Penulis novel Menghadang Kubilai Khan, AJ Susmana (kiri), menjawab pertanyaan peserta dalam bedah buku yang berlangsung dinamis di Kantor Dispersip Kota Solo, Sabtu (25/7/2026) | Foto: Hamdani MWSOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Diskusi mengenai sejarah Nusantara ternyata masih mampu menyedot perhatian publik. Hal itu tampak dalam bedah novel Menghadang Kubilai Khan karya AJ Susmana yang digelar di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Solo, Sabtu (25/7/2026).
Sekitar 70-an peserta dari berbagai latar belakang memadati ruangan, bahkan ada yang datang khusus dari Madiun demi mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya terhadap sejarah yang diangkat dalam novel tersebut.
Halim HD (kiri), Dr. Sawitri dan penulis novel AJ Susmana (kanan) dalam sebuah perbincangan sebelum acara bedah novel Menghadang Kubilai Khan di Kantor Dispersip Kota Solo, Sabtu (25/7/2026) dimulai | Foto: Hamdani MWBedah buku yang terselenggara atas kerja sama Jaringan Kerja Kebudayaan (Jaker) dan Imanda Sarva Indonesia itu dipandu Ketua Umum Imanda Sarva Indonesia, Dr. Jarot Kristianto. Hadir sebagai pembedah dosen Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET) Sukoharjo, Dr. Sawitri, serta networker kebudayaan, Halim HD.
Peserta yang hadir berasal dari kalangan mahasiswa, pegiat komunitas, akademisi, penulis, hingga pemerhati sejarah dan kebudayaan. Dua anggota Jaker asal Madiun, salah satunya Marsiswo, bahkan sengaja datang ke Solo untuk melanjutkan diskusi yang sebelumnya masih menyisakan tanda tanya baginya.
Ketua Dewan Pembina Imanda Sarva Indonesia, Prof. Bani Sudardi, dalam sambutannya sempat memperkenalkan Imanda sebagai organisasi yang menaungi keberagaman pemeluk agama dan penghayat kepercayaan, mulai Buddha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen hingga penghayat kepercayaan.
Ia mengatakan Imanda dibangun dengan semangat toleransi, saling ngemong, tepa selira, dan menjunjung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Menurut Prof. Bani, karya sastra terutama novel sejarah, bukan sekadar hiburan, melainkan juga menjadi media untuk menanamkan nilai kebangsaan.
“Fiksi memiliki tata nilai untuk membangun Indonesia yang besar,” ujarnya.
Dalam sambutannya, ia mencontohkan keberanian Raja Kertanegara ketika menolak tunduk kepada Kubilai Khan. Menurutnya, Kertanegara bahkan berani memotong telinga utusan Kubilai Khan sebagai simbol penolakan terhadap upaya penaklukan tersebut. Pada akhirnya, pasukan Mongol pun berhasil dipukul mundur dari tanah Jawa.
Networker kebudayaan, Halim HD (depan pegang mic) memberikan pandangannya sebagai pembedah dalam bedah novel Menghadang Kubilai Khan di Kantor Dispersip Kota Solo, Sabtu (25/7/2026) | Foto: Hamdani MWSementara itu, dalam paparannya, Halim HD menilai novel Menghadang Kubilai Khan merupakan karya penting dalam perkembangan sejarah Indonesia. Menurutnya, novel memiliki kemampuan menghadirkan ruang refleksi sehingga pembaca tidak mudah menghakimi seseorang hanya dari satu sudut pandang.
“Novel, cerpen, dan puisi menyediakan ruang bagi manusia untuk menjadi lebih bijak,” katanya.
Ia pun mengapresiasi keberanian AJ Susmana yang mengangkat tema sejarah yang relatif kompleks. Namun, ia juga mengakui kepadatan materi dalam novel membuat pembaca umum membutuhkan konsentrasi lebih untuk memahami seluruh gagasan yang disampaikan.
Halim juga menyinggung berkembangnya penulisan fiksi sejarah dalam 10 hingga 20 tahun terakhir. Kemajuan teknologi informasi, menurutnya, memudahkan penulis menggali berbagai sumber sejarah untuk kemudian diolah menjadi karya sastra.
Adapun Dr. Sawitri memandang novel tersebut memiliki keterkaitan erat dengan semangat yang diusung Imanda Sarva Indonesia. Ia menilai ruh nasionalisme menjadi benang merah yang menghubungkan organisasi tersebut dengan isi novel.
Menurutnya, cerita dibangun melalui konflik yang kuat dengan menampilkan ambisi besar Kubilai Khan yang berhadapan dengan keberanian masyarakat Nusantara mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Diskusi semakin hangat saat memasuki sesi tanya jawab. Ketua Satupena Sukoharjo, Daniel Agus Maryanto, mempertanyakan perspektif baru yang ditawarkan novel tersebut dibandingkan narasi sejarah yang telah berkembang selama ini.
Ketua Umum Komunitas SeKata, Didik Kartika, mengangkat pertanyaan mengenai bagaimana AJ Susmana menjaga keseimbangan antara fakta sejarah dan unsur imajinasi dalam proses kreatif penulisan novel. Sejumlah pertanyaan juga disampaikan jurnalis Solopos, Ichwan Prasetyo.
Perhatian peserta juga tertuju pada pertanyaan Marsiswo yang datang jauh-jauh dari Madiun. Ia mengaku sengaja menghadiri bedah buku tersebut untuk memperoleh penjelasan lebih mendalam mengenai asal-usul bendera Merah Putih yang sempat menjadi pembahasan dalam diskusi sebelumnya di Madiun.
Marsiswo menyoroti adanya unsur merah putih pada panji Jayakatwang hingga lambang Majapahit yang menurutnya memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya Sang Saka Merah Putih.
Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, AJ Susmana menjelaskan bahwa Nusantara dsan Vietnam adalah dua kawasan yang mampu menghadang ekspansi Mongol. Melalui novel ini, ia berupaya mengajak pembaca melihat kembali dinamika Nusantara pada abad ke-13 sebagai perspektif baru dalam memahami perjalanan sejarah bangsa.
Menurutnya, periode tersebut juga memperlihatkan wajah Nusantara yang menjunjung toleransi. Setelah perubahan politik pada masa Ken Arok, berbagai keyakinan dapat hidup berdampingan. Ruh toleransi itu pun menurutnya, hidup juga di pihak Kubilai Khan, dengan mencontohkan bahwa ibu dari Kubilai Khan diketahui memeluk agama Kristen.
Peserta, narasumber, dan panitia berfoto bersama usai bedah novel Menghadang Kubilai Khan karya AJ Susmana di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Solo, Sabtu (25/7/2026) | Foto: Hamdani MWMenjawab pertanyaan mengenai Raden Wijaya, AJ Susmana menegaskan tokoh tersebut bukan sekadar beruntung saat mengalahkan Kubilai Khan.
“Raden Wijaya adalah seorang jagoan. Karena dia menggunakan berbagai strategi untuk mencapai kemenangan,” ujarnya.
Ia juga menilai Kertanegara merupakan pemimpin yang paling memahami konsep Nusantara. Sementara Jayakatwang dinilainya memiliki nasionalisme tinggi, tetapi berpandangan sempit sehingga berpotensi memicu perpecahan apabila terus memegang kekuasaan.
Antusiasme peserta membuat sesi diskusi berlangsung lebih lama dari jadwal semula. Hingga menjelang pukul 12.00 WIB, pertanyaan masih terus mengalir sehingga moderator harus menutup diskusi karena keterbatasan waktu. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama narasumber dan seluruh peserta. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

9 hours ago
3

















































