WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Fakta mengejutkan kembali terungkap soal penyaluran bantuan sosial (bansos) di Indonesia. Kementerian Sosial (Kemensos) sementara ini menghentikan penyaluran kepada 55 ribu penerima bansos anomali yang ternyata berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI-Polri, hingga pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut, jumlah penerima bansos yang tidak tepat sasaran sebenarnya lebih besar, mencapai lebih dari 100 ribu orang.
Dari angka tersebut, 27.932 di antaranya adalah pegawai BUMN. Sisanya termasuk dokter, dosen, manajer, eksekutif, hingga pegawai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Ada juga ASN, maupun TNI Polri.
“Dari jumlah itu, 55 ribu sudah tidak menerima bansos lagi. Sekarang masih ada 44 ribu yang sedang kita proses untuk dihentikan,” ujar Gus Ipul, baru baru ini.
Temuan ini juga diperkuat data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang mengungkap ribuan pegawai berpenghasilan tinggi ikut mengantongi bansos yang seharusnya diperuntukkan bagi rakyat miskin dan rentan. PPATK mencatat ada 27.932 pegawai BUMN yang terindikasi menerima bansos.
Untuk mencegah kasus serupa, Kemensos berkolaborasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan lembaga terkait dalam menjalankan Instruksi Presiden (Inpres) No. 4 Tahun 2025 tentang Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Upaya ini mengedepankan akurasi, pembaruan data tiap tiga bulan, serta sinkronisasi antarkementerian dan lembaga.
Bansos yang dihentikan akan dialihkan kepada masyarakat yang benar-benar berhak. Terutama mereka yang berada di desil 1 hingga desil 4—kelompok miskin ekstrem, miskin, dan rentan.
Gus Ipul juga mengajak masyarakat aktif melaporkan penerima bansos tidak layak melalui aplikasi Cek Bansos. Warga cukup melampirkan identitas penerima tidak layak atau calon penerima yang seharusnya berhak, untuk kemudian diverifikasi dan divalidasi.
“Kalau merasa ada tetangganya atau mungkin dirinya sendiri seharusnya dapat bansos tapi tidak menerima, silakan laporkan. Kita akan tindaklanjuti,” tegasnya. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.