Tiga Pendaki Asing Terjatuh Beruntun, Gunung Rinjani Resmi Ditutup untuk Evaluasi Keamanan

1 month ago 18
Ilustrasi pendakian Gunungn RinjaniIlustrasi pendakian gunung. Usai tiga pendaki jatuh saat mendaki, jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup total untuk melakukan evaluasi / pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tiga pendaki dari mancanegara jatuh beruntun di jalur ekstrem Gunung Rinjani, memunculkan keprihatinan tersendiri. Karena itulah, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) menutup sementara seluruh jalur pendakian di Gunung Rinjani.

Penutupan total itu dilakukan sebagai langkah awal untuk meninjau dan memperbaiki sistem keamanan di kawasan pendakian yang dinilai rawan tersebut. Pemerintah menyatakan evaluasi akan menyentuh seluruh aspek mulai dari infrastruktur jalur, kesiapsiagaan petugas, hingga peralatan penyelamatan.

Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Menko Polhukam Jenderal (Purn) Budi Gunawan usai memimpin rapat koordinasi lintas sektor bersama jajaran Basarnas, TNI, Polri, BTNGR, dan Pemprov NTB, Jumat (18/7/2025).

“Seluruh aktivitas pendakian untuk sementara dihentikan sampai seluruh jalur dinyatakan aman,” ujar Budi Gunawan dalam keterangan resmi.

Tiga insiden yang melibatkan pendaki asing menjadi latar belakang utama kebijakan ini. Salah satunya berujung fatal, sementara dua lainnya menimbulkan luka serius. Situasi ini dinilai mencerminkan lemahnya kontrol keselamatan di jalur tertentu yang terlalu mengandalkan pengalaman pendaki dan teknologi peta digital.

Langkah darurat pun ditempuh, termasuk revisi prosedur operasi standar (SOP) pendakian, pemasangan rambu peringatan, serta inspeksi jalur oleh tim gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, dan komunitas pendaki.

Gunawan menegaskan bahwa jalur pendakian baru akan dibuka kembali setelah proses verifikasi menyeluruh diselesaikan. “Keamanan pendaki adalah prioritas utama,” tandasnya.

Insiden Beruntun

Rentetan kecelakaan di Gunung Rinjani dalam sebulan terakhir menjadi perhatian nasional. Kejadian pertama tercatat pada 21 Juni 2025, saat Juliana Marins, pendaki asal Brasil, dilaporkan jatuh ke jurang sedalam 600 meter. Jenazahnya baru berhasil ditemukan empat hari kemudian.

Selang hampir sebulan, insiden kedua menimpa Benedikt Emmenegger, pendaki asal Swiss berusia 46 tahun. Ia terpeleset di jalur Pelawangan menuju Danau Segara Anak pada Rabu, 16 Juli 2025, dan mengalami luka serius di kepala serta patah tulang. Proses evakuasi dilakukan lewat udara dengan bantuan helikopter.

Ironisnya, hanya berselang sehari, kecelakaan serupa kembali terjadi di lokasi yang nyaris sama. Kali ini, Sarah Tamar van Hulten, wisatawan asal Belanda, dilaporkan jatuh pada Kamis, 17 Juli 2025, sekitar pukul 13.00 WITA. Ia mengalami cedera pada leher dan segera dievakuasi menggunakan helikopter menuju Bali.

Ketiga peristiwa itu terjadi di lintasan yang sama, yaitu jalur Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak, yang dikenal memiliki medan menantang, terjal, dan minim pengamanan teknis.

Sistem Keamanan Disorot

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Yarman, mengungkapkan bahwa jalur yang menjadi lokasi insiden memang memiliki risiko tinggi. “Jalur dari Pelawangan ke Danau cukup curam. Perlu perhatian khusus dari petugas dan pendaki,” ujarnya.

Menurutnya, Benedikt mendaki bersama empat orang termasuk anaknya, dan terjatuh saat turun dari puncak. “Kami belum bisa pastikan penyebab langsung, tapi dugaan awal karena kondisi jalur yang ekstrem,” imbuhnya.

Tim evakuasi terdiri dari berbagai unsur, mulai dari petugas BTNGR, SAR, TNI-Polri, hingga pemandu lokal. Medan yang sulit membuat proses evakuasi penuh tantangan dan mengandalkan peralatan mountaineering serta komunikasi lapangan.

Sementara itu, Kantor SAR Mataram menyebut bahwa proses penyelamatan dilakukan secara cepat setelah laporan diterima. Helikopter SGi Air Bali diterjunkan dan berhasil mengevakuasi korban kurang dari empat jam setelah laporan masuk.

Evaluasi Menyeluruh

Pemerintah menegaskan bahwa penutupan tersebut bukan respons spontan, melainkan bentuk tanggung jawab dalam memastikan sistem pendakian yang aman dan terstruktur. Jalur Pelawangan menuju Danau Segara Anak menjadi titik fokus karena tingkat risikonya tinggi, meski menyajikan panorama yang sangat menarik bagi pendaki.

Selama masa penutupan, penjualan tiket pendakian dihentikan sementara. Dari hampir 6.000 tiket yang terjual hingga akhir tahun, lebih dari 5.000 di antaranya terjadwal pada Juli dan Agustus.

Namun demikian, pendaki yang telah membeli tiket masih diperbolehkan naik hingga titik tertentu, selama tidak melewati zona yang dinyatakan rawan. “Akses menuju Danau Segara Anak ditutup total, tetapi jalur pendakian ke puncak masih dimungkinkan lewat jalur alternatif,” jelas Yarman.

Masyarakat diimbau untuk tidak mencoba mendaki secara ilegal selama masa penutupan. Pemerintah menggarisbawahi bahwa evaluasi ini merupakan komitmen serius untuk menghindari jatuhnya korban jiwa lebih banyak di kemudian hari.

“Penyesuaian jalur, pelatihan petugas, dan fasilitas keselamatan akan ditingkatkan secara menyeluruh,” tegas Budi Gunawan. [*] Berbagai sumber

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|