Waspada! 50 Anak di Kota Solo Suspect Campak, Dinkes Soroti Adanya Kelompok Masyarakat Anti Vaksin

7 hours ago 3

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Sebanyak 50 anak-anak di Kota Solo suspect atau diduga terkena campak. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Retno Erawati Wulandari, data anak yang suspect tersebut telah dikumpulkan dari bulan Januari hingga akhir Maret 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Retno Erawati Wulandari, menjelaskan bahwa puluhan sampel dari anak-anak tersebut saat ini telah dikirim ke laboratorium di Yogyakarta untuk memastikan statusnya.

“Itu sampel kita kumpulkan mulai dari Januari sampai dengan akhir Maret kemarin. Ini baru kita periksakan di lab Yogyakarta. Statusnya saat ini masih gejala, baru cenderung ke arah campak,” ungkap Retno saat ditemui, Kamis (02/04/2026).

Meski demikian, Retno menjelaskan bahwa data tersebut belum positif. Dikarenakan sifatnya masih menunjukkan gejala menyerupai campak.

“Itu sifatnya masih gejala, seperti cenderung ke campak. Makanya teman-teman ambil sampel untuk diperiksa di lab-nya. Nah, itu nanti kita mencarinya setelah ketahuan lab-nya,” terang Retno.

Apabila nanti dinyatakan positif campak. Maka pihak Dinas Kesehatan akan melakukan pengecekan data status terkait imunisasi, hingga lingkungan sekitar. Apakah teman sekolah atau lingkungan keluarga tersebut memiliki riwayat campak.

“Nah, nanti baru kita data lebih rinci setelah itu, setelah kita ada hasil misalnya positif. Memang ini kan kita juga baru melaksanakan program catch up campaign ya, kejar serentak. Harapannya untuk anak-anak yang belum lengkap status imunisasinya itu bisa dilengkapi sekarang,” sambungnya.

Retno menekankan bahwa mengenai persoalan vaksin ini membutuhkan kesadaran para orang tua. Pihaknya mengimbau bagi anak-anak yang belum imunisasi untuk segera dilakukan imunisasi.

“Untuk vaksinasi sebenarnya sudah bagus. Cuman memang ada beberapa masyarakat yang masih mempunyai paham tidak mau imunisasi. Anti vaksin, ini yang perlu disadarkan. Mereka memang benar-benar enggak mau vaksin. Jadi mereka anak-anaknya itu masih zero dose. Zero dose itu tidak divaksin sama sekali,” paparnya.

Anak-anak yang tidak mau divaksin ini kemudian akan menimbulkan kerentanan secara kelompok.

“Kalau sebenarnya lebih banyak yang divaksin. Yang tidak divaksin hanya satu, ini akan timbul kekebal-kekebalan kelompok. Tapi manakala banyak yang tidak mau vaksin, ini artinya kelompoknya ini jadi rentan, rentan terserang virus-virus,” tandasnya. Ando

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|