YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Fenomena kekerasan antar pelajar kembali menelan korban di Yogyakarta. Alih-alih menjadi ruang pembinaan, keberadaan geng justru memicu aksi brutal yang nyaris merenggut nyawa, hanya demi sebuah “ritual” keluar dari kelompok.
Kasus perkelahian yang disebut sebagai aksi “gladiatoran” itu kini mulai menemukan titik terang. Aparat dari Polresta Yogyakarta telah menetapkan satu orang sebagai tersangka.
“Sudah ada satu yang diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka atas nama FS,” kata Anton Budi Susilo, Jumat (3/4/2026).
Meski demikian, pihak kepolisian belum mengungkap secara rinci peran FS dalam peristiwa berdarah tersebut. Polisi masih terus mendalami keterlibatan tersangka maupun kemungkinan adanya pelaku lain.
“Info lebih lengkap segera menyusul,” tambahnya.
Peristiwa itu sendiri terjadi di Jalan Ki Mangun Sarkoro, kawasan Pakualaman, Kota Yogyakarta, pada Rabu dini hari (25/3/2026) sekitar pukul 03.30 WIB. Aksi kekerasan tersebut melibatkan sejumlah pelajar yang diduga tergabung dalam satu geng.
Dari hasil penyelidikan awal, duel itu bukan terjadi secara spontan, melainkan sudah direncanakan sebelumnya. Dua pelajar yang menjadi korban diketahui ingin keluar dari geng, namun diwajibkan menjalani duel sebagai syarat.
Mereka kemudian sepakat bertemu di lokasi kejadian untuk melangsungkan perkelahian menggunakan senjata tajam.
Akibatnya, dua pelajar mengalami luka serius. Korban berinisial AP (18), warga Mergangsan, mengalami luka di bagian pundak kiri, lengan kanan dan kiri, serta jempol tangan kanan. Sementara RA (17), warga Depok, Sleman, menderita luka parah di bagian dada kiri hingga menembus paru-paru.
Keduanya sempat mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit di Yogyakarta.
Kasus ini terungkap setelah pihak kepolisian menerima laporan dari rumah sakit terkait adanya pasien dengan luka mencurigakan yang awalnya diduga akibat kecelakaan lalu lintas.
“Anggota Polsek Umbulharjo mendatangi RS Pratama untuk mengecek korban, dalam pengecekan tersebut di ruang IGD terdapat pasien dengan luka sayatan sajam diduga korban perkelahian,” kata Anton.
Dari keterangan saksi, diketahui para pelaku dan korban saling mengenal dan berada dalam satu kelompok. Dalam duel tersebut, masing-masing pihak bahkan telah membawa senjata tajam.
“RA membawa dua celurit dan AP membawa satu celurit kemudian sewaktu terjadi bentrokan yang mengalami luka itu RA dan AP,” ujarnya.
Polisi juga mengamankan barang bukti berupa dua senjata tajam yang digunakan dalam peristiwa tersebut.
“Dimungkinkan antara korban dan pelaku sama-sama membawa Sajam namun korban kalah jumlah masa dengan pelaku, kejadian ini juga bukan karena papasan dan saling ejek namun antara kedua kelompok sudah saling janjian ketemuan untuk melaksanakan fagter atau gladiatoran,” ujar Anton Budi.
Saat ini, kasus tersebut masih dalam penanganan penyidik untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat, sekaligus mendalami motif dan jaringan geng pelajar yang diduga menjadi pemicu utama aksi kekerasan tersebut. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

13 hours ago
6

















































