Lulusan SD Paling Yakin Ijazah Jokowi Asli, Gen Z Justru Banyak Meragukan

4 weeks ago 17
Presiden RI ke-7 Joko Widodo telah selesai memenuhi undangan pemeriksaan oleh penyidik Polda Metro Jaya, Rabu, (23/07/2025) di Polresta Solo. Terkait pelaporan tudingan ijazah palsu. Ando

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Isu seputar keaslian ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat ramai menjadi perbincangan di berbagai platform. Namun, bagaimana sesungguhnya sikap publik terhadap tudingan tersebut?

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA baru-baru ini merilis hasil survei nasional yang menyajikan gambaran menarik mengenai persepsi masyarakat terkait isu tersebut. Data menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempercayai klaim ijazah palsu yang dialamatkan kepada Presiden ketujuh RI itu.

Survei dilakukan pada 28 Mei hingga 12 Juni 2025 terhadap 1.200 responden di berbagai wilayah di Indonesia. Mayoritas atau sekitar 74,6 persen responden menyatakan tidak percaya bahwa ijazah Jokowi palsu.

Salah satu temuan mencolok datang dari segmentasi berdasarkan tingkat pendidikan. Responden dengan latar belakang pendidikan rendah, khususnya lulusan SD ke bawah, tercatat sebagai kelompok yang paling tidak percaya pada tuduhan tersebut.

“Di segmen pendidikan, mereka yang hanya tamat SD ke bawah, sebesar 81,5 persen tak percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi. Di mereka yang hanya tamat SMP atau sederajat, sebesar 73,7 persen yang tak percaya, dan di segmen mereka yang tamat SMA sederajat sebesar 69,8 persen,” ujar peneliti senior LSI Denny JA, Ardian Sopa.

Sebaliknya, mereka yang menempuh pendidikan tinggi justru cenderung lebih banyak yang meragukan keaslian ijazah Jokowi. Kelompok lulusan D3 ke atas mencatatkan tingkat kepercayaan tertinggi terhadap isu tersebut, yakni sebesar 20,6 persen.

“Tamat D3 ke atas yang percaya ijazah Jokowi palsu 20,6 persen, tamat SMA 13,8 persen, tamat SMP 10,5 persen, tamat SD 7,4 persen,” papar Ardian.

Tren serupa juga terlihat dari segmentasi tempat tinggal. Masyarakat perkotaan tercatat lebih banyak yang mempercayai isu ini dibanding masyarakat pedesaan. Sebanyak 16,3 persen responden kota mengaku percaya, sementara dari desa hanya 10,4 persen.

“Mereka yang percaya isu ijazah palsu Jokowi lebih banyak di perkotaan,” kata Ardian menegaskan.

Dari sisi kelompok usia, generasi Z—yakni kelompok usia paling muda dalam survei ini—terlihat sebagai kelompok yang paling banyak terpengaruh oleh isu tersebut.

“Memang terlihat dari data ini, semakin generasi X, ini semakin yang tidak percaya terhadap isu ijazah palsu Jokowi,” ujar Ardian.

Generasi Z mencatatkan angka 14,3 persen yang percaya pada isu ijazah palsu, disusul oleh generasi X dengan 13,8 persen, lalu baby boomer 11,9 persen, dan generasi milenial 9,5 persen.

Secara keseluruhan, hanya 12,2 persen responden yang mengaku cukup percaya atau sangat percaya terhadap tuduhan tersebut. Sementara 13,2 persen memilih tidak memberikan jawaban atau menyatakan tidak tahu.

“Survei itu memberikan pertanyaan kepada responden, ‘apakah ibu/bapak percaya bahwa ijazah Presiden Jokowi Palsu?’. Hasil survei memperlihatkan kepada kita yang menyatakan tidak percaya, bahwa ijazahnya palsu itu ada 74,6 persen,” jelas Ardian.

“Kemudian yang percaya atau cukup percaya di angka 12,2 persen,” imbuhnya.

Pengambilan data dilakukan menggunakan metode multi stage random sampling dan teknik wawancara tatap muka dengan kuisioner. Survei ini memiliki margin of error sekitar 2,9 persen. (*)  Berbagai sumber

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|