Lakukan Berbagai Strategi Perekrutan, Namun Masih Jauh Dari Target

9 hours ago 9

Frank L. Apituley

Perjuangan Perguruan Tinggi Swasta di Kota Jayapura Menggaet Mahasiswa Baru

Musim penerimaan mahasiswa baru selalu membawa dinamika tersendiri bagi perguruan tinggi swasta (PTS) di Tanah Papua, khususnya di Kota Jayapura. Di tengah himpitan krisis ekonomi keluarga dan kecenderungan lulusan SMA yang lebih memilih berkuliah di luar Papua atau mengejar kampus negeri, PTS di Kota Jayapura terus berjuang menunjukkan eksistensinya.

Laporan: Jimianus Karlodi-Kota Jayapura

Fenomena penerimaan mahasiswa baru di Tanah Papua bukan sekadar urusan administrasi pendaftaran. Ini adalah cerminan dari realitas sosial-ekonomi masyarakat, persepsi publik terhadap kualitas pendidikan lokal, hingga pergeseran tren generasi muda.

   Dua perguruan tinggi swasta terkemuka di Kota Jayapura Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Port Numbay dan Universitas Ottow Geissler (UOG) Papua menjadi saksi sekaligus pelaku dari dinamika ini.

   Di STIE Port Numbay Jayapura, angin optimisme dihembuskan secara terstruktur. Kampus yang berfokus pada pengembangan ilmu ekonomi dan bisnis ini mentargetkan penerimaan sebanyak 250 mahasiswa baru untuk tahun akademik 2026.

   Sejak kran pendaftaran dibuka pada Februari lalu, kepanitiaan yang melibatkan seluruh civitas akademika bergerak masif. Hasilnya cukup menggembirakan: hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 175 calon mahasiswa telah menggenggam tiket pendaftaran.

   Kepala Komite Integritas Akademik STIE Port Numbay Jayapura, Dr. John Agustinus, SE., MM, menegaskan bahwa target tersebut bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan wujud keyakinan atas strategi yang mereka jalankan.

   “Kami optimis target 250 orang sampai akhir Agustus nanti tidak hanya tercapai, tetapi bisa melampaui estimasi awal. Kuncinya ada pada kombinasi promosi humanis dan kemudahan teknologi,” ungkap John kepada Cenderawasih Pos, Rabu (22/7).

   Strategi STIE Port Numbay terbilang sangat aktif. Mereka tidak hanya menunggu calon mahasiswa datang ke sekretariat pendaftaran, melainkan menjemput bola secara langsung di lapangan.

  Tim promosi menyisir berbagai titik keramaian publik di Jayapura. Di arena Car Free Day (CFD) Pantai Holtekamp, mereka membagikan brosur interaktif kepada warga dan pemuda yang berolahraga. Momen kearifan lokal seperti ajang budaya Colo Sagu di halaman Kantor DPR Papua dan pameran UMKM Pemkot Jayapura di Terminal Entrop pun dimanfaatkan untuk menyapa para calon mahasiswa.

   Tak berhenti di situ, pendekatan door to door juga dilakukan dengan mendatangi kantor-kantor pemerintah dan swasta guna menawarkan program kuliah bagi pegawai yang ingin meningkatkan kualifikasi akademiknya.

  Di era modern, birokrasi pendaftaran yang rumit sering kali menjadi penghalang utama. Menyadari hal tersebut, STIE Port Numbay memangkas alur konvensional. Calon mahasiswa yang mendaftar secara online langsung diarahkan masuk ke dalam grup WhatsApp.

  Proses seleksi tak lagi mewajibkan hadir di dalam kelas untuk ujian tulis bersampul kertas. Sebagai gantinya, pendaftar mendapatkan akses link soal tes berbasis Computer-Based Test (CBT) yang dapat dikerjakan secara mandiri dari mana saja. Promosi digital pun digencarkan lewat media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, website kampus, hingga akun milik dosen-dosen tetap.

  Selain teknologi, reputasi alumni menjadi kekuatan utama. Kampus ini bangga menonjolkan rekam jejak alumni terbaiknya, Bahlil Lahadalia (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI), sebagai bukti nyata bahwa pendidikan di STIE Port Numbay mampu melahirkan pemimpin tingkat nasional.

  Di sisi lain, John tidak memungkiri adanya badai ekonomi yang kerap memupuskan harapan anak muda untuk berkuliah. Kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di banyak tempat, gelombang PHK, penurunan pendapatan usaha orang tua, hingga tingginya biaya hidup harian di perantauan menjadi tembok tebal bagi banyak keluarga.

  Untuk merespons krisis tersebut, kampus menyediakan program pendaftaran bebas biaya awal serta memfasilitasi skema Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dari pemerintah agar mahasiswa dari rentang ekonomi rentan tetap bisa mengenyam pendidikan tinggi tanpa terbebani.

   Bergeser ke Universitas Ottow Geissler (UOG) Papua, dinamika yang dihadapi menghadirkan potret kejujuran yang menyejukkan. Kampus berbasis universitas ini menetapkan target penerimaan sebanyak  350 mahasiswa baru. Namun, perjalanan menuju angka tersebut menghadapi kerikil tajam.

Foto boks 2 Frank L. ApituleyFrank L. Apituley

  Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru UOG Papua, Frank L. Apituley, membeberkan fakta lapangan. Sejak pendaftaran dibuka pada Maret hingga pertengahan Juli 2026, jumlah pendaftar tercatat berada di angka 187 orang.

  “Sampai hari ini yang mendaftar baru sekitar 187 orang. Harus kita akui, jumlah ini masih kurang dari target awal. Pendaftaran masih dibuka sampai pertengahan Agustus, dan kami memilih untuk tetap konsisten dengan proses yang ada,” tutur Frank dengan terbuka.

   Meski secara kuantitas belum mencapai target, keberadaan UOG Papua terbukti memiliki jangkauan geografis yang sangat luas. Kampus ini menjadi rumah belajar bagi mahasiswa yang datang dari enam provinsi di Tanah Papua, mulai dari Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Tengah, hingga Papua Pegunungan.

  Dari tiga fakultas yang dikelola, pendaftar terbanyak terkonsentrasi pada beberapa program studi favorit. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dengan Program Studi Manajemen menjadi primadona utama, disusul oleh Program Studi Sistem Informasi di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) seiring tingginya minat pemuda Papua pada dunia IT, serta program studi di Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan (FPKK).

   Mengapa angka pendaftaran di UOG Papua belum memenuhi harapan? Frank menggarisbawahi dua faktor psikologis-sosial yang cukup kuat di tengah masyarakat Jayapura.

   Pertama, adanya dorongan kuat dari banyak lulusan SMA di Kota Jayapura dan sekitarnya untuk merantau dan berkuliah di luar Pulau Papua demi mencari pengalaman baru. Kedua, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) masih menjadi pilihan dominan utama bagi sebagian besar calon mahasiswa baru.

   Meski demikian, Frank menegaskan bahwa grafik penerimaan di PTS selalu berfluktuasi secara alami. Tren naik-turun dalam kurun waktu dua hingga tiga tahunan adalah hal lazim. Bagi pihak UOG Papua, persaingan antar-kampus di Jayapura baik negeri maupun swasta harus disikapi secara sehat melalui peningkatan kualitas layanan dan sosialisasi yang intensif langsung ke sekolah-sekolah.

   Dinamika pendaftaran mahasiswa baru di STIE Port Numbay dan Universitas Ottow Geissler dan beberapa kampus lainnya di Jayapura memperlihatkan betapa tangguhnya PTS di Tanah Papua. Di tengah berbagai himpitan mulai dari krisis finansial keluarga, kenaikan biaya hidup, hingga godaan merantau kampus-kampus swasta ini terus berbenah.

   Dengan cara yang berbeda, kedua institusi ini melangkah maju. STIE Port Numbay memacu pergerakannya lewat efisiensi digital, jaringan alumni, dan pendekatan promosi langsung di pusat keramaian.

   Sementara Universitas Ottow Geissler memilih bertahan pada prinsip konsistensi, mengandalkan kekuatan program studi unggulan, serta memperluas jangkauan ke sekolah-sekolah.

   Mereka bukan sekadar institusi pencetak ijazah, melainkan benteng pertahanan bagi anak-anak daerah yang ingin meraih cita-cita tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya. Dengan terus beradaptasi pada teknologi dan menjaga harga pendidikan tetap terjangkau, perguruan tinggi swasta di Jayapura membuktikan komitmennya, bahwa masa depan yang cerah bisa dibangun dari rumah sendiri. (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|