JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Teka teki penyebab kelangkaan beras premium akhirnya terjawab. Ternyata, para pengusaha minimarket sengaja tidak mengeluarkan beras tersebut. Sebab, mereka khawatir diperiksa polisi karena dianggap menjual beras oplosan.
Hal itu disampaikan langsung Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin. Dia mengatakan, sejatinya stok beras premium kemasan 5 kg selalu ada. “Seperti merek Sania atau lainnya. Ada stoknya. Tapi tidak kami jual dulu,” katanya kemarin (8/8).
Solihin beralasan, para pengusaha ritel takut berurusan dengan hukum. Apalagi, sudah ada kejadian pegawai toko ritel diperiksa polisi karena diduga menjual beras premium oplosan.
Dia menegaskan, toko ritel hanya menjual, bukan memproduksi. “Padahal kami tidak tahu apa-apa. Bukan kapasitas kami memeriksa berasnya benar premium atau bukan. Ada yang diminta jadi saksi atau diperiksa,” jelasnya.
Karena itu, daripada berisiko berperkara dengan aparat, ritel-ritel memutuskan menyimpan stok beras premium di gudang.
Sekitar dua hari lalu, Aprindo mengirim surat ke produsen beras. Isinya, meminta harga beras premium diturunkan sesuai harga beras medium. Dengan begitu, ritel merasa lebih aman dan tidak akan diperiksa polisi. “Akhirnya disepakati harganya turun Rp 1.500 per kemasan 5 kg,” katanya.
Solihin mengatakan, dengan penurunan harga tersebut, ritel akan kembali menjual beras premium kemasan 5 Kg. Namun, tidak serta merta kelangkaan berakhir. Sebab, butuh proses dan waktu agar beras-beras itu ada di rak-rak seperti biasanya.
Solihin melanjutkan, toko ritel sama sekali tidak tahu kualitas beras yang mereka jual. Ketika tertulis beras premium, mereka menjualnya sesuai label. Perkara di dalamnya ternyata kualitas medium, hal itu merupakan urusan produsen.
Menurut Solihin, stok beras berlabel premium di gudang mereka masih banyak. Mereka saat ini fokus menjual stok yang ada dahulu. Sampai saat ini, belum ada informasi apakah produsen melakukan penggilingan lagi atau tidak.
Solihin mengungkapkan, setelah ada kasus beras oplosan, sejumlah produsen mengabarkan berhenti produksi.
Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Satgas Pangan Mabes Polri merilis daftar tersangka beras oplosan atau beras yang tidak sesuai standar. Sesuai ketentuan, beras premium memiliki campuran beras patah maksimal 15 persen. Tetapi, ternyata kandungan beras patahnya di atas angka tersebut.
Polisi sudah menetapkan enam tersangka. Tiga diantaranya adalah S, AI, dan DO. Mereka berasal dari PT Padi Indonesia Maju (PIM). S adalah Presiden Direktur PT PIM. Kemudian, AI adalah kepala pabrik dan DO adalah kepala quality control. Beras premium kemasan dari PT PIM banyak dijumpai di pasar. Antara lain merek Sania, Fortune, Savia, dan Siip.
Tiga tersangka lain adalah KG yang menjabat sebagai Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya, BUMD milik Pemprov DKI Jakarta. Kemudian, RL selaku Direktur Operasional dan IRP sebagai Kepala Seksi Quality Control.
Produk beras premium kemasan yang dikeluarkan Food Station memiliki beragam merek. Antara lain, Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Ramos Premium, dan Setra Pulen. (jpg/ila)
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Teka teki penyebab kelangkaan beras premium akhirnya terjawab. Ternyata, para pengusaha minimarket sengaja tidak mengeluarkan beras tersebut. Sebab, mereka khawatir diperiksa polisi karena dianggap menjual beras oplosan.
Hal itu disampaikan langsung Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin. Dia mengatakan, sejatinya stok beras premium kemasan 5 kg selalu ada. “Seperti merek Sania atau lainnya. Ada stoknya. Tapi tidak kami jual dulu,” katanya kemarin (8/8).
Solihin beralasan, para pengusaha ritel takut berurusan dengan hukum. Apalagi, sudah ada kejadian pegawai toko ritel diperiksa polisi karena diduga menjual beras premium oplosan.
Dia menegaskan, toko ritel hanya menjual, bukan memproduksi. “Padahal kami tidak tahu apa-apa. Bukan kapasitas kami memeriksa berasnya benar premium atau bukan. Ada yang diminta jadi saksi atau diperiksa,” jelasnya.
Karena itu, daripada berisiko berperkara dengan aparat, ritel-ritel memutuskan menyimpan stok beras premium di gudang.
Sekitar dua hari lalu, Aprindo mengirim surat ke produsen beras. Isinya, meminta harga beras premium diturunkan sesuai harga beras medium. Dengan begitu, ritel merasa lebih aman dan tidak akan diperiksa polisi. “Akhirnya disepakati harganya turun Rp 1.500 per kemasan 5 kg,” katanya.
Solihin mengatakan, dengan penurunan harga tersebut, ritel akan kembali menjual beras premium kemasan 5 Kg. Namun, tidak serta merta kelangkaan berakhir. Sebab, butuh proses dan waktu agar beras-beras itu ada di rak-rak seperti biasanya.
Solihin melanjutkan, toko ritel sama sekali tidak tahu kualitas beras yang mereka jual. Ketika tertulis beras premium, mereka menjualnya sesuai label. Perkara di dalamnya ternyata kualitas medium, hal itu merupakan urusan produsen.
Menurut Solihin, stok beras berlabel premium di gudang mereka masih banyak. Mereka saat ini fokus menjual stok yang ada dahulu. Sampai saat ini, belum ada informasi apakah produsen melakukan penggilingan lagi atau tidak.
Solihin mengungkapkan, setelah ada kasus beras oplosan, sejumlah produsen mengabarkan berhenti produksi.
Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Satgas Pangan Mabes Polri merilis daftar tersangka beras oplosan atau beras yang tidak sesuai standar. Sesuai ketentuan, beras premium memiliki campuran beras patah maksimal 15 persen. Tetapi, ternyata kandungan beras patahnya di atas angka tersebut.
Polisi sudah menetapkan enam tersangka. Tiga diantaranya adalah S, AI, dan DO. Mereka berasal dari PT Padi Indonesia Maju (PIM). S adalah Presiden Direktur PT PIM. Kemudian, AI adalah kepala pabrik dan DO adalah kepala quality control. Beras premium kemasan dari PT PIM banyak dijumpai di pasar. Antara lain merek Sania, Fortune, Savia, dan Siip.
Tiga tersangka lain adalah KG yang menjabat sebagai Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya, BUMD milik Pemprov DKI Jakarta. Kemudian, RL selaku Direktur Operasional dan IRP sebagai Kepala Seksi Quality Control.
Produk beras premium kemasan yang dikeluarkan Food Station memiliki beragam merek. Antara lain, Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Ramos Premium, dan Setra Pulen. (jpg/ila)