MEDAN, SUMUTPOS.CO– Kemeriahan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 tahun, DPD PDI Perjuangan (PDIP) Sumut laksanakan beragam kegiatan di Kantor DPD PDI Perjuangan Sumut, Jalan Jamin Ginting Medan Nomor 86 Medan, Minggu (17/8/2025). Mulai dari upacara bendera hingga aneka lomba.
Dan yang paling seru, terlihat ketika seluruh petinggi PDIP Sumut melakukan pertandingan sepakbola dengan memakai sarung. “Filosofi kain sarung atau sarungan kaya akan makna budaya dan sosial, terutama di Indonesia,” kata Ketua DPD PDIP Sumut Drs Rapidin Simbolon di sela-sela kegiatan.
Rapidin menjelaskan, sarung merupakan simbol kesederhanaan dan kepraktisan, serta melambangkan kesederhanaan, karena bentuknya. “Selembar kain yang dijahit menjadi bentuk silinder. Kepraktisannya terlihat dari kemudahan pemakaian dan fleksibilitasnya untuk berbagai aktivitas. Selain itu sarung bisa menebas sekat sosial,” ungkap Anggota DPR RI Dapil Sumut II tersebut.
Selain itu, lanjut Rapidin, sarung bisa digunakan dalam berbagai situasi, mulai dari kegiatan sehari-hari di rumah, acara formal, hingga ibadah. Kemampuan beradaptasi ini mencerminkan fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri dalam kehidupan.
“Sarung juga mengandung nilai kebersamaan dan persatuan. Dalam beberapa budaya, sarung sering dipakai bersama dalam acara-acara komunal. Ini melambangkan kebersamaan dan persatuan, karena semua orang tanpa memandang status sosial dapat mengenakan sarung,” beber mantan Bupati Samosir tersebut.
Lebih dari itu , mbuh Rapidin, sarung merupakan identitas budaya di Indonesia, dan sarung sering kali menjadi bagian dari identitas budaya daerah tertentu. Motif dan warna pada sarung dapat menunjukkan asal daerah atau kelompok etnis pemakainya.
“Sarung juga menjadi simbol spiritualitas, dimana sarung sering digunakan saat beribadah, seperti salat. Ini melambangkan kesucian dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual,” imbuhnya.
Sedangkan di Sumatera Utara, sarung memiliki tempat khusus dalam tradisi dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sarung sering digunakan dalam acara adat, upacara keagamaan, dan sebagai pakaian sehari-hari.
Motif dan warna sarung di Sumatera Utara juga mencerminkan kekayaan budaya daerah tersebut, dengan pengaruh dari berbagai etnis seperti Batak, Melayu, dan lainnya,
“Begitu banyak nilai dan symbol dari sarung, maka dari itu dalam rangka peringatan hari kemerdekaan kami melaksanakan pertandingan sepak bola mini dengan memakai sarung dan rasanya seru dan bisa membuat kita bahagia dalam memperingati momen bersejarah kita,” pungkasnya.
Dalam kegiatan kali ini tampak pengurus DPD turut hadir, mulai dari Sekretaris DPD Dr. Soetarto M.S.I, Bendahara Dr. Meriahta Sitepu MARS, para wakil Ketua Seperti Samulya Surya Indra, Sarma Hutajulu, Irwan Tavip Ginting, Penyabar Nakhe, Aswan Jaya, Syarifah Khariyah Alatas dan tampak juga Wakil Sekretris Ahmad Bima Nusa dan Meryl Rouli Saragih serta kepala-kepala Badan dan sayap partai. (adz)
MEDAN, SUMUTPOS.CO– Kemeriahan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 tahun, DPD PDI Perjuangan (PDIP) Sumut laksanakan beragam kegiatan di Kantor DPD PDI Perjuangan Sumut, Jalan Jamin Ginting Medan Nomor 86 Medan, Minggu (17/8/2025). Mulai dari upacara bendera hingga aneka lomba.
Dan yang paling seru, terlihat ketika seluruh petinggi PDIP Sumut melakukan pertandingan sepakbola dengan memakai sarung. “Filosofi kain sarung atau sarungan kaya akan makna budaya dan sosial, terutama di Indonesia,” kata Ketua DPD PDIP Sumut Drs Rapidin Simbolon di sela-sela kegiatan.
Rapidin menjelaskan, sarung merupakan simbol kesederhanaan dan kepraktisan, serta melambangkan kesederhanaan, karena bentuknya. “Selembar kain yang dijahit menjadi bentuk silinder. Kepraktisannya terlihat dari kemudahan pemakaian dan fleksibilitasnya untuk berbagai aktivitas. Selain itu sarung bisa menebas sekat sosial,” ungkap Anggota DPR RI Dapil Sumut II tersebut.
Selain itu, lanjut Rapidin, sarung bisa digunakan dalam berbagai situasi, mulai dari kegiatan sehari-hari di rumah, acara formal, hingga ibadah. Kemampuan beradaptasi ini mencerminkan fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri dalam kehidupan.
“Sarung juga mengandung nilai kebersamaan dan persatuan. Dalam beberapa budaya, sarung sering dipakai bersama dalam acara-acara komunal. Ini melambangkan kebersamaan dan persatuan, karena semua orang tanpa memandang status sosial dapat mengenakan sarung,” beber mantan Bupati Samosir tersebut.
Lebih dari itu , mbuh Rapidin, sarung merupakan identitas budaya di Indonesia, dan sarung sering kali menjadi bagian dari identitas budaya daerah tertentu. Motif dan warna pada sarung dapat menunjukkan asal daerah atau kelompok etnis pemakainya.
“Sarung juga menjadi simbol spiritualitas, dimana sarung sering digunakan saat beribadah, seperti salat. Ini melambangkan kesucian dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual,” imbuhnya.
Sedangkan di Sumatera Utara, sarung memiliki tempat khusus dalam tradisi dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sarung sering digunakan dalam acara adat, upacara keagamaan, dan sebagai pakaian sehari-hari.
Motif dan warna sarung di Sumatera Utara juga mencerminkan kekayaan budaya daerah tersebut, dengan pengaruh dari berbagai etnis seperti Batak, Melayu, dan lainnya,
“Begitu banyak nilai dan symbol dari sarung, maka dari itu dalam rangka peringatan hari kemerdekaan kami melaksanakan pertandingan sepak bola mini dengan memakai sarung dan rasanya seru dan bisa membuat kita bahagia dalam memperingati momen bersejarah kita,” pungkasnya.
Dalam kegiatan kali ini tampak pengurus DPD turut hadir, mulai dari Sekretaris DPD Dr. Soetarto M.S.I, Bendahara Dr. Meriahta Sitepu MARS, para wakil Ketua Seperti Samulya Surya Indra, Sarma Hutajulu, Irwan Tavip Ginting, Penyabar Nakhe, Aswan Jaya, Syarifah Khariyah Alatas dan tampak juga Wakil Sekretris Ahmad Bima Nusa dan Meryl Rouli Saragih serta kepala-kepala Badan dan sayap partai. (adz)