
KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM — Hal ini disampaikannya dalam gelaran Solo Raya Trade Tourism & Investment Expo (STTIE) 2025 di De Tjolomadoe, Jumat (1/8/2025).
Reza menegaskan bahwa Solo Raya, yang terdiri dari tujuh wilayah, memiliki potensi besar jika dikembangkan dalam kerangka kolaborasi kawasan. Ia memaparkan bahwa Solo punya kekuatan utama di sektor pariwisata berbasis sejarah dan budaya, sementara kabupaten di sekitarnya kaya akan potensi pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan makanan dan minuman.
“Kalau kita bicara Solo saja, pariwisatanya kuat. Tapi saat dilihat sebagai satu kawasan — Solo, Semarang, dan Yogyakarta — kita berbicara tentang skala ekonomi, efisiensi, produktivitas, dan daya saing,” terang Reza.
Dalam forum one-on-one investment meeting, investor dari dalam dan luar negeri (Bangladesh, Cina, Arab Saudi, dan Korea) bertemu langsung dengan perwakilan dari DPMPTSP tujuh daerah di Soloraya. Kegiatan ini memfasilitasi dialog langsung antara investor dan pemilik potensi wilayah seperti PT Kawasan Industri Wijayakusuma, PT Jateng Agro Berdikari, dan pelaku usaha lokal seperti Pringsewu Resto dan The Lawu Group.
Lebih lanjut, Reza mengungkapkan bahwa di bawah kepemimpinan Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid dan Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Daerah, Nengah Bakri, Kadin kini membedakan dua pendekatan investasi: nasional dan daerah. Fokus investasi daerah diarahkan pada pembangunan berbasis potensi lokal dengan memperhatikan aspek geoekonomi, geopolitik, hingga tata ruang kawasan.
Reza juga membagikan pengalaman Kadin dalam merancang kawasan pertumbuhan baru di Indonesia Timur, seperti Pulau Ambon, dengan konsep special economic zone berbasis desa. Konsep serupa menurutnya bisa diterapkan di Soloraya.
“Kita bicara industrial park jangan hanya soal bangun pabrik. Tapi apakah dia punya diferensiasi, sesuai green economy, ESG, terhubung dengan potensi lokal, termasuk desa. Ini saatnya kita bangun integrasi kawasan kota-desa agar pembangunan tidak menumpuk di kota saja,” tegas Reza.
Sebagai bentuk keseriusan, Kadin Indonesia juga tengah menyiapkan Indonesia Regional Development Fund, yaitu dana khusus untuk pengembangan daerah. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat pengusaha lokal agar bisa tumbuh menjadi pemain nasional bahkan internasional.
“Kita tidak bisa lagi menunggu. Pengusaha harus proaktif menentukan arah, pemerintah tinggal membuat kebijakan yang mendukung. Itulah makna kemitraan sejati,” tutup Reza.
Ketua Panitia Soloraya Great Sale 2025, Ferry Septha Indriyanto, menambahkan bahwa inisiatif kolaborasi antarwilayah ini telah terbukti efektif.
“Kita butuh skala ekonomi untuk menciptakan daya saing. Solo Raya Great Sale berhasil meraih capaian transaksi Rp10,6 triliun hanya dalam sebulan,” tutup Ferry. *
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.