Korban Keracunan MBG di Sragen Tembus 365 Orang, DPRD Panggil Kepala Dapur SPPG Mitra Mandiri 1 Gemolong

2 weeks ago 14
Penampakan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) biang keracunan massal 365 orang (Kiri) dan salah satu siswi SMK Sukowati Gemolong jadi korban keracunan massal MBG (Kanan) saat dirawat di salah satu rumah sakit setempat || Huri Yanto

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimpa ratusan siswa di wilayah Gemolong, Kabupaten Sragen pada beberapa hari yang lalu berbutut panjang.
Menyikapi ratusan orang jadi korban keracunan menu dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong-1 di jalan raya Gemolong – Sragen Km 2, Klentang 008 Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dengan menu nasi kuning, telur suwir, orek tempe, selada timun, apel, dan susu.

Melalui Komisi IV DPRD Sragen menggelar rapat untuk mengusut kasus keracunan massal dengan data terbaru total ada 365 siswa dari 10 sekolah mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dari program itu.

Dalam pertemuan ini, DPRD Sragen memanggil SPPG Mitra Mandiri Gemolong, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sragen. Pertemuan ini berfokus pada pencarian akar masalah.

Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto, memimpin rapat dengan nada tegas. Ia meminta hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan, sembari menyoroti prosedur penyimpanan bahan makanan di dapur SPPG.

“Iya kami belum bisa menyalahkan siapa pun sebelum hasil laboratorium keluar. Tapi, kami perlu tahu apakah ada kelalaian dalam pengelolaan makanan,” kata Sugiyamto pada Kamis (14/8/2025).

Dia menegaskan Komisi IV berencana melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur SPPG di Gemolong untuk memeriksa langsung proses pengolahan dan penyimpanan makanan.

DPRD Sragen meminta puskesmas setempat untuk memperketat pengawasan terhadap SPPG, khususnya memastikan makanan yang disajikan aman dan sehat untuk anak-anak.

Hingga hasil laboratorium keluar, misteri di balik keracunan massal ini masih menunggu jawaban pasti. Sidak yang direncanakan DPRD diharapkan dapat mengungkap fakta baru, demi mencegah peristiwa serupa terulang di masa depan.

Lantas Pujono Elli Bayu Effendi, Sekretaris Komisi IV DPRD Sragen, menyinggung kejanggalan dalam kasus ini. Dari 3.800 porsi makanan yang disajikan serentak pada pukul 00.00 untuk menu pagi, hanya 251 anak yang awalnya dilaporkan mengalami gejala keracunan. Angka ini kemudian bertambah menjadi 365 siswa setelah laporan terbaru dari 10 sekolah.

“Apa mungkin ada pengaruh faktor eksternal, seperti angin atau kontaminasi lain, yang membuat makanan bermasalah? Kami menduga ada bahan makanan yang tidak layak disajikan,” kata Pujono.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, Udayanti, Proborini menjelaskan bahwa penambahan jumlah korban terjadi karena beberapa sekolah baru melapor. Ia menegaskan bahwa puskesmas setempat telah disiagakan 24 jam untuk menangani kasus ini.

“Daya tahan tubuh tiap individu juga memengaruhi. Kami sedang menunggu hasil uji laboratorium, yang membutuhkan waktu 14 hari untuk penanaman bakteri,” ujarnya.

Udayanti menambahkan bahwa tim dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Kesehatan juga akan turun ke lokasi untuk investigasi lebih lanjut.

Di sisi lain, Kepala Dapur SPPG Gemolong, Aditya Ari Wibowo, yang merupakan lulusan ahli gizi, membela prosedur pengelolaan makanan di dapurnya. Menurutnya, semua proses telah sesuai dengan petunjuk teknis (juknis), mulai dari komposisi makanan yang mencakup karbohidrat, protein nabati dan hewani, sayuran, hingga buah.

“Kami menyimpan dua sampel makanan selama 48 jam sesuai aturan. Bahan makanan disimpan dengan pengaturan kelembaban, menggunakan freezer dan chiller, serta diawasi oleh ahli gizi dari tahap bahan baku hingga penyajian,” tegas Aditya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Sragen, Sukisno, menyebutkan bahwa sekolah telah menunjuk tester untuk mencicipi makanan sebelum disajikan. Namun, hal ini tidak cukup mencegah insiden keracunan massal tersebut.

“Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keamanan pangan di sekolah,” ujarnya.

Terpisah pada JOGLOSOMARNEWS.COM Samino warga Desa Ngandul, Sumberlawang salah satu orang tua siswi SMK Sukowati anaknya juga ikut menjadi korban keracunan massal program MBG di Gemolong sangat menyayangkan kejadian tersebut.

“Mira anak saya kemarin ikut makan di sekolah program MBG itu, pulang sekolah terus muntah muntah diare kepala pusing, badan panas dan harus masuk rumah sakit,” ujarnya.

Huri Yanto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|