WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kabut tebal masih menggantung di kawasan lereng Purwantoro, Wonogiri, ketika sejumlah aparat bersenjata mulai menyusuri jalan setapak menuju Petilasan Eyang Gunung Sari, Kamis dini hari 7 Mei 2026. Tempat yang biasanya sunyi dan hanya didatangi peziarah itu mendadak berubah tegang saat polisi melakukan operasi senyap memburu seorang buronan kasus dugaan pencabulan santriwati.
Tak banyak suara terdengar selain langkah cepat aparat dan sorot lampu senter yang memecah gelap menjelang subuh. Di balik suasana dingin pegunungan itulah polisi akhirnya menemukan Kyai Ashari, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Ndholo Kusumo, Pati, yang selama beberapa hari terakhir menghilang setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus kekerasan seksual terhadap santriwati.
Momen penangkapan itu langsung menyita perhatian publik setelah foto-fotonya tersebar luas di media sosial. Ashari terlihat mengenakan baju batik yang dibalut jaket hitam, hanya memakai celana kolor, dengan kedua tangan terborgol saat digiring keluar dari lokasi persembunyiannya. Wajahnya tampak tertunduk ketika aparat membawa tersangka turun dari kawasan petilasan di Wonogiri yang notabene tinggi kasus cabulnya tersebut.
Pelarian sang pengasuh pesantren akhirnya berakhir setelah polisi melakukan pencarian intensif bersama tim Jatanras Polda Jawa Tengah. Sebelumnya, tersangka diketahui dua kali mangkir dari panggilan pemeriksaan penyidik meski status hukumnya sudah resmi naik menjadi tersangka sejak 28 April 2026.
Kasat Reskrim Polresta Pati, Dika Hadiyan Widya Wiratama, membenarkan langsung penangkapan tersebut.
“Sudah alhamdulillah tertangkap di Petilasan Eyang Gunung Sari Purwantoro Wonogiri,” ujar Dika Hadiyan.
Penangkapan paksa dilakukan karena tersangka diduga sengaja melarikan diri dari rumahnya di Pati untuk menghindari pemeriksaan. Padahal sebelumnya Ashari disebut sempat bersikap kooperatif saat awal proses penyelidikan berjalan. Namun tekanan publik yang terus membesar membuat keberadaannya menjadi buruan aparat.
Kasus yang menyeret nama pengasuh ponpes tersebut sebenarnya sudah dilaporkan sejak pertengahan 2024. Akan tetapi, penanganannya sempat berjalan lambat hingga memicu kekecewaan korban dan keluarga. Pada September 2025, korban bahkan kembali mendatangi polisi untuk mempertanyakan perkembangan laporan yang belum menunjukkan hasil berarti.
Situasi mulai memanas setelah masyarakat mengetahui tersangka belum juga ditahan meski telah berstatus tersangka. Kemarahan warga akhirnya meledak pada Sabtu, 2 Mei 2026 lalu. Massa mendatangi kompleks Ponpes Ndholo Kusumo dan menuntut aparat segera menangkap Ashari.
Desakan publik yang semakin kuat membuat Polda Jawa Tengah ikut turun tangan membantu pencarian. Tim gabungan kemudian bergerak memburu tersangka hingga akhirnya jejak Ashari terlacak di wilayah Purwantoro, Wonogiri.
Kasus dugaan pencabulan ini disebut berlangsung selama bertahun-tahun. Salah satu korban mengaku mengalami kekerasan seksual sejak duduk di bangku kelas IX SMP hingga kelas XII Madrasah Aliyah, dalam rentang tahun 2020 sampai 2024.
Keberanian korban untuk berbicara muncul setelah mereka keluar dari pondok. Dari situlah satu per satu dugaan kekerasan seksual mulai terungkap. Jumlah korban pun terus bertambah hingga disebut mencapai sekitar 50 santriwati.
Kini, penangkapan di tengah sunyinya kawasan petilasan itu menjadi babak baru dalam kasus yang mengguncang dunia pendidikan keagamaan di Jawa Tengah. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

5 hours ago
3


















































