
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dalam setiap pertunjukan wayang kulit , ada satu elemen sederhana yang sering luput dari perhatian penonton, yakni batang pohon pisang atau yang biasa disebut gedebog.
Batang pisang tersebut dipajang memanjang dari ujung sisi kiri hingga ujung nkanan Sang Dalang. Masing-masing sisi gedebog digunakan untuk menancapkan barisan wayang kelompok Pendawa dan Kurawa.
Sementara gedebog bagian tengah digunakan untuk menancapkan wayang yang sedang dimainkan oleh Sang Dalang. Dalang akan menancapkan gagang wayang pada batang pisang ini sepanjang pementasan.
Walau tampak sepele, keberadaan gedebog bukan hanya soal teknis menancapkan semata. Namun keberadaannya memiliki makna filosofis yang mendalam.
Secara praktis, batang pisang dipilih karena teksturnya lembut, namun cukup kokoh untuk menahan puluhan wayang yang dimainkan semalam suntuk. Serat batangnya yang basah membuatnya lentur dan mudah ditembus, sehingga memudahkan dalang mencabut maupun menancapkan kembali wayang dengan cepat. Selain itu, batang pisang mudah didapat di pedesaan Jawa, murah, dan selalu tersedia. Inilah alasan mengapa sejak dulu hingga kini, gedebog menjadi bagian tak tergantikan dari panggung wayang.
Namun, fungsi gedebog tak berhenti pada aspek teknis semata. Para ahli budaya menegaskan, gedebog adalah simbol penting dalam kosmologi pewayangan. Dalam tradisi pedalangan, kelir atau layar putih yang membentang melambangkan langit, lampu blencong yang menyinari layar diibaratkan sebagai matahari, dan batang pisang yang terhampar di depan dalang merupakan perlambang bumi. Di atas “bumi” itulah wayang—simbol manusia dan segala peran kehidupannya—ditancapkan, bergerak, dan menjalani takdir.
“Gedebog pisang dalam pementasan wayang melambangkan bumi sebagai panggung kehidupan. Tanpa gedebog, wayang tidak bisa dimainkan,” ujar budayawan Ki Damar sebagaimana dikutip Radar Madiun (2023). Pandangan serupa juga disampaikan penulis budaya Ari Indarto dalam tulisannya di Kompasiana (2023), bahwa gedebog adalah pijakan dasar; tanpa itu, tokoh wayang tak berdaya, sama halnya dengan manusia yang kehilangan fondasi dalam menjalani hidupnya.
Kajian akademis pun turut memperkuat makna ini. Dalam makalah berjudul Pengawetan Gedebog sebagai Perangkat Pertunjukan Wayang Kulit Purwa yang diterbitkan di jurnal Lakon (Vol. XXI No. 1, Juli 2024), para peneliti dari ISI Surakarta menyebutkan bahwa gedebog bukan hanya perangkat teknis, melainkan bagian integral dari simbol bumi dalam kosmologi pewayangan.
Menariknya, penelitian itu juga menyoroti persoalan praktis: gedebog mudah layu dan hanya bertahan beberapa hari. Karena itu, diperlukan inovasi pengawetan sederhana agar batang pisang bisa digunakan lebih lama, terutama dalam pendidikan pedalangan.
Sementara itu, Ensiklopedia Wayang (WEPa, 2018) mencatat bahwa penggunaan gedebog dalam wayang merupakan representasi dari harmoni semesta. Layar, lampu, dan batang pisang membentuk sebuah miniatur jagat raya yang memungkinkan penonton merenungi perjalanan hidup manusia.
Dengan demikian, gedebog pisang sejatinya bukan sekadar alas tancapan wayang. Ia adalah bumi dalam panggung semesta wayang, simbol kehidupan yang menampung segala peran dan lakon. Kesederhanaannya justru menyimpan kedalaman filosofi: manusia hidup, berpijak, dan kelak kembali ke bumi. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.