Tradisi Buka Luwur di Makam Pantaran Boyolali, Simbol Spiritualitas dan Budaya Jawa

1 month ago 20
Tradisi Buka Luwur yang berlangsung di makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi di kompeks makam Pantaran, Boyolali | boyolali.go.id

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tradisi adat Buka Luwur yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Dukuh Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali kembali dilaksanakan pada Jumat (18/7/2025). Seperti tahun-tahun sebelumnya, ritual ini digelar bertepatan dengan Jumat ketiga di bulan Sura (Muharram) dalam kalender Jawa.

Ribuan warga tumpah ruah sejak pagi hari di area kompleks makam, demi mengikuti secara langsung puncak acara Buka Luwur di Makam Pantaran yang menjadi pusat ziarah leluhur.

Tokoh sentral yang dimuliakan dalam tradisi ini adalah Syech Maulana Ibrahim Maghribi. Selain beliau, beberapa tokoh penting lain juga dimakamkan di kompleks ini, seperti Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Pantaran, Ki Ageng Mataram, dan Ki Ageng Kebo Kanigoro.

Diawali Kirab Budaya

Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya yang membawa kain luwur atau penutup makam, sesaji, bunga, serta gunungan hasil bumi. Kirab ini juga menampilkan elemen-elemen simbolik seperti songsong (payung kebesaran) dan ragam sesaji adat.

Setibanya di kompleks makam, rombongan kirab menyerahkan luwur dan perlengkapan ziarah kepada perwakilan Pemkab Boyolali, dalam hal ini diwakili oleh Asisten I Sekda Boyolali, Muhammad Arief Wardianta. Selanjutnya, kain luwur tersebut diserahkan ke juru kunci untuk diganti di pusara Syech Maulana Ibrahim Maghribi.

Prosesi berlanjut dengan penaburan bunga dan pembacaan doa di pusara, menandai puncak peralihan simbolik sekaligus spiritual yang diyakini membawa berkah bagi warga sekitar.

Dihadiri Tokoh Budaya dan Pemerintah Daerah

Acara ini turut dihadiri Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Wandansari atau yang akrab dikenal sebagai Gusti Moeng. Kehadirannya menambah makna simbolis terhadap pelestarian nilai-nilai budaya keraton yang masih hidup di tengah masyarakat Jawa.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Boyolali, Budi Prasetyaningsih atau Ning, menyampaikan bahwa Buka Luwur bukan hanya agenda religi, tapi juga bagian dari upaya revitalisasi budaya lokal.

“Acara ini juga ditujukan untuk menghidupkan kembali warisan budaya leluhur serta mendongkrak pariwisata religi di kawasan Merapi-Merbabu,” jelasnya.

Ia menyebut rangkaian peringatan tahun ini mencakup Khotmil Qur’an yang telah digelar sehari sebelumnya, prosesi puncak Buka Luwur hari ini, serta pementasan wayang kulit lakon Wahyu Katentreman oleh Dalang Ki Hadi Sugino yang dijadwalkan Sabtu malam (19/7/2025).

Simbol Kearifan Lokal

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Arief, Bupati Boyolali menyampaikan bahwa tradisi seperti Buka Luwur menjadi kekuatan kultural yang harus dijaga dan diwariskan. Ia menyebut bahwa akar budaya, nilai keagamaan, dan kearifan lokal adalah fondasi penting dalam perjalanan Boyolali sebagai daerah yang berkembang tanpa kehilangan identitas.

“Budaya bukan sekadar warisan, melainkan jati diri dan kekuatan spiritual masyarakat kita. Karenanya, saya mengajak semua lapisan masyarakat, terutama generasi muda, untuk ikut menjaga dan melestarikan adat istiadat seperti ini,” pesan Bupati seperti dilansir dari boyolali.go.id.

Gunungan Hasil Bumi Diperebutkan Warga

Usai dzikir dan tahlil bersama, acara ditutup dengan tradisi perebutan gunungan hasil bumi yang selalu menjadi daya tarik tersendiri. Warga saling berebut sayuran, buah-buahan, dan hasil tani lainnya yang dipercaya membawa berkah.

Momen tersebut menambah semarak dan menunjukkan antusiasme warga dalam menjaga budaya leluhur yang terus hidup dari generasi ke generasi. [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|