Mengenal Desa Ketos Paranggupito Wonogiri, Dulu Tandus Kini Jadi Lumbung Sayuran, Tak Ada Air yang Terbuang Sia-Sia

1 month ago 21
DesaPemanfaatan lahan pekarangan rumah warga Desa Ketos Paranggupito Wonogiri. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Nama Paranggupito selama ini identik dengan wilayah kering dan sulit air bersih. Tapi siapa sangka, wilayah ujung selatan Kabupaten Wonogiri itu kini menjelma menjadi sentra sayuran rumah tangga yang subur dan produktif.

Di balik perubahan mencengangkan ini, terdapat cerita perjuangan warga Desa Ketos, khususnya di RT 01/RW 02 Dusun Tlahap, yang kini viral karena sukses membangun kemandirian pangan dari pekarangan rumah sendiri.

Sebanyak 38 kepala keluarga di wilayah tersebut tidak lagi bergantung pada pasar untuk mencukupi kebutuhan sayur sehari-hari. Mereka menanam sendiri, merawat sendiri, dan bahkan berbagi hasil panen antarwarga secara sukarela.

Tak hanya sayuran seperti terong, bayam, pare, timun, cabai, hingga kacang panjang, warga juga memanfaatkan lahan sempit untuk menanam tanaman obat keluarga atau apotik hidup yang bermanfaat untuk kesehatan keluarga.

Menurut Kepala Desa Ketos, Sukatno alias Singkek, kebiasaan baik ini sudah mengakar kuat di masyarakat. Yang lebih menginspirasi, semua aktivitas penyiraman tanaman dilakukan tanpa membuang air bersih percuma. Warga menggunakan air bekas cucian beras, air sisa memasak, atau air bekas mencuci untuk menyiram tanaman mereka.

“Prinsip kami jelas: tak ada air yang terbuang sia-sia. Meskipun dulu kami kesulitan air, sekarang kami justru belajar untuk lebih bijak memanfaatkan air. Dan hasilnya luar biasa,” ujarnya saat mendampingi kunjungan tim penilai lomba desa tingkat kabupaten, Senin (21/7/2025).

Kebiasaan baik itu tumbuh lewat program ‘Aku Hatinya PKK’, yang menekankan pentingnya pemanfaatan lahan pekarangan rumah tangga. Program ini tak hanya menciptakan ketahanan pangan di tingkat keluarga, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga. Mereka saling belajar, berbagi bibit, hingga bertukar hasil panen.

Camat Paranggupito, Catur Susilo Prono, menyatakan kekagumannya terhadap perubahan luar biasa ini. Ia menilai, ketersediaan air bersih dari PDAM yang kini menjangkau rumah-rumah warga telah menjadi titik balik penting.

“Dulu Paranggupito dikenal sebagai daerah kering. Tapi berkat semangat warga dan dukungan program PKK, sekarang mereka menjadi contoh desa yang berhasil membalik keadaan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti peran ibu-ibu kader PKK yang sangat aktif dalam gerakan Rumah Sehat, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pemanfaatan limbah dapur untuk keperluan kebun sayur. Menurutnya, inilah bukti bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari anggaran besar, tapi bisa lewat perubahan perilaku yang konsisten dan kolektif.

Tim penilai lomba desa tingkat kabupaten pun dibuat kagum. Ketua tim penilai, Dwi Astutiningsih Arso Utoro, secara terbuka menyampaikan rasa salutnya kepada warga Dusun Tlahap.

“Ini desa yang tidak hanya aktif karena lomba. Tapi kami melihat ada kehidupan, ada keberlanjutan, ada semangat kolektif yang nyata. Jika nanti Desa Ketos masuk 10 besar kabupaten, kami akan kirim tim bayangan secara diam-diam untuk memastikan kebiasaan baik ini benar-benar dijalani, bukan sekadar demi menang lomba,” ujarnya serius.

Kini, Desa Ketos bukan lagi desa yang dipandang sebelah mata. Dari keterbatasan air, mereka bangkit jadi inspirasi. Dari tanah kering, tumbuh harapan. Dari semangat gotong royong, lahirlah kemandirian pangan lokal yang patut dicontoh. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|