DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Masalah intoleransi bukan lagi menjadi sesuatu yang besar di negeri ini. Pasalnya, Bangsa Indonesia sudah khatam (sangat memahami) soal toleransi. Sebab, Indonesia adalah negara yang majemuk dan terbiasa saling hormat-menghormati dan saling menghargai.
Hal ini disampaikan Anggota DPR/MPR RI Tifatul Sembiring ketika menggelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Aula Masjid Taqwa, Jalan Kelambir V, Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, pada Rabu (6/8/2025). “Kita bisa lihat di Sumatra Utara ini ada yang beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, dan lainnya.
Sukunya ada Jawa, Batak, Karo, Minang, Tionghoa, dan lainnya. Tapi toh mereka bisa hidup berdampingan, rukun dan guyub. Memang terkadang ada gesekan, tetapi semuanya bisa kita selesaikan dengan musyawarah dan baik,” kata Tifatul seperti dikutip Sumut Pos dalam siaran persnya, Rabu (20/8/2025).
Menurutnya, perbedaan agama, suku, dan kebudayaan yang ada di Indonesia justru merupakan sebuah berkah dari Allah Swt. “Tuhan menciptakan kita berbeda-beda agar saling mengenal dan menghargai,” ujar Tifatul.
“Bahkan para anak muda tahun 1928 sudah berjanji lewat Sumpah Pemuda, bahwasanya persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia adalah sudah final. Ini menunjukkan semangat toleransi sudah ada sejak jaman dulu, kita tinggal meneruskannya saja,” imbuh kader senior PKS ini.
Pada Sosialisasi 4 Pilar MPR RI kali ini Tifatul Sembiring menjelaskan tentang poin-poin penting yang terdapat dalam 4 Pilar MPR RI seperti Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi dan Ketetapan MPR. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI berjalan lancar dengan diselingi tanya jawab. Seorang peserta merasa senang bisa hadir pada kegiatan ini. “Saya jadi bisa berdiskusi langsung dengan pak dewan kita. Selama ini hanya bisa lihat di televisi dan facebook,” ujarnya. (rel/adz)
DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Masalah intoleransi bukan lagi menjadi sesuatu yang besar di negeri ini. Pasalnya, Bangsa Indonesia sudah khatam (sangat memahami) soal toleransi. Sebab, Indonesia adalah negara yang majemuk dan terbiasa saling hormat-menghormati dan saling menghargai.
Hal ini disampaikan Anggota DPR/MPR RI Tifatul Sembiring ketika menggelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Aula Masjid Taqwa, Jalan Kelambir V, Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, pada Rabu (6/8/2025). “Kita bisa lihat di Sumatra Utara ini ada yang beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, dan lainnya.
Sukunya ada Jawa, Batak, Karo, Minang, Tionghoa, dan lainnya. Tapi toh mereka bisa hidup berdampingan, rukun dan guyub. Memang terkadang ada gesekan, tetapi semuanya bisa kita selesaikan dengan musyawarah dan baik,” kata Tifatul seperti dikutip Sumut Pos dalam siaran persnya, Rabu (20/8/2025).
Menurutnya, perbedaan agama, suku, dan kebudayaan yang ada di Indonesia justru merupakan sebuah berkah dari Allah Swt. “Tuhan menciptakan kita berbeda-beda agar saling mengenal dan menghargai,” ujar Tifatul.
“Bahkan para anak muda tahun 1928 sudah berjanji lewat Sumpah Pemuda, bahwasanya persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia adalah sudah final. Ini menunjukkan semangat toleransi sudah ada sejak jaman dulu, kita tinggal meneruskannya saja,” imbuh kader senior PKS ini.
Pada Sosialisasi 4 Pilar MPR RI kali ini Tifatul Sembiring menjelaskan tentang poin-poin penting yang terdapat dalam 4 Pilar MPR RI seperti Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi dan Ketetapan MPR. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI berjalan lancar dengan diselingi tanya jawab. Seorang peserta merasa senang bisa hadir pada kegiatan ini. “Saya jadi bisa berdiskusi langsung dengan pak dewan kita. Selama ini hanya bisa lihat di televisi dan facebook,” ujarnya. (rel/adz)