Mendengar Langsung Cerita Jual Beli Ikan Gabus Sentani
Ikan Gabus Sentani salah satu ikan endemik yang ada di Danau Sentani, kehadirannya kini semakin sulit didapatkan, setelah hadirnya ikan red devils, mujair dan nila. Apa kata nelayan di Danau Sentani?
Laporan : Yohana_SENTANI
Di tepian Dermaga Patouw, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Senin (8/6), sejumlah nelayan tampak sibuk menebarkan jaring ke perairan Danau Sentani. Mereka bukan sekadar mencari ikan untuk dijual, tetapi memburu salah satu kekayaan endemik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sentani selama turun-temurun, yakni ikan gabus Sentani (Oxyeleotris heterodon).
Bagi masyarakat adat Sentani, ikan ini bukan sekadar sumber pangan. Gabus Sentani memiliki nilai budaya, ekonomi, dan sosial yang sangat tinggi. Dalam bahasa lokal, ikan ini dikenal dengan berbagai nama seperti kayou untuk gabus hitam, kahe untuk gabus merah, hingga kayou kahebey. Sebagian masyarakat juga menyebutnya sebagai “gabus bodoh”.
Di Kabupaten Jayapura, gabus Sentani dikenal sebagai ikan paling bergengsi sekaligus termahal. Kehadirannya hampir selalu mewarnai berbagai momen penting masyarakat, mulai dari pembayaran maskawin, pesta pernikahan, acara adat, hingga pertemuan keluarga besar. Meski kini semakin jarang terlihat di pasar-pasar tradisional, bukan berarti populasi ikan ini telah menghilang dari Danau Sentani. Tingginya permintaan membuat sebagian besar hasil tangkapan nelayan langsung habis dipesan konsumen sebelum sempat dipasarkan.
Akibatnya, lapak-lapak ikan danau kini lebih banyak diisi oleh ikan nila, mujair, maupun lohan yang memiliki kemampuan berkembang biak lebih cepat dibandingkan gabus Sentani. Mama Yospina Marueri, warga Kampung Kwadeware yang sehari-hari berjualan hasil tangkapan danau, mengaku hingga kini permintaan terhadap gabus Sentani masih sangat tinggi.
“Ikan gabus jarang saya jual di pasar karena biasanya konsumen datang langsung membeli di kampung. Apalagi kalau ada acara besar, mereka lebih senang pesan langsung kepada kami para nelayan,” ujarnya.
Menurut Yospina, harga gabus Sentani memang jauh lebih tinggi dibanding ikan lainnya. Untuk satu tali berisi empat hingga lima ekor ukuran sedang, harga jual di kampung mencapai Rp250 ribu. Sementara ukuran yang lebih kecil bisa berisi hingga sepuluh ekor dalam satu ikatan. Sebagian besar pembeli berasal dari masyarakat Sentani yang akan menggelar acara adat atau hajatan keluarga. Tidak sedikit pula rumah makan yang secara khusus memesan ikan tersebut.
Namun mendapatkan gabus Sentani bukan perkara mudah. Selain menggunakan jaring, banyak nelayan yang masih mengandalkan teknik tradisional molo atau menyelam untuk menangkap ikan yang hidup di dasar perairan danau tersebut.
Mendengar Langsung Cerita Jual Beli Ikan Gabus Sentani
Ikan Gabus Sentani salah satu ikan endemik yang ada di Danau Sentani, kehadirannya kini semakin sulit didapatkan, setelah hadirnya ikan red devils, mujair dan nila. Apa kata nelayan di Danau Sentani?
Laporan : Yohana_SENTANI
Di tepian Dermaga Patouw, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Senin (8/6), sejumlah nelayan tampak sibuk menebarkan jaring ke perairan Danau Sentani. Mereka bukan sekadar mencari ikan untuk dijual, tetapi memburu salah satu kekayaan endemik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sentani selama turun-temurun, yakni ikan gabus Sentani (Oxyeleotris heterodon).
Bagi masyarakat adat Sentani, ikan ini bukan sekadar sumber pangan. Gabus Sentani memiliki nilai budaya, ekonomi, dan sosial yang sangat tinggi. Dalam bahasa lokal, ikan ini dikenal dengan berbagai nama seperti kayou untuk gabus hitam, kahe untuk gabus merah, hingga kayou kahebey. Sebagian masyarakat juga menyebutnya sebagai “gabus bodoh”.
Di Kabupaten Jayapura, gabus Sentani dikenal sebagai ikan paling bergengsi sekaligus termahal. Kehadirannya hampir selalu mewarnai berbagai momen penting masyarakat, mulai dari pembayaran maskawin, pesta pernikahan, acara adat, hingga pertemuan keluarga besar. Meski kini semakin jarang terlihat di pasar-pasar tradisional, bukan berarti populasi ikan ini telah menghilang dari Danau Sentani. Tingginya permintaan membuat sebagian besar hasil tangkapan nelayan langsung habis dipesan konsumen sebelum sempat dipasarkan.
Akibatnya, lapak-lapak ikan danau kini lebih banyak diisi oleh ikan nila, mujair, maupun lohan yang memiliki kemampuan berkembang biak lebih cepat dibandingkan gabus Sentani. Mama Yospina Marueri, warga Kampung Kwadeware yang sehari-hari berjualan hasil tangkapan danau, mengaku hingga kini permintaan terhadap gabus Sentani masih sangat tinggi.
“Ikan gabus jarang saya jual di pasar karena biasanya konsumen datang langsung membeli di kampung. Apalagi kalau ada acara besar, mereka lebih senang pesan langsung kepada kami para nelayan,” ujarnya.
Menurut Yospina, harga gabus Sentani memang jauh lebih tinggi dibanding ikan lainnya. Untuk satu tali berisi empat hingga lima ekor ukuran sedang, harga jual di kampung mencapai Rp250 ribu. Sementara ukuran yang lebih kecil bisa berisi hingga sepuluh ekor dalam satu ikatan. Sebagian besar pembeli berasal dari masyarakat Sentani yang akan menggelar acara adat atau hajatan keluarga. Tidak sedikit pula rumah makan yang secara khusus memesan ikan tersebut.
Namun mendapatkan gabus Sentani bukan perkara mudah. Selain menggunakan jaring, banyak nelayan yang masih mengandalkan teknik tradisional molo atau menyelam untuk menangkap ikan yang hidup di dasar perairan danau tersebut.


















































