Pengusaha Penggilingan Padi di Sragen Kompak Hentikan Produksi, Khawatir Terseret Isu Beras Oplosan

2 weeks ago 15
Ilustrasi

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Sejumlah pengusaha penggilingan padi yang tergabung dalam Perhimpunan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) di Sragen, Karanganyar, dan Sukoharjo memilih menghentikan produksi. Keputusan ini diambil karena kekhawatiran terkait isu beras oplosan serta pertimbangan situasi bisnis yang kurang menguntungkan.

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Edi Narwanto, pemilik usaha penggilingan padi asal Sarirejo, Desa Plosokerep, Kecamatan Karangmalang, Sragen, membenarkan bahwa banyak pabrik telah berhenti beroperasi. Menurutnya, penghentian ini sudah berlangsung beberapa hari, bahkan ada yang mencapai satu minggu.

Edi menjelaskan bahwa pabriknya hanya memproduksi beras pecah kulit (PK), yang kemudian dijual ke pabrik rice to rice untuk diolah menjadi beras premium atau medium. Ia menegaskan bahwa istilah “beras oplosan” kurang tepat.

“Itu kan beras dicampur biar rasanya enak dan pulen. Harus ada paduan—pulen dari IR 64, wangi dari Mentik. Itu bukan oplosan, tapi kombinasi untuk menghasilkan beras yang bagus. Namun dianggap salah,” ujarnya, Kamis (14/8/2025).

Penghentian operasional ini, lanjut Edi, adalah bentuk antisipasi.

“Daripada takut, ya sudah tutup saja,” ucapnya.

Ia menambahkan, tidak ada instruksi resmi dari Perpadi terkait penghentian produksi ini. Namun, para pengusaha beras sepakat untuk berhenti membeli beras sementara waktu sebagai langkah menjaga keamanan usaha.

Saat ini, harga gabah di pasaran berada di kisaran Rp7.450–Rp7.850 per kilogram. Sementara harga eceran tertinggi (HET) beras pecah kulit adalah Rp11.900.
Penghentian operasi ini berdampak langsung pada petani, karena pembelian gabah ikut berkurang.

“Kalau kita buka lagi, gudang kecil tidak muat. Harapannya pemerintah segera memberi aturan yang jelas supaya usaha bisa kembali lancar. Kalau distribusi beras lancar, petani juga akan merasakan dampaknya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Fajar Nahari, pengusaha penggilingan padi asal Kecamatan Sukodono, Sragen, juga mengaku sudah sepekan tidak produksi. Ia beralasan, selain harga gabah tinggi, harga beras di pasaran justru turun, sehingga biaya produksi tidak tertutup.

“Sudah sejak Sabtu tidak produksi. Kalau alasan isu penangkapan pengusaha beras, tanya teman-teman yang lain saja,” ujarnya.

Menurutnya, harga beras di pasaran sulit menyesuaikan kenaikan biaya produksi.

“Sudah nggak nutut biaya produksinya, Mas,” kata Fajar.

Dihimpun dari berbagai media nasional, Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso membenarkan adanya penutupan sejumlah pabrik beras di beberapa daerah. Menurutnya, para pelaku usaha merasa serba salah dan akhirnya memilih menghentikan operasional karena khawatir terseret kasus dugaan pengoplosan beras.

Sutarto memperkirakan, jika kondisi ini dibiarkan, pasokan beras di lapangan dapat berkurang hingga 40%. Perpadi meminta pemerintah segera menjaga kenyamanan berusaha, menaikkan HET beras premium dan medium, serta menyalurkan beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) atau bansos secara masif.

Selain itu, Perpadi mengusulkan agar pengadaan atau penyerapan beras dalam negeri oleh Perum Bulog dihentikan sementara untuk mencegah kenaikan harga di pasaran, sekaligus mendorong evaluasi tata kelola perberasan yang lebih adil, kondusif, dan komprehensif.

Huri Yanto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|