduli dan saling mendukung,” ujarnya.
Keberhasilan ini membuat Desa Suka Raya direncanakan menjadi desa binaan Stikes Siti Hajar, sekaligus lokasi praktik mahasiswa fisioterapi. Modul pelatihan dan panduan rehabilitasi yang dihasilkan akan dibagikan ke desa-desa lain, sehingga manfaatnya bisa meluas. Sang penggagas program menegaskan, “Stroke bukan akhir segalanya. Dengan pengetahuan, alat yang tepat, dan dukungan masyarakat, penyintas bisa kembali menjalani hidup dengan mandiri.” (rel/adz)