Update Pabrik Bata Ringan Blesscon di Sragen: Tegaskan Komitmen Lingkungan dan Tanggung Jawab Sosial

1 month ago 22
Lokasi pabrik bata ringan merek Blesscon milik PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) di Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen || Huri Yanto

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Setelah sempat dikeluhkan warga dan pengguna jalan terkait aktivitas pabrik bata ringan merek Blesscon milik PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) di Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, pihak manajemen akhirnya memberikan klarifikasi resmi.

Pihak Blesscon menanggapi tiga poin utama keluhan masyarakat yang sebelumnya diberitakan oleh JOGLOSEMARNEWS.COM , yakni mengenai debu, parkir kendaraan di bahu jalan, serta minimnya penerangan di sekitar pabrik.

Dalam pernyataannya, Andhang Wijaya selaku HRD PT Superior Prima Sukses Tbk di Sragen menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen menjalankan proses produksi secara bertanggung jawab serta meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

“PT Superior Prima Sukses Tbk memahami bahwa keberadaan debu dari proses produksi dapat menimbulkan keresahan jika tidak dikelola dengan baik. Untuk itu, sejumlah langkah konkret telah kami lakukan, seperti pembangunan Area Finish Good yang tertutup guna mengurangi debu yang terbawa angin, penyiraman rutin area sekitar pabrik, serta penggunaan dust collector untuk mengolah debu langsung dari sumbernya sebelum menyebar,” terang Andhang kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (29/7/2025).

Penampakan pabrik bata ringan merek Blesscon milik PT SUPERIOR PRIMA SUKSES di Jalan Raya Ngawi – Sragen tepatnya di Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan Kabupaten, Sragen, Jawa Tengah Senin (28/7/2025) Huri Yanto

Selain itu, pihak perusahaan juga telah menanam vegetasi buffer berupa pohon bambu sebagai zona hijau penahan debu dan pendingin lingkungan. Perusahaan juga menjalin koordinasi aktif dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen, termasuk menerima kunjungan dan inspeksi mendadak dari DLH untuk memastikan seluruh proses produksi sesuai ketentuan lingkungan.

“Kami juga melakukan pemantauan emisi dan pemeriksaan kualitas udara secara berkala setiap enam bulan di tiga titik area permukiman warga. Hasilnya menunjukkan kualitas udara masih di bawah ambang batas yang ditetapkan,” tambahnya.

Terkait keluhan soal antrean truk dan gangguan di bahu jalan raya Ngawi–Sragen, Blesscon mengakui adanya kekhawatiran masyarakat.

“Perusahaan telah menyediakan area parkir internal yang mampu menampung lebih dari 100 unit kendaraan armada. Truk yang kerap terlihat parkir di luar merupakan kendaraan eksternal milik vendor. Kami telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan vendor untuk mengatur jadwal dan menertibkan parkir agar tidak mengganggu pengguna jalan. Pemantauan dan evaluasi akan terus kami lakukan,” jelasnya.

Mengenai penerangan jalan, Andhang menyebut Blesscon sebenarnya telah memasang 10 unit lampu jalan di area pabrik dengan jarak tiap 50 meter di sisi kanan dan kiri jalan. Namun, sempat ditemukan adanya oknum yang sengaja mematikan lampu-lampu tersebut dengan alasan yang belum diketahui.

“Saat ini kami sedang menyelidiki dan bekerja sama dengan otoritas setempat untuk mencegah kejadian serupa serta memastikan fasilitas publik ini berfungsi sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Kepala Pabrik Blesscon Sragen, Yermia Mill Head, menambahkan bahwa pihak perusahaan selalu terbuka menerima kritik dan masukan dari masyarakat.

“Kami menganggap masukan dari masyarakat, media, dan dinas terkait sebagai kontrol sosial yang penting. Blesscon akan terus melakukan perbaikan dalam aspek lingkungan, sosial, maupun operasional,” ujar Yermia.

Andhang juga menegaskan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan. “Kami percaya bahwa kolaborasi dan peran aktif warga sekitar merupakan kunci pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Sebagai wujud tanggung jawab sosial, Blesscon juga telah melakukan pengujian udara secara rutin setiap semester di area Toyogo dan Dukuh Kujon. Hasilnya menunjukkan kualitas udara masih dalam ambang normal. Untuk program CSR, saat ini kegiatan yang dilakukan di antaranya donor darah untuk internal karyawan, serta bantuan tunai dan pembangunan yang masih bersifat terbatas.

Sebelumnya, Ketua Fraksi PDIP DPRD Sragen, Sugiyamto, menyoroti langsung keluhan warga terkait debu dan parkir truk yang kerap menimbulkan kecelakaan.

“Perusahaan harus segera menyediakan tempat parkir, entah dengan membeli atau menyewa lahan. Kami beri waktu seminggu. Jika tidak, akan kami panggil pengelola dan dinas terkait,” tegasnya saat ditemui di kantor DPRD Sragen, Senin (28/7/2025).

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Sragen, Suyanto, yang juga warga Sambungmacan, menggambarkan parahnya polusi debu terutama saat pabrik beroperasi 24 jam.

“Debunya membuat trauma. Mobil yang baru dicuci, dalam satu jam sudah bisa ditulisi debu. Banyak tokoh masyarakat mengeluh, tapi tidak digubris. Kondisi parkir truk juga acak-acakan, ditambah minimnya penerangan jalan dari Mahbang hingga Banaran. Baru satu titik yang dibenahi, yakni di Dukuh Pondok,” ungkapnya.

Huri Yanto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|