Laut Papua Dikepung Ancaman Serius

1 day ago 9

JAYAPURA – Memperingati Hari Kelautan Sedunia atau World Oceans Day (WOD) yang jatuh setiap, 8 Juni, menjadi momentum untuk merefleksikan diri bagi semua orang mengenai kondisi wilayah pesisir dan laut terutama di Papua yang kini tengah berada di persimpangan jalan. Di balik predikatnya sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (megabiodiversity), laut Papua menyimpan paradoks besar, potensinya belum dieksplorasi secara optimal, namun kerusakannya terus berjalan secara masif sepanjang waktu.

Dosen Ilmu Kelautan dan Perikanan FMIPA Universitas Cenderawasih sekaligus Ketua Pusat Studi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PS2KP) Universitas Cenderawasih, Dr. Yunus Pajanjan Paulangan, S.Kel., M.Si, menegaskan bahwa ekosistem laut Papua saat ini dikepung oleh berbagai ancaman serius, mulai dari hulu hingga ke hilir.

Dr. Yunus P. Paulangan (foto:Mboik/Cepos)

Menurutnya aktivitas manusia di daratan menjadi salah satu penyumbang terbesar rusaknya ekosistem laut. Di kota-kota pesisir seperti Kota Jayapura, perilaku membuang sampah langsung ke laut masih menjadi persoalan utama yang sangat serius. Tidak hanya itu, sedimentasi dari daratan juga terus berlangsung, memicu kerusakan terumbu karang dan mengganggu biota perairan.

​Ancaman tersebut sebutnya diperparah oleh dari sampah plastik dan limbah domestik yang mencemari perairan, tekanan aktivitas pembangunan di wilayah pesisir, praktik penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan trawl (pukat harimau), bahan peledak (bom), serta pemakaian bius atau racun hingga alih fungsi lahan dan ekstraksi mangrove berlebihan, yang dampaknya sangat terlihat di kawasan lindung seperti Teluk Yotefa.

JAYAPURA – Memperingati Hari Kelautan Sedunia atau World Oceans Day (WOD) yang jatuh setiap, 8 Juni, menjadi momentum untuk merefleksikan diri bagi semua orang mengenai kondisi wilayah pesisir dan laut terutama di Papua yang kini tengah berada di persimpangan jalan. Di balik predikatnya sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (megabiodiversity), laut Papua menyimpan paradoks besar, potensinya belum dieksplorasi secara optimal, namun kerusakannya terus berjalan secara masif sepanjang waktu.

Dosen Ilmu Kelautan dan Perikanan FMIPA Universitas Cenderawasih sekaligus Ketua Pusat Studi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PS2KP) Universitas Cenderawasih, Dr. Yunus Pajanjan Paulangan, S.Kel., M.Si, menegaskan bahwa ekosistem laut Papua saat ini dikepung oleh berbagai ancaman serius, mulai dari hulu hingga ke hilir.

Dr. Yunus P. Paulangan (foto:Mboik/Cepos)

Menurutnya aktivitas manusia di daratan menjadi salah satu penyumbang terbesar rusaknya ekosistem laut. Di kota-kota pesisir seperti Kota Jayapura, perilaku membuang sampah langsung ke laut masih menjadi persoalan utama yang sangat serius. Tidak hanya itu, sedimentasi dari daratan juga terus berlangsung, memicu kerusakan terumbu karang dan mengganggu biota perairan.

​Ancaman tersebut sebutnya diperparah oleh dari sampah plastik dan limbah domestik yang mencemari perairan, tekanan aktivitas pembangunan di wilayah pesisir, praktik penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan trawl (pukat harimau), bahan peledak (bom), serta pemakaian bius atau racun hingga alih fungsi lahan dan ekstraksi mangrove berlebihan, yang dampaknya sangat terlihat di kawasan lindung seperti Teluk Yotefa.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|