AS Hentikan Sementara Serangan ke Iran, Stok Amunisi Dilaporkan Sudah Menipis

2 hours ago 5

JAKARTA – Amerika Serikat untuk sementara menghentikan serangan udara ke Iran setelah hampir lima bulan konflik berlangsung. Keputusan ini memicu spekulasi bahwa memang benar Washington mulai menghadapi keterbatasan stok amunisi pertahanan. Sepanjang Minggu (26/7), Iran kembali melewati malam tanpa serangan udara dari AS. Di saat yang sama, tidak ada laporan mengenai serangan balasan Iran terhadap negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

Jeda operasi militer ini muncul ketika perang yang semula diperkirakan hanya berlangsung beberapa pekan justru memasuki bulan kelima dan semakin meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela (midterm) Amerika Serikat pada November mendatang. Sejumlah media Amerika melaporkan penghentian sementara operasi tersebut bukan semata-mata untuk membuka ruang negosiasi, tetapi juga dipengaruhi oleh menipisnya persediaan amunisi penting militer AS.

CNN, mengutip seorang sumber Pentagon yang tidak disebutkan namanya, menyebut operasi militer terhadap Iran saat ini ‘ditahan sementara’ meski Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan pada tingkat yang ‘jauh lebih tinggi’. Laporan The New York Times juga menyebut rencana peningkatan operasi militer ditunda sebagian karena kekhawatiran terhadap menyusutnya stok rudal pencegat Patriot dan sejumlah sistem pertahanan lainnya.

Selain persoalan logistik, Washington juga mempertimbangkan risiko perang yang semakin meluas di Timur Tengah, memburuknya hubungan dengan negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS, hingga dampaknya terhadap perekonomian global. Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat lalu, Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan sama-sama mengingatkan Trump mengenai konsekuensi apabila konflik terus diperluas.

Menurut CNN, Caine menyampaikan bahwa militer mampu menjalankan seluruh opsi yang tersedia, namun tetap mengingatkan adanya risiko besar dari setiap eskalasi yang dipilih.Meski menghentikan sementara operasi militer, Trump menegaskan belum mengambil keputusan final mengenai kelanjutan serangan terhadap Iran.

“Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius,” kata Trump kepada wartawan.

Trump juga memperingatkan Iran harus memilih antara mencapai kesepakatan atau menghadapi serangan dengan intensitas yang ‘much higher level’ atau jauh lebih besar. Sementara itu, Axios melaporkan Pentagon sebenarnya telah menyiapkan rencana serangan untuk malam ke-14 secara berturut-turut. Namun Trump memilih tidak memberikan otorisasi dan lebih memprioritaskan peluang pembicaraan diplomatik.

Di sisi lain, Iran memperingatkan bahwa penghentian serangan bukan berarti ketegangan mereda. Juru bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akraminia mengatakan konflik bisa meluas apabila Washington kembali melancarkan serangan udara.

“Saya percaya bahwa jika Amerika sekali lagi jatuh cinta pada penipuan Zionis, atau bergerak sejalan dengan mereka, dan bersikeras untuk melanjutkan perang, terutama melalui serangan udara, secara geografis ini akan berkembang lebih jauh,” ujar Akraminia kepada televisi pemerintah Iran.

Pernyataan itu disampaikan menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington, yang diperkirakan akan membahas perkembangan konflik Iran dan keamanan kawasan. Meski serangan langsung AS ke Iran dihentikan sementara, konflik di Timur Tengah justru terus meluas. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu pada Sabtu, sehari setelah Arab Saudi membombardir sejumlah target Houthi.

Militer Yunani juga mengonfirmasi sistem pertahanan udara yang dioperasikan personelnya di Arab Saudi berhasil menembak jatuh dua rudal balistik dan satu drone di wilayah Yanbu. Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menghentikan empat kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz dalam kurun 24 jam terakhir. Jalur pelayaran strategis tersebut masih menjadi titik paling rawan yang berpotensi memicu bentrokan langsung antara Iran dan Amerika Serikat.(*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

JAKARTA – Amerika Serikat untuk sementara menghentikan serangan udara ke Iran setelah hampir lima bulan konflik berlangsung. Keputusan ini memicu spekulasi bahwa memang benar Washington mulai menghadapi keterbatasan stok amunisi pertahanan. Sepanjang Minggu (26/7), Iran kembali melewati malam tanpa serangan udara dari AS. Di saat yang sama, tidak ada laporan mengenai serangan balasan Iran terhadap negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

Jeda operasi militer ini muncul ketika perang yang semula diperkirakan hanya berlangsung beberapa pekan justru memasuki bulan kelima dan semakin meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela (midterm) Amerika Serikat pada November mendatang. Sejumlah media Amerika melaporkan penghentian sementara operasi tersebut bukan semata-mata untuk membuka ruang negosiasi, tetapi juga dipengaruhi oleh menipisnya persediaan amunisi penting militer AS.

CNN, mengutip seorang sumber Pentagon yang tidak disebutkan namanya, menyebut operasi militer terhadap Iran saat ini ‘ditahan sementara’ meski Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan pada tingkat yang ‘jauh lebih tinggi’. Laporan The New York Times juga menyebut rencana peningkatan operasi militer ditunda sebagian karena kekhawatiran terhadap menyusutnya stok rudal pencegat Patriot dan sejumlah sistem pertahanan lainnya.

Selain persoalan logistik, Washington juga mempertimbangkan risiko perang yang semakin meluas di Timur Tengah, memburuknya hubungan dengan negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS, hingga dampaknya terhadap perekonomian global. Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat lalu, Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan sama-sama mengingatkan Trump mengenai konsekuensi apabila konflik terus diperluas.

Menurut CNN, Caine menyampaikan bahwa militer mampu menjalankan seluruh opsi yang tersedia, namun tetap mengingatkan adanya risiko besar dari setiap eskalasi yang dipilih.Meski menghentikan sementara operasi militer, Trump menegaskan belum mengambil keputusan final mengenai kelanjutan serangan terhadap Iran.

“Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius,” kata Trump kepada wartawan.

Trump juga memperingatkan Iran harus memilih antara mencapai kesepakatan atau menghadapi serangan dengan intensitas yang ‘much higher level’ atau jauh lebih besar. Sementara itu, Axios melaporkan Pentagon sebenarnya telah menyiapkan rencana serangan untuk malam ke-14 secara berturut-turut. Namun Trump memilih tidak memberikan otorisasi dan lebih memprioritaskan peluang pembicaraan diplomatik.

Di sisi lain, Iran memperingatkan bahwa penghentian serangan bukan berarti ketegangan mereda. Juru bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akraminia mengatakan konflik bisa meluas apabila Washington kembali melancarkan serangan udara.

“Saya percaya bahwa jika Amerika sekali lagi jatuh cinta pada penipuan Zionis, atau bergerak sejalan dengan mereka, dan bersikeras untuk melanjutkan perang, terutama melalui serangan udara, secara geografis ini akan berkembang lebih jauh,” ujar Akraminia kepada televisi pemerintah Iran.

Pernyataan itu disampaikan menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington, yang diperkirakan akan membahas perkembangan konflik Iran dan keamanan kawasan. Meski serangan langsung AS ke Iran dihentikan sementara, konflik di Timur Tengah justru terus meluas. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu pada Sabtu, sehari setelah Arab Saudi membombardir sejumlah target Houthi.

Militer Yunani juga mengonfirmasi sistem pertahanan udara yang dioperasikan personelnya di Arab Saudi berhasil menembak jatuh dua rudal balistik dan satu drone di wilayah Yanbu. Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menghentikan empat kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz dalam kurun 24 jam terakhir. Jalur pelayaran strategis tersebut masih menjadi titik paling rawan yang berpotensi memicu bentrokan langsung antara Iran dan Amerika Serikat.(*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|