WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Suasana ruang Paripurna DPRD Wonogiri mendadak penuh tensi, Rabu (8/4/2026) sore. Puluhan orang dari pengurus baru Persatuan Sepakbola Wonogiri (Persiwi), pelatih, hingga manajer tim sepak bola wilayah Jateng Tenggara datang dengan satu tujuan: menyampaikan realita keras yang selama ini terpendam.
“Kedatangan kami disini ini selain untuk mengenalkan diri sebagai pengurus baru, juga dalam rangka berkeluh kesah agar sama-sama memiliki komitmen bagaimana menghidupkan kembali kejayaan Persiwi seperti era 80-90 an lalu,” tegas Ketua Persiwi Wonogiri, Sugiyanto, di hadapan anggota dewan.
Para petinggi Persiwi Wonogiri diterima Ketua Komisi II DPRD Wonogiri Supriyanto, Kepala Disporapar Haryanto dan Ketua KONI Wonogiri Sungkono
Fakta di lapangan tidak bisa ditutup-tutupi. Klub yang dulu pernah berjaya hingga level nasional kini justru menghadapi persoalan mendasar yang belum terselesaikan: anggaran, fasilitas minim, hingga kehilangan pemain berbakat ke luar daerah.
Sugiyanto yang juga dikenal sebagai pengusaha rumah makan di kawasan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri ini blak-blakan. Untuk menghidupkan kembali Persiwi, menurut dia dibutuhkan dana.
✓ Kebutuhan anggaran minimal Rp710 juta per tahun
✓ Pembinaan usia dini (U-10 & U-12) sebagai fondasi regenerasi
✓ Persiapan tim untuk Piala Soeratin dan Persiwi Cup
✓ Kompetisi berjenjang dari desa hingga kabupaten
“Selain untuk pembinaan usia dini (U-10 dan U-12) kami juga mempersiapkan tim yang akan ikut Piala Soeratin maupun Persiwi Cup mulai dari turnamen antardesa, antarkecamatan untuk membentuk tim kabupaten,” jelasnya.
Namun persoalan tidak berhenti di angka anggaran. Ada lagi yang tak kalah krusial yakni ketiadaan infrastruktur dasar yang seharusnya dimiliki klub seperti Persiwi.
✓ Belum memiliki kantor sekretariat resmi
✓ Tidak ada mobil inventaris operasional
✓ Akses pengelolaan Stadion Pringgodani masih dipegang pihak ketiga
Kondisi ini dinilai menjadi penghambat serius kebangkitan klub. Bahkan, banyak pemain potensial justru memilih hengkang ke daerah lain karena kurangnya dukungan fasilitas dan sistem pembinaan yang stabil.
Yang tak luput disorot adalah soal Stadion Pringgodani Wonogiri. Selama ini stadion tersebut dikelola pihak ketiga, sementara Persiwi sebagai klub kebanggaan daerah justru tidak punya kendali penuh.
“Bagaimana caranya agar pihak ketiga itu kedepannya adalah Persiwi,” tegas Sugiyanto, menyoroti pentingnya pengelolaan stadion sebagai pusat aktivitas sepak bola daerah.
Harapan besar kini diarahkan ke pemerintah daerah dan DPRD Wonogiri agar tidak hanya mendengar, tapi juga mengambil langkah konkret. Sebab tanpa dukungan anggaran, fasilitas, dan pengelolaan aset strategis seperti stadion, mimpi mengembalikan kejayaan era 80–90an hanya akan jadi nostalgia.
Dulu, Persiwi dikenal luas hingga kancah nasional, bahkan pernah melaju ke final di Stadion GBK saat masih dipimpin sosok legendaris Soemaryoto. Kini, sejarah itu seperti menunggu untuk dihidupkan kembali. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

3 hours ago
1

















































