18 Tahun Pengabdian Neisen Monim di Pelosok Papua yang Terlupakan

4 weeks ago 18

Mengenal Lebih Dekat Sosok Neisen Monim, Nakes yang Tulus

Tak ada listrik 24 jam, tidak ada jaringan internet, tidak ada air bersih, transportasi yang terbatas. Bagaimana seorang tenaga kesehatan Neisen Monim yang bertahan 18 tahun di pedalaman Papua?

Laporan:Erianto_Keerom

Di jantung belantara Papua, di ujung negeri yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, terhampar sebuah kisah tentang pengabdian yang melampaui batas.
Jauh dari gemerlap kota dan fasilitas mewah, jejak langkah seorang perawat yang memilih untuk menabur harapan di tanah yang nyaris terlupakan.

Neisen Monim saat memberikan pelayanan kesehatan di Kampung Semografi, Diatrik Web, Kabupaten Keerom, Papua beberapa waktu lalu. (ERIANTO/CEPOS)

Dialah Neisen Monim, pria tangguh asal Kabupaten Jayapura, yang selama 18 tahun terakhir telah menjadi denyut nadi kesehatan di Distrik Web, Kabupaten Keerom, tepatnya di Kampung Semografi. Semografi sebuah kampung yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Jaraknya 150 kilometer dari Arso, jantung Ibu Kota Kabupaten Keerom.

Butuh waktu 8-9 jam dengan mobil gardan ganda dari pusat kota Keerom, melintasi jalanan berlumpur yang tak kenal ampun untuk bisa tiba di Kampung Semografi. Itulah akses satu-satunya menuju Semografi, kampung tertua dan terjauh di Keerom.

Dulu, bahkan helikopter atau berjalan kaki berhari-hari adalah pilihan tunggal untuk mencapai titik ini. Di sinilah, sejak tahun 2007, Neisen mengikrarkan pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kampung Semografi.

“Dulu sejak awal saya ditugaskan di Semografi harus naik heli atau jalan kaki seharian ke tempat tugas,” kenang Neisen dengan tatapan menerawang, saat berbincang dengan Cenderawasih Pos pada Rabu (30/7).

Mengenal Lebih Dekat Sosok Neisen Monim, Nakes yang Tulus

Tak ada listrik 24 jam, tidak ada jaringan internet, tidak ada air bersih, transportasi yang terbatas. Bagaimana seorang tenaga kesehatan Neisen Monim yang bertahan 18 tahun di pedalaman Papua?

Laporan:Erianto_Keerom

Di jantung belantara Papua, di ujung negeri yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, terhampar sebuah kisah tentang pengabdian yang melampaui batas.
Jauh dari gemerlap kota dan fasilitas mewah, jejak langkah seorang perawat yang memilih untuk menabur harapan di tanah yang nyaris terlupakan.

Neisen Monim saat memberikan pelayanan kesehatan di Kampung Semografi, Diatrik Web, Kabupaten Keerom, Papua beberapa waktu lalu. (ERIANTO/CEPOS)

Dialah Neisen Monim, pria tangguh asal Kabupaten Jayapura, yang selama 18 tahun terakhir telah menjadi denyut nadi kesehatan di Distrik Web, Kabupaten Keerom, tepatnya di Kampung Semografi. Semografi sebuah kampung yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Jaraknya 150 kilometer dari Arso, jantung Ibu Kota Kabupaten Keerom.

Butuh waktu 8-9 jam dengan mobil gardan ganda dari pusat kota Keerom, melintasi jalanan berlumpur yang tak kenal ampun untuk bisa tiba di Kampung Semografi. Itulah akses satu-satunya menuju Semografi, kampung tertua dan terjauh di Keerom.

Dulu, bahkan helikopter atau berjalan kaki berhari-hari adalah pilihan tunggal untuk mencapai titik ini. Di sinilah, sejak tahun 2007, Neisen mengikrarkan pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kampung Semografi.

“Dulu sejak awal saya ditugaskan di Semografi harus naik heli atau jalan kaki seharian ke tempat tugas,” kenang Neisen dengan tatapan menerawang, saat berbincang dengan Cenderawasih Pos pada Rabu (30/7).

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|