BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM — Ketika kawasan pantai di daerah sekitar dipadati wisatawan selama libur Lebaran, kondisi berbeda justru terjadi di Kabupaten Bantul. Jumlah pengunjung anjlok cukup tajam, memicu sorotan dari kalangan legislatif yang menilai ada persoalan serius dalam pengelolaan pariwisata.
Sekretaris Komisi D DPRD Bantul, Herry Fahamsyah, menegaskan penurunan ini tidak bisa dianggap sebagai fenomena biasa. Ia membandingkan kondisi Bantul dengan daerah lain seperti Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulon Progo yang justru mencatat peningkatan kunjungan.
“Ini menjadi catatan. Karena, dari tiga daerah yang mempunyai wisata pantai baik di Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo, hanya Bantul yang mengalami penurunan. Nah ini menjadi PR dan pertanyaan besar bagi kami semua di DPRD Bantul maupun kalangan warga Bantul sendiri,” ucapnya, Jumat (27/3/2026).
Menurut Herry, faktor daya beli masyarakat bukan penyebab utama. Ia justru menyoroti kemungkinan persoalan di tingkat layanan wisata, mulai dari dugaan praktik harga tidak wajar di warung makan, tarif sewa fasilitas, hingga kebersihan kawasan pantai.
Ia menilai, dari sisi tarif retribusi, Bantul sebenarnya tidak kalah bersaing. Dengan skema tiket terusan Rp15 ribu, wisatawan bisa mengakses sejumlah pantai dalam satu hari, dari Pantai Parangtritis hingga kawasan barat seperti Pantai Baru dan Pandansimo.
“Kalau harga tiket (tarif retribusi masuk Pantai Selatan Bantul) bagi kami tidak ada masalah. Harga tiket itu kan sama seperti di Kabupaten Gunungkidul yakni Rp15 ribu untuk semua pantai dari ujung timur ke barat Kabupaten Bantul atau dari Pantai Parangtritis sampai Pantai Baru dan Pandansimo,” jelasnya.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya sosialisasi tarif tersebut agar tidak menimbulkan persepsi mahal di kalangan wisatawan.
Herry juga menyoroti bahwa kenaikan tarif belum sepenuhnya diimbangi dengan peningkatan fasilitas dan pengalaman wisata. Padahal, menurutnya, kekuatan Bantul tidak hanya pada pantainya, tetapi juga pada akses dan lanskap yang unik, termasuk keberadaan Jalur Lintas Selatan yang menawarkan panorama alam.
Selain itu, kawasan pantai barat Bantul dengan deretan cemara dinilai memiliki karakter berbeda yang seharusnya bisa menjadi daya tarik tersendiri dibandingkan daerah lain.
Meski memiliki potensi tersebut, ia menilai pengemasan dan penyampaian informasi kepada wisatawan masih belum optimal.
Di sisi lain, data dari Dinas Pariwisata Bantul memperkuat adanya tren penurunan. Selama periode libur Lebaran tahun ini, jumlah wisatawan tercatat sekitar 80.333 orang dengan pendapatan asli daerah (PAD) sekitar Rp1,16 miliar.
Angka tersebut turun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 144.085 wisatawan dengan PAD lebih dari Rp 2 miliar.
Penurunan jumlah pengunjung bahkan mencapai 63.752 orang, dengan rata-rata kunjungan harian ikut merosot.
Melihat kondisi ini, DPRD mendesak Pemerintah Kabupaten Bantul untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari tata kelola, pelayanan, hingga strategi promosi.
“Kondisi ini tidak bisa dianggap baik-baik saja. Karena yang lain wisatawannya naik, kok kita turun sekitar sepertiga. Ini jadi catatan bersama. Kami harap kondisi saat ini segera dievaluasi, ditindaklanjuti, dan sebagainya oleh Pemkab Bantul,” tegas Herry. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

10 hours ago
4

















































