FKIP UNS Gelar Pelatihan Sumber Primer Digital untuk Guru Sejarah di Boyolali

1 month ago 17
Tim riset Historica Edutica yang beranggotakan dosen-dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS sedang berpose bersama dengan guru-guru sejarah SMA Kabupaten Boyolali dalam acara Pelatihan Pemanfaatan Sumber Primer Digital Sejarah | Foto: Istimewa

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar Pelatihan Pemanfaatan Sumber Primer Digital Sejarah untuk guru-guru sejarah SMA se-Kabupaten Boyolali. Kegiatan yang  berlangsung pada Kamis (8/3/2025) di aula SMA Negeri 1 Banyudono tersebut diikuti oleh 35 guru anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Boyolali.

Pelatihan diinisiasi oleh grup riset Historica Edutica yang beranggotakan dosen-dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, antara lain Dr. Hieronymus Purwanta, M.A. selaku Ketua Riset Grup, Prof. Dr. Djono, M.Pd., Dr. Musa Pelu, M.Pd., Dr. Sutiyah, M.Pd., M.Hum., Drs. Herimanto, M.Pd., M.Si., dan Hasan Ashari, M.Pd. Kegiatan tersebut juga melibatkan tiga mahasiswa semester VI sebagai tim pendukung.

Ketua Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, Dr. Musa Pelu, M.Pd., menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat dan menjadi bentuk dukungan konkret peningkatan kualitas pembelajaran sejarah di sekolah.

“Guru perlu didorong untuk tidak hanya mengandalkan buku teks, tapi juga memanfaatkan sumber primer digital seperti arsip, dokumen, dan rekaman sejarah sebagai bahan ajar. Ini penting untuk menghadirkan pembelajaran yang berbasis bukti dan kontekstual,” jelasnya, seperti dikutip dalam rillisnya ke Joglosemarnwes.

Dr. Hieronymus Purwanta, M.A. selaku Ketua Riset Grup saat mamaparkan materi pelatihan seputar pemanfaatan sumber primer digital sejarah di hadapan guruu-guru Sejarah SMA di Boyolali | Foto: Istimewa

Dalam sesi materi, Dr. Hieronymus Purwanta, M.A. memaparkan pentingnya guru bersikap kritis terhadap isi buku teks yang kerap mengalami pembelokan dari fakta sejarah. Ia menekankan bahwa sumber primer berperan sebagai alat verifikasi dan juga media diskusi bagi peserta didik agar mampu membangun pemahaman historis secara mendalam.

“Pembelajaran sejarah yang bermakna tidak cukup hanya dengan menghafal kronologi, tetapi dengan mengajukan pertanyaan dan membangun interpretasi berbasis bukti,” tegas Hieronymus, mengutip gagasan Wineburg dalam buku Historical Thinking and Other Unnatural Acts.

Ketua MGMP Sejarah Boyolali, Kukuh Haryanto, S.Pd., yang turut hadir dalam pelatihan mengaku antusias dengan kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi materi yang membuka wawasan para guru untuk lebih kritis terhadap konten ajar.

Salah seorang peserta Pelatihan Pemanfaatan Sumber Primer Digital Sejarah yang digelar oleh Tim Riset Historica Edutica Pendidikan Sejarah FKIP UNS sedang mengajukan pertanyaan kepada narasumber | Foto; Istimewa

“Banyak hal yang ternyata selama ini luput dari perhatian kami. Kami jadi tergerak untuk memverifikasi dan mendiskusikan materi sejarah bersama siswa menggunakan sumber primer digital,” katanya.

Pelatihan tersebut  diharapkan menjadi langkah awal menuju pembelajaran sejarah yang lebih kritis, reflektif dan berbasis bukti otentik. Selain itu, kegiatan itu juga membuka ruang kolaborasi antara FKIP UNS dan para guru dalam pengembangan media ajar, penelitian tindakan kelas, hingga pembentukan komunitas belajar sejarah yang aktif.  [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|