WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Siapa sangka, deretan desa maupun dusun di Kecamatan Baturetno Wonogiri yang kini tampak tenang seperti Balepanjang, Gambiranom, Ngepoh, Siraman hingga Padangan ternyata disebut-sebut menyimpan jejak sejarah yang berkaitan langsung dengan perjuangan sengit Raden Mas Said melawan Belanda.
Cerita ini hidup kuat di tengah masyarakat terutama Dusun Turus, Desa Balepanjang, Kecamatan Baturetno, maupun wilayah lain di luar desa itu. Bukan sekadar legenda biasa, tapi rangkaian kisah yang menjelaskan asal-usul nama desa sekaligus strategi perang gerilya yang cerdik dan penuh pengorbanan.
Semua bermula saat Belanda memancing konflik dengan rencana membangun jalan yang melintasi makam leluhur Raden Mas Said. Penolakan keras membuatnya diburu. Dalam kondisi terdesak, Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa melarikan diri ke selatan bersama pasukannya—dengan satu taktik tak terduga: menyamar sebagai rombongan pelayat, bahkan dirinya dimasukkan ke dalam keranda.
Namun Belanda bukan lawan yang mudah dikelabui. Pengejaran terus berlangsung hingga pecah pertempuran demi pertempuran. Dalam situasi terdesak itulah muncul sosok penting yang jarang disorot: Raden Ayu Sawiyah.
Ia bukan prajurit biasa. Tugasnya sebagai juru masak justru menjadi kunci bertahannya pasukan.
Saat rombongan kelelahan dan kelaparan setelah berhari-hari berjalan, mereka menemukan sebuah tempat luas di tepi Bengawan Solo. Airnya jernih, suasananya menenangkan. Tempat itu kini dikenal sebagai Balepanjang, dan sumber airnya dinamai Sendang Panguripan—yang dipercaya mengembalikan tenaga para prajurit.
Di sinilah keajaiban terjadi.
Dengan hanya sejimpit beras yang dimasak dalam kendhil sederhana, Raden Ayu Sawiyah mampu memberi makan seluruh pasukan. Berulang kali. Tanpa pernah habis.
• ✓ Sejimpit beras : cukup untuk semua prajurit
• ✓ Kondisi lapar ekstrem : berubah jadi semangat tempur
• ✓ Strategi gerilya : kembali dijalankan dengan penuh tenaga
Fenomena ini membuatnya dikenal sebagai “Mbah Kendhil”—sosok yang tak hanya memasak, tapi menjaga nyawa pasukan.
Perjalanan pun berlanjut dan meninggalkan jejak nama-nama desa maupun dusun yang masih ada hingga kini:
• ✓ Ngepoh : dari suara dengkuran (pah poh atau poh) prajurit yang kelelahan
• ✓ Siraman : tempat mandi dan ibadah di sendang beringin
• ✓ Padangan : lokasi pertempuran saat fajar (meh padhang)
• ✓ Gambiranom : perayaan kemenangan pasukan Pangeran Sambernyawa melawan Belanda, perayaan dilakukan para pemuda (anom)
Setiap nama bukan kebetulan—semuanya berasal dari momen dalam perjalanan panjang dan perlawanan pasukan Raden Mas Said.
Di tengah tekanan, strategi perang gerilya menjadi kunci. Menyamar, berpencar, menyerang di waktu tepat—hingga akhirnya pasukan Belanda berhasil dipukul mundur, terutama di wilayah Nglaroh, Selogiri.
Setelah situasi aman, sebagian pasukan kembali ke Surakarta. Namun tidak dengan Raden Ayu Sawiyah. Ia memilih menetap di Balepanjang.
Hidupnya dihabiskan untuk membantu warga yang kelaparan, melanjutkan perannya sebagai penolong tanpa pamrih. Hingga akhir hayatnya, ia dimakamkan di Dusun Turus—dan kini makamnya masih sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.
Cerita ini memang berkembang dari tutur lisan dan belum sepenuhnya terverifikasi secara akademis. Tapi jejaknya ada: dari nama desa, lokasi sendang, hingga makam yang masih terjaga.
Kemungkinan juga masih banyak cerit versi lainnya. Yang pasti kearifan lokal masyarakat setempat terus tumbuh dipelihara di tengah perkembangan zaman.
Terakhir, kisah ini bukan sekadar cerita. Ini adalah potongan sejarah lokal yang menyatu dengan identitas Wonogiri—tentang strategi perang, ketahanan hidup, dan sosok perempuan yang diam-diam jadi penopang perjuangan. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

6 hours ago
5


















































