
WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Suasana penuh khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Al-Huda Wonogiri pada Jumat (22/8/2025).
Ratusan santri dan tokoh masyarakat hadir dalam acara Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat yang digelar bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Kepala BPIP, Prof Drs KH. Yudian Wahyudi, MA., PhD, tampil sebagai pembicara utama dengan membawa pesan penting: santri harus menjadi garda terdepan dalam menjaga ideologi bangsa di era digital dan globalisasi.
“Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan derasnya informasi di media sosial, Pancasila tidak boleh hanya menjadi teks. Ia harus hidup di hati, diamalkan, dan dijadikan panduan dalam bertindak,” tegas Prof. Yudian.
Menurutnya, pesantren memiliki peran vital dalam hal ini. Bukan hanya mencetak insan alim dalam bidang agama, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak, berjiwa sosial, serta memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
Jejak Panjang Santri sebagai Penjaga NKRI
Prof. Yudian mengingatkan sejarah penting keterlibatan santri dalam perjuangan bangsa. Salah satunya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digelorakan KH. M. Hasyim Asy’ari. Momen bersejarah itu menjadi bukti bahwa santri bukan hanya ahli ilmu agama, tetapi juga benteng ideologi, penjaga moral, sekaligus pejuang kemerdekaan.
“Menanamkan nilai-nilai Pancasila di pesantren bukanlah hal baru. Ini merupakan kelanjutan tradisi panjang santri sejak dulu: ikut mendirikan, menjaga, hingga mengisi kemerdekaan bangsa,” jelasnya.
Pancasila dan Islam: Tidak Bertentangan, Justru Saling Menguatkan
Di hadapan santri, Prof. Yudian menekankan bahwa nilai luhur Pancasila sejalan dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ia mencontohkan:
✓ Ketuhanan Yang Maha Esa : Menjadi pedoman bertakwa.
✓ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab : Menghormati martabat manusia.
✓ Persatuan Indonesia : Mengokohkan ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah.
✓ Kerakyatan dalam Permusyawaratan : Cerminan prinsip syura dalam Islam.
✓ Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat : Sejalan dengan perintah Allah untuk berlaku adil.
“Pancasila dan agama bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling menguatkan,” tegasnya.
Namun, Prof. Yudian juga mengingatkan tantangan besar yang kini mengancam generasi muda. Radikalisme, intoleransi, individualisme, dan budaya hedonisme menyusup melalui media sosial dan arus digital.
“Santri harus memiliki filter kuat. Jadilah generasi yang mampu menyaring informasi, menolak ideologi berbahaya, dan menyebarkan narasi kebangsaan yang sejuk,” pesannya.
Ia mengajak santri menjadi duta Pancasila yang moderat, religius, toleran, cinta Tanah Air, dan peduli pada sesama.
Di era digital, santri dituntut tak hanya menguasai kitab, tapi juga teknologi. Prof. Yudian menekankan agar santri menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan damai, dakwah menyejukkan, sekaligus memperkuat persatuan Indonesia.
“Membumikan Pancasila adalah tugas bersama. BPIP berkomitmen, tapi keberhasilannya bergantung pada dukungan kiai, ustadz, santri, dan masyarakat luas,” ungkapnya.
Acara di Wonogiri itu juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain:
Hamid Noor Yasin Anggota Komisi XIII DPR RI, Setyo Sukarno Bupati Wonogiri, Prof. Dr. Leo Agung S., M.Pd Kepala Pusat Studi Pengamalan Pancasila UNS, Dr. Ir. Prakoso, Deputi Hubungan Antar Lembaga BPIP. Juga Toto Purbiyanto, S.Kom, M.Ti, Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP, serta jajaran kiai dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda Wonogiri.
Mereka sepakat bahwa penguatan ideologi Pancasila harus terus digelorakan, terutama melalui dunia pesantren yang menjadi benteng moral bangsa. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.