
YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Keris bukan hanya senjata tikam, namun sebilah keris merupakan simbol peradaban, warisan spiritual, dan representasi nilai-nilai kehidupan orang Jawa. Meski zaman terus bergerak maju, pusaka ini tetap bertahan sebagai lambang jati diri dan kehormatan leluhur.
Bagi masyarakat Jawa, keris mencerminkan filosofi hidup dan nilai-nilai luhur yang tertanam dalam budaya turun-temurun. Hal itu terungkap dalam forum budaya yang diadakan oleh Pasederekan Trah Sultan Hamengku Buwono II (HB II), Sabtu (12/7/2025), yang turut menghadirkan Ketua Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) DIY, Fajar Utama.
Ia menuturkan, orang Jawa menganggap kepemilikan keris sebagai bagian dari kelengkapan hidup. Bersanding dengan rumah, pasangan hidup, kendaraan, dan burung peliharaan, keris hadir sebagai “curiga” — senjata batin sekaligus penguat karakter. Tidak hanya dibuat oleh tangan, keris juga dicipta lewat laku spiritual yang panjang dan penuh makna.
Ritual dan Energi Spiritual Sebilah Keris
Proses pembuatan keris membutuhkan lakku fisik maupun non fisik. Logam seperti besi dan baja, bahkan kadang meteorit, ditempa dalam ritual yang diiringi puasa dan doa. Dari sinilah keris dianggap memiliki daya spiritual, menyatu dengan pemiliknya dan memancarkan energi tertentu.
Keris pun menempati ruang khusus dalam kehidupan masyarakat Jawa. Ia sering dilibatkan dalam upacara adat, baik dalam konteks keluarga maupun kerajaan. Sejak 2005, UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia—pengakuan atas nilai sejarah, artistik, hingga spiritual yang dimilikinya.
Untuk menjaga kesakralannya, masyarakat Jawa rutin menggelar ritual jamasan, yakni prosesi pembersihan dan penyucian keris. Salah satu prosesi yang cukup mencuri perhatian digelar oleh Pasederekan Trah HB II, Sabtu (19/7/2025), di aula Kampus ATEKPI, Yogyakarta.
Tradisi yang Menggugah dan Menginspirasi
Acara tersebut berlangsung khidmat, dimulai dengan pengambilan pusaka yang diiringi pawai budaya. Alunan kidung pamuji yang dibawakan kelompok Sekar Pangawikan memenuhi ruangan, menciptakan suasana spiritual yang mendalam. Tiga tokoh penjamas—Sarwono, Suyadi, dan Dalidjan—bertugas menyucikan puluhan keris secara telaten.
Mereka memulai proses dari mutih, membersihkan bilah keris menggunakan jeruk dan bahan-bahan alami. Setelah itu, dilakukan tahap warangan, yaitu pelapisan bilah dengan larutan arsenik untuk menonjolkan pamor. Langkah terakhir adalah pemulihan kodam, di mana bilah disentuhkan pada kayu gaharu dan tesek—proses yang dipercaya dapat menguatkan kembali daya spiritual keris.
Di sudut ruangan, tersedia sesaji berupa tumpeng lengkap, ayam ingkung, buah, jajanan pasar, kelapa, dan dupa. Setiap elemen memiliki makna simbolik—dari doa, permohonan keberkahan, hingga simbol keseimbangan hidup. Tradisi ini memperlihatkan betapa orang Jawa memperlakukan keris dengan penghormatan penuh kesadaran spiritual.
Daya Tarik Hingga ke Mancanegara

Kehadiran mahasiswa asing seperti Saki Maeta dari Universitas Kobe, Jepang, menjadi bukti bahwa tradisi tersebut masih relevan dan menarik secara internasional. Ia mengaku terkesan dengan sikap masyarakat Jawa yang begitu menghargai peninggalan leluhur.
“Saya merasa tersentuh. Ini bukan sekadar budaya, tapi refleksi spiritual yang sangat dalam,” ungkap Saki.
Selain mengenalkan nilai-nilai Kejawen, kegiatan ini juga menjadi media untuk mengenang figur Sultan HB II—sosok yang dikenal tegas, berani, dan menjunjung tinggi kejujuran. Nilai-nilai tersebut tertuang dalam karya wayangnya, Jayapusaka, yang juga menjadi inspirasi dalam pelestarian budaya oleh keturunannya.
Merawat Akar Budaya Lewat Pusaka
Beberapa keris yang dijamas berasal dari era Majapahit, seperti Patrem, Sombro, dan Jangkung. Masing-masing memiliki sejarah dan fungsi berbeda. Patrem, misalnya, biasa dibawa perempuan sebagai perlindungan spiritual, sedangkan Sombro konon ditempa hanya dengan tenaga tangan.
Ketua Trah HB II, R. Hendro Marwoto, menyampaikan apresiasinya atas dukungan berbagai pihak. “Kami merasa bersyukur, tahun ini lebih banyak pusaka yang dipercayakan untuk dijamas. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat mulai tumbuh untuk merawat warisan budaya,” tuturnya. Ia didampingi ketua panitia, RM Timur Prasetyo, seperti dikutip dalam rilis Yuliantoro ke Joglosemarnews.
Jamasan merupakan sarana untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam pusaka, sebagai penopang identitas dan jati diri masyarakat Jawa di tengah perubahan zaman. Keris juga menjadi pengingat, bahwa kita punya akar, nilai, dan warisan yang harus terus dijaga. Dengan merawat pusaka, di situlah sebenarnya kita sedang merawat jiwa bangsa. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.