Gugup Saat Bereskan Pakaian di Lemari, Kaget Ada Costumer dari Asmat

15 hours ago 5

Kisah Gabriel, Mahasiswa Uncen yang Membuka Jasa Bersih-bersih Untuk Sebuah Pembuktian

Di tengah hiruk pikuk kehidupan Kota Jayapura yang serba cepat, tidak semua orang punya waktu untuk mengurus hal-hal sederhana seperti membuang sampah, membersihkan rumah, atau sekadar melipat pakaian. Dicelah kebutuhan itulah, Gabriel Futunanembun (23) melihat peluang. Pekerjaan baru yang unik.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Di bawah terik matahari Kota Jayapura yang menyengat, sebuah motor matik membelah kemacetan dari arah Waena menuju pusat kota. Pengendaranya bukan driver ojek online, bukan pula pegawai kantoran yang mengejar absen. Ia adalah Gabriel Futunanembun, pemuda 23 tahun yang di dalam bagasi motornya dipenuhi kain pel, lap, dan tumpukan kantong sampah.

Bagi sebagian orang, membuang sampah atau melipat pakaian adalah beban sisa waktu di penghujung hari. Namun di tangan mahasiswa semester VI Jurusan Teknik Elektro, Universitas Cenderawasih (Uncen) ini, urusan tersebut disulap menjadi peluang emas di tengah hiruk-piruk ibu kota.

Gabi, sapaan akrabnya, adalah potret mahasiswa perantau asal Kaimana, Papua Barat, yang menolak menyerah pada keadaan. Hidup di sebuah kos-kosan di wilayah Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura Provinsi Papua menuntutnya untuk berpikir keras. Biaya hidup yang kian mencekik dan kondisi sang ibu yang berjuang sendirian (single parent) sebagai pekerja swasta di kampung halaman, menjadi pemantik semangatnya.

“Mama sudah tua. Penghasilannya sekitar Rp3 juta per bulan harus dibagi untuk kuliah saya dan kebutuhan adik di Kaimana. Saya tidak mungkin terus-terusan meminta. Dari situ saya buka otak, bagaimana supaya bisa dapat uang,” kenang Gabi saat berbincang melalui sambungan telepon, Senin (20/4).

Langkah besar itu dimulai pada 9 April 2026. Dengan sedikit keberanian, ia mengunggah tawaran jasa bersih-bersih melalui TikTok. Lima hari pertama dilewatinya dengan kesunyian tanpa satu pun notifikasi pesanan. Baru pada 14 April, sebuah pesan masuk dari warga di kawasan Entrop. Tugas pertamanya sederhana yakni membuang sampah.

“Waktu itu saya tidak patok harga, seikhlasnya saja. Saya pikir mungkin dikasih Rp15 ribu atau Rp20 ribu, ternyata dia kasih Rp50 ribu. Saya senang sekali,” tuturnya dengan nada haru. Namun, perjuangan Gabi bukan sekadar soal uang. Ada misi pribadi yang lebih dalam di balik setiap keringat yang menetes. Gabi terlahir dengan kondisi luka di bibir. Meski telah menjalani operasi saat SMA, bekas luka di wajah dan caranya berbicara kerap kali menjadikannya sasaran perundungan (bullying).

Bagi Gabi, bekerja di sektor jasa yang mengharuskannya berinteraksi langsung dengan orang asing adalah cara ia menyembuhkan diri. “Dulu saya sering dibuli. Orang bilang kami yang cacat fisik tidak bisa bekerja apa-apa. Tapi melalui jasa ini, saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi pekerjaan apa pun selama itu halal,” tegasnya.

Kini, layanan Gabi meluas. Tak hanya membuang sampah, ia juga mencuci piring, membersihkan halaman, membantu mengantar makanan, hingga melipat pakaian. Bahkan, ia pernah mengantongi Rp450 ribu untuk sekali pengerjaan membersihkan rumah di daerah Polimak. Dalam sehari, jika sedang ramai, ia bisa mengantongi Rp500 ribu hingga Rp600 ribu sebuah angka fantastis bagi seorang mahasiswa.

Kisah Gabriel, Mahasiswa Uncen yang Membuka Jasa Bersih-bersih Untuk Sebuah Pembuktian

Di tengah hiruk pikuk kehidupan Kota Jayapura yang serba cepat, tidak semua orang punya waktu untuk mengurus hal-hal sederhana seperti membuang sampah, membersihkan rumah, atau sekadar melipat pakaian. Dicelah kebutuhan itulah, Gabriel Futunanembun (23) melihat peluang. Pekerjaan baru yang unik.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Di bawah terik matahari Kota Jayapura yang menyengat, sebuah motor matik membelah kemacetan dari arah Waena menuju pusat kota. Pengendaranya bukan driver ojek online, bukan pula pegawai kantoran yang mengejar absen. Ia adalah Gabriel Futunanembun, pemuda 23 tahun yang di dalam bagasi motornya dipenuhi kain pel, lap, dan tumpukan kantong sampah.

Bagi sebagian orang, membuang sampah atau melipat pakaian adalah beban sisa waktu di penghujung hari. Namun di tangan mahasiswa semester VI Jurusan Teknik Elektro, Universitas Cenderawasih (Uncen) ini, urusan tersebut disulap menjadi peluang emas di tengah hiruk-piruk ibu kota.

Gabi, sapaan akrabnya, adalah potret mahasiswa perantau asal Kaimana, Papua Barat, yang menolak menyerah pada keadaan. Hidup di sebuah kos-kosan di wilayah Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura Provinsi Papua menuntutnya untuk berpikir keras. Biaya hidup yang kian mencekik dan kondisi sang ibu yang berjuang sendirian (single parent) sebagai pekerja swasta di kampung halaman, menjadi pemantik semangatnya.

“Mama sudah tua. Penghasilannya sekitar Rp3 juta per bulan harus dibagi untuk kuliah saya dan kebutuhan adik di Kaimana. Saya tidak mungkin terus-terusan meminta. Dari situ saya buka otak, bagaimana supaya bisa dapat uang,” kenang Gabi saat berbincang melalui sambungan telepon, Senin (20/4).

Langkah besar itu dimulai pada 9 April 2026. Dengan sedikit keberanian, ia mengunggah tawaran jasa bersih-bersih melalui TikTok. Lima hari pertama dilewatinya dengan kesunyian tanpa satu pun notifikasi pesanan. Baru pada 14 April, sebuah pesan masuk dari warga di kawasan Entrop. Tugas pertamanya sederhana yakni membuang sampah.

“Waktu itu saya tidak patok harga, seikhlasnya saja. Saya pikir mungkin dikasih Rp15 ribu atau Rp20 ribu, ternyata dia kasih Rp50 ribu. Saya senang sekali,” tuturnya dengan nada haru. Namun, perjuangan Gabi bukan sekadar soal uang. Ada misi pribadi yang lebih dalam di balik setiap keringat yang menetes. Gabi terlahir dengan kondisi luka di bibir. Meski telah menjalani operasi saat SMA, bekas luka di wajah dan caranya berbicara kerap kali menjadikannya sasaran perundungan (bullying).

Bagi Gabi, bekerja di sektor jasa yang mengharuskannya berinteraksi langsung dengan orang asing adalah cara ia menyembuhkan diri. “Dulu saya sering dibuli. Orang bilang kami yang cacat fisik tidak bisa bekerja apa-apa. Tapi melalui jasa ini, saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi pekerjaan apa pun selama itu halal,” tegasnya.

Kini, layanan Gabi meluas. Tak hanya membuang sampah, ia juga mencuci piring, membersihkan halaman, membantu mengantar makanan, hingga melipat pakaian. Bahkan, ia pernah mengantongi Rp450 ribu untuk sekali pengerjaan membersihkan rumah di daerah Polimak. Dalam sehari, jika sedang ramai, ia bisa mengantongi Rp500 ribu hingga Rp600 ribu sebuah angka fantastis bagi seorang mahasiswa.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|