WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Gerak cepat BUMDes Golo di Desa Golo, Kecamatan Puhpelem, Wonogiri mulai menunjukkan taringnya. Program ketahanan pangan yang digarap serius ini tidak sekadar wacana—panen perdana jamur kuping langsung menghasilkan angka yang bikin melirik: 3,5 kuintal hanya dari satu kandang.
Panen perdana ini dilakukan, Senin (27/4/2026), baru satu kandang atau sekitar 6.000 baglog dari total lima kandang budidaya.
Direktur BUMDes Golo, Andi Eko Susanto, blak-blakan soal potensi besar yang sedang dibangun.
“Dari lima kandang yang ada, saat ini baru satu kandang yang dipanen dengan hasil sekitar 3,5 kuintal. Saat ini, empat kandang lainnya masih dalam tahap pertumbuhan dan akan dipanen secara bertahap,” ujar Andi Eko Susanto.
Artinya jelas: produksi belum maksimal, tapi hasilnya sudah bikin geleng kepala.
Yang bikin makin menarik, skala budidaya ini bukan main-main. Saat ini sudah berdiri 5 kandang produksi dengan total kapasitas mencapai 30.000 baglog. Ini bukan angka kecil—ini fondasi ekonomi desa yang mulai bangkit.
Andi juga tidak berhenti di jual bahan mentah. Ia sudah membidik langkah lanjutan yang lebih agresif.
“Harapannya ini jadi penggerak roda ekonomi lokal yang mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi pemuda dan ibu rumah tangga di pedesaan,” pungkasnya.
Targetnya jelas:
✓ Keripik jamur kuping
✓ Bakso jamur
✓ Bumbu penyedap alami
✓ Produk olahan bernilai tinggi
Bukan cuma panen, tapi naik kelas ke industri rumahan berbasis desa.
Di lapangan, dampaknya sudah terasa. Budidaya ini membuka pekerjaan langsung bagi warga sekitar. Jadi bukan cuma angka produksi yang naik, tapi juga penghasilan masyarakat ikut bergerak.
“Selain itu juga mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran dengan kami mempekerjakan karyawan untuk mengelola dan merawat kandang jamur ini,” ujarnya.
Menariknya lagi, gelombang panen berikutnya sudah di depan mata.
“Dari hasil budidaya ini, diperkirakan dua minggu lagi panen,” kata Andi.
Kalau prediksi ini tepat, dalam waktu dekat suplai jamur kuping dari Desa Golo bisa melonjak drastis. Ini membuka peluang distribusi lebih luas—bukan hanya pasar lokal, tapi juga luar daerah.
Dari sisi pemerintah kecamatan, peluang ini juga dianggap sangat menjanjikan. Kasi PPM Kecamatan Puhpelem, Suprianto, menegaskan bahwa jamur kuping bukan sekadar tren musiman.
“Budidaya jamur ini semakin populer karena tekniknya yang relatif mudah, bernilai ekonomi tinggi dan bahan bakunya mudah didapat,” terang Suprianto.
Alasannya kuat dan realistis:
• Teknik budidaya relatif mudah
• Nilai ekonomi tinggi
• Bahan baku mudah didapat
• Siklus panen cepat
• Permintaan pasar stabil
Bukan hanya soal cuan, jamur kuping juga punya nilai gizi tinggi yang tidak bisa diremehkan.
“Jamur kuping sebagai bahan makanan berkontribusi pada ketahanan pangan dan nutrisi karena kaya akan serat, karbohidrat, vitamin, mineral dan asam. Selain mudah dibudidayakan, jamur juga merupakan makanan bergizi tinggi,” imbuhnya.
Dengan kombinasi produksi besar, pasar terbuka, dan manfaat kesehatan, model seperti ini bisa jadi blueprint baru untuk desa-desa lain.
Jika konsisten, bukan tidak mungkin Desa Golo berubah jadi sentra jamur kuping yang menggerakkan ekonomi lokal secara masif.
Dan satu hal yang mulai terlihat jelas: ini baru awal—ledakan berikutnya tinggal menunggu waktu. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

5 hours ago
2

















































