Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd memaparkan tentang ‘Fondasi Filosofis Transformasi Pendidikan Berdampak: Relasi Ilmu, Nilai, Kemanusiaan dan Dimensi Spiritual-Moral Pembangunan’ dalam seminar di Medan, Rabu (3/6).
Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd mengemukakan bahwavtransformasi pendidikan sering dipahami secara sempit sebagai perubahan kurikulum, digitalisasi layanan atau peningkatan indikator kinerja. Pemahaman demikian tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum memadai. Transformasi yang sejati menuntut pergeseran cara pandang tentang manusia, ilmu, nilai dan arah pembangunan.
Pendidikan tidak dapat direduksi menjadi mekanisme produksi kompetensi kerja, karena pada saat yang sama ia membentuk nalar, karakter, tanggung jawab sosial dan orientasi spiritual peserta didik.
“Disinilah istilah ‘berdampak’ perlu dibaca secara ontologis dan etis. Berdampak bukan hanya berarti tampak pada angka capaian, melainkan nyata dalam kualitas kemanusiaan, keberdayaan masyarakat dan kemaslahatan publik. Philosophical Foundation of Transformation sebagai dasar untuk menjabarkan makna berdampak, relasi ilmu-nilai-kemanusiaan, pendidikan karakter, dimensi spiritual-moral pembangunan dan kritik terhadap pragmatisme tanpa nilai,” katanya pada seminar pemecahan rekor Muri ’10 pohon ilmu’ yang diikuti 58 ribu peserta dari 118 perguruan tinggi swasta se-Sumut.
Disebutkannya, lima unsur tersebut membentuk kerangka normatif yang penting bagi pendidikan di Indonesia. Khususnya ketika pembangunan daerah seperti ‘Sumut Berkah’ hendak dibaca bukan sebagai jargon administratif, melainkan sebagai orientasi nilai. Pembangunan harus menyejahterakan, memartabatkan dan menumbuhkan akhlak publik.
Secara konseptual, lanjut rektor UMSU, pendidikan berdampak mensyaratkan tiga perubahan. Pertama, perubahan tujuan dari sekadar keluaran administratif menuju pembentukan manusia berpengetahuan, berkarakter dan berdaya. Kedua, perubahan proses dari pengajaran yang berpusat pada transfer informasi menuju pembelajaran dialogis, reflektif dan kontekstual.
Ketiga, sebut rektor, perubahan ukuran keberhasilan. Dari dominasi angka menuju keseimbangan antara kompetensi, karakter, partisipasi sosial dan kemanfaatan. “Arah ini sejalan dengan gagasan Dewey tentang pendidikan sebagai proses sosial-demokratis, Freire tentang pendidikan yang membebaskan serta Biesta tentang pentingnya menilai pendidikan dari dimensi kualifikasi, sosialisasi dan subjektifikasi,” rincinya.
Makna ‘berdampak’ secara ontologis? Rektor UMSU menyebutkan bahwa dampak pendidikan menunjuk pada perubahan nyata dalam keberadaan manusia dan masyarakat. Bukan sekadar efek luar dari sebuah program, melainkan transformasi kualitas eksistensial. Cara seseorang memahami diri, berelasi dengan orang lain, memaknai ilmu dan berkontribusi bagi kehidupan bersama.
“Dengan pengertian ini, dampak pendidikan tidak boleh disamakan dengan keluaran jangka pendek. Nilai ujian, jumlah lulusan, atau akreditasi tetap penting, tetapi semuanya adalah indikator antara, bukan tujuan akhir,” katanya.
Ontologi dampak memandang peserta didik sebagai subjek yang bertumbuh, bukan objek intervensi. Peserta didik memiliki potensi akal, moral, spiritual, sosial dan kreativitas yang harus dikembangkan secara utuh. “Pandangan ini dekat dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan sebagai tuntunan terhadap kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat,” ungkapnya.
Dalam bahasa kontemporer, menurut Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd, pendidikan berdampak adalah pendidikan yang memperluas kapabilitas manusia. “Sebagaimana pembangunan menurut Sen tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari perluasan kebebasan substantif manusia. Makna berdampak juga bersifat relasional. Dampak tidak berhenti pada individu yang kompeten, tetapi menyentuh keluarga, komunitas, institusi dan ekologi sosial,” ujarnya.
Pendidikan yang menghasilkan lulusan cerdas tetapi abai terhadap keadilan, empati dan amanah publik belum dapat disebut berdampak secara penuh. Oleh karena itu, ontologi dampak harus memasukkan dimensi kebermanfaatan sosial, bukan hanya prestasi individual.
Pendidikan yang baik melahirkan pribadi yang mampu memperbaiki lingkungan, bukan hanya beradaptasi dengan lingkungan yang ada.
“Dari sudut pandang Islam, dampak pendidikan terkait dengan pembentukan insan beradab. Manusia yang menempatkan ilmu, amal, dan akhlak secara proporsional,” kata rektor.
Dalam kesempatan ini, guru besar UMSU juga memaparkan tentang makna berdampak secara etis. Demikian juga tentang relasi ilmu, nilai dan kemanusiaan yang merupakan inti dari fondasi filosofis transformasi. Relasi ilmu-nilai-kemanusiaan mendorong rekonstruksi kurikulum. Kurikulum tidak cukup memuat daftar kompetensi.
Perlu menyusun pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan masalah nyata, pertimbangan etis dan tindakan sosial. Misalnya, pembelajaran sains dapat dikaitkan dengan etika lingkungan. Pembelajaran ekonomi dengan keadilan distribusi. Pembelajaran agama dengan kepedulian sosial. Pembelajaran teknologi dengan tanggung jawab digital.
“Dengan cara ini, ilmu menjadi sarana memanusiakan manusia dan memperbaiki kehidupan bersama,” katanya seraya menegaskan pendidikan sebagai pembentukan karakter, bukan hanya kompetensi.
Pendidikan berdampak dibawah semangat ‘Sumut Berkah’ berarti menciptakan ekosistem belajar yang menumbuhkan kecakapan akademik sekaligus kepekaan terhadap kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, konflik sosial dan masalah moral publik. Dengan demikian, pendidikan menjadi jembatan antara iman, ilmu, amal dan pembangunan,” tegas rektor.
Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd juga menyampaikan kritik terhadap pragmatisme tanpa nilai. Pragmatisme tanpa nilai menjadikan pendidikan mudah mengikuti tuntutan pasar tanpa menanyakan apakah tuntutan itu adil, manusiawi dan berkelanjutan.
Kritik terhadap pragmatisme tanpa nilai penting karena pendidikan kontemporer berada dalam tekanan performativitas.
Lembaga pendidikan dituntut menghasilkan lulusan cepat kerja, publikasi meningkat, akreditasi unggul dan indikator kinerja tercapai. Semua itu diperlukan, tetapi berbahaya jika menjadi orientasi tunggal.
Agar fondasi filosofis tidak berhenti sebagai wacana, Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd mengatakan bahwa diperlukan model implementasi. Model transformasi pendidikan berdampak dapat disusun melalui rantai nilai: fondasi filosofis, desain kelembagaan, proses pembelajaran, asesmen dampak dan umpan balik perbaikan.
Rantai ini menempatkan nilai sebagai titik awal sekaligus titik evaluasi. Transformasi tidak dimulai dari teknologi atau prosedur, tetapi dari pertanyaan tentang manusia seperti apa yang hendak dibentuk dan masyarakat seperti apa yang hendak dibangun.
Pada tingkat kelembagaan, kepemimpinan pendidikan perlu membangun visi moral yang operasional.
Bagi perguruan tinggi, termasuk UMSU, kata rektor, implikasinya adalah menghubungkan pengajaran, penelitian, pengabdian dan tata kelola dengan misi kemanusiaan. Pengajaran harus memerdekakan nalar. Penelitian menjawab masalah masyarakat; pengabdian memberdayakan dan tata kelola menjadi teladan integritas. “Dengan demikian, pendidikan tinggi berperan sebagai penjaga akal sehat publik dan pembentuk peradaban,” ungkapnya.
Menutup paparannya, kata rektor UMSU, fondasi filosofis transformasi pendidikan berdampak menegaskan bahwa pendidikan tidak dapat dipahami sebagai urusan teknis semata. Pendidikan adalah proyek kemanusiaan, moral, spiritual dan sosial.
Istilah berdampak secara ontologis menunjuk pada perubahan kualitas keberadaan manusia dan masyarakat. Secara etis menunjuk pada arah kebaikan, keadilan dan kemaslahatan.
Karena itu, lanjut guru besar UMSU, dampak pendidikan harus dilihat dari pembentukan karakter, keberdayaan masyarakat dan keberkahan sosial.
Relasi ilmu, nilai dan kemanusiaan menjadi pusat transformasi. “Ilmu harus bernilai. Nilai harus berilmu. Dan keduanya harus memanusiakan manusia,” tegas rektor UMSU.
Pendidikan sebagai pembentukan karakter bukanlah pelengkap kompetensi, melainkan syarat agar kompetensi digunakan secara bertanggung jawab. Dalam konteks Sumut Berkah, pendidikan perlu mengintegrasikan dimensi spiritual dan moral pembangunan agar kemajuan tidak kehilangan makna.
Dengan kerangka tersebut, menurut Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd, pendidikan menjadi jalan pembentukan manusia yang cerdas, beriman, berakhlak, kritis, kreatif, peduli dan berdaya. Transformasi pendidikan yang berfondasi filosofis bukan hanya perubahan sistem, melainkan perubahan arah peradaban.
“Kemajuan yang bermakna harus menumbuhkan martabat manusia dan menjadikan ilmu sebagai amanah untuk kebaikan bersama,” kata tokoh pendidikan Sumut yang pernah menjadi dekan Fakultas Agama Islam UMSU tersebut. (dmp).

17 hours ago
10

















































