Kamera Mendadak Naik saat Tarian di Atas Perahu Dimulai

3 hours ago 2

Dari Kunjungan Puluhan Wisatawan Luar Negeri ke Kampung-kampung Pinggiran Danau Sentani

Di tengah arus modernisasi yang sulit dibendung, jatidiri berupa budaya dan kearifan lokal adalah seragam yang tak boleh dilepas oleh masing-masing suku. Identitas itulah yang seharusnya menjadi kebanggaan dan terus dilestarikan. Kampung Yobeh mencoba mempertahankan itu seraya menunjukkan ke dunia.

Laporan:Yohana_Sentani

Suasana Kampung Yobeh Distrik Sentani Kota pada Rabu (15/4) kemarin sedikit berbeda. Puluhan pria tambun berkulit terang dan wanita berkacamata gelap tiba-tiba memadati pinggiran Danau Sentani. Angin berhembus lembut, membawa aroma danau Sentani yang khas namun, suasana kampung ketika itu tak seperti biasanya.

Ada semangat yang terasa berbeda, seolah seluruh warga tengah menanti sesuatu yang besar. Di tepi tanjung hingga dermaga, janur-janur kelapa kuning terpasang rapi, melambai-lambai mengikuti arah angin. Sekilas, orang luar mungkin mengira kampung itu tengah bersiap menggelar pesta pernikahan.

Tapi hari itu bukan tentang pernikahan. Hari itu adalah tentang bentuk penghormatan yang disajikan mamsyarakat kampung kepada tamu yang datang dari jauh. Dari negeri yang bahkan belum pernah sebagian warga bayangkan sebelumnya. Puluhan masyarakat Kampung Yobeh bersiap sejak pagi hari. Mereka mengenakan pakaian adat yang sarat makna. Laki-laki tampil gagah dengan mahkota burung Cenderawasih yang menghiasi kepala mereka, simbol kebanggaan dan keagungan.

Tubuh mereka dihiasi manik-manik, rok rumbai, gelang, dan lukisan wajah yang menggambarkan identitas adat. Di tangan mereka tergenggam tifa, alat musik tradisional yang menjadi jantung dari setiap tarian. Di sisi lain, para perempuan berdiri anggun sambil memegang pucuk bunga. Mereka mengenakan hiasan serupa, manik-manik berwarna-warni dan rok rumbai yang bergerak mengikuti langkah kaki. Wajah mereka memancarkan semangat, meski waktu terus berjalan dan tamu yang ditunggu belum juga tiba.

Dari Kunjungan Puluhan Wisatawan Luar Negeri ke Kampung-kampung Pinggiran Danau Sentani

Di tengah arus modernisasi yang sulit dibendung, jatidiri berupa budaya dan kearifan lokal adalah seragam yang tak boleh dilepas oleh masing-masing suku. Identitas itulah yang seharusnya menjadi kebanggaan dan terus dilestarikan. Kampung Yobeh mencoba mempertahankan itu seraya menunjukkan ke dunia.

Laporan:Yohana_Sentani

Suasana Kampung Yobeh Distrik Sentani Kota pada Rabu (15/4) kemarin sedikit berbeda. Puluhan pria tambun berkulit terang dan wanita berkacamata gelap tiba-tiba memadati pinggiran Danau Sentani. Angin berhembus lembut, membawa aroma danau Sentani yang khas namun, suasana kampung ketika itu tak seperti biasanya.

Ada semangat yang terasa berbeda, seolah seluruh warga tengah menanti sesuatu yang besar. Di tepi tanjung hingga dermaga, janur-janur kelapa kuning terpasang rapi, melambai-lambai mengikuti arah angin. Sekilas, orang luar mungkin mengira kampung itu tengah bersiap menggelar pesta pernikahan.

Tapi hari itu bukan tentang pernikahan. Hari itu adalah tentang bentuk penghormatan yang disajikan mamsyarakat kampung kepada tamu yang datang dari jauh. Dari negeri yang bahkan belum pernah sebagian warga bayangkan sebelumnya. Puluhan masyarakat Kampung Yobeh bersiap sejak pagi hari. Mereka mengenakan pakaian adat yang sarat makna. Laki-laki tampil gagah dengan mahkota burung Cenderawasih yang menghiasi kepala mereka, simbol kebanggaan dan keagungan.

Tubuh mereka dihiasi manik-manik, rok rumbai, gelang, dan lukisan wajah yang menggambarkan identitas adat. Di tangan mereka tergenggam tifa, alat musik tradisional yang menjadi jantung dari setiap tarian. Di sisi lain, para perempuan berdiri anggun sambil memegang pucuk bunga. Mereka mengenakan hiasan serupa, manik-manik berwarna-warni dan rok rumbai yang bergerak mengikuti langkah kaki. Wajah mereka memancarkan semangat, meski waktu terus berjalan dan tamu yang ditunggu belum juga tiba.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|