LANGKAT — Aktivitas pertambangan galian C di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, semakin meresahkan. Warga Desa Lau Damak mengeluhkan dampak serius dari kegiatan penambangan pasir dan batu yang diduga menyebabkan perubahan aliran sungai serta mengikis lahan perkebunan mereka hingga sekitar delapan hektare.
Salah satu warga terdampak, Anton Barus, menyebut aktivitas tambang di aliran Sungai Berkail diduga dilakukan oleh perusahaan berinisial AM. Ia mengatakan, kegiatan tersebut bukan hal baru, melainkan sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir dengan pola buka-tutup lokasi.
“Pernah beroperasi sekitar tahun 2015, kemudian tutup, lalu buka lagi di lokasi yang sama. Kurang lebih sudah tiga tahun terakhir berjalan,” ujar Barus, Senin (27/4/2026).
Menurut Barus, aktivitas galian tersebut telah merugikan sedikitnya 13 warga yang memiliki lahan di sekitar lokasi tambang. Kebun sawit milik warga kini banyak yang rusak akibat perubahan aliran sungai yang diduga disengaja oleh aktivitas pengerukan.
“Kami dirugikan karena ladang sawit kami terkikis. Aliran sungai dibelokkan, sehingga tanah warga berubah jadi aliran sungai,” katanya.
Ia menambahkan, total lahan terdampak diperkirakan mencapai delapan hektare. Bahkan, ada satu warga yang kehilangan seluruh tanaman sawitnya karena lahannya kini hanya menyisakan batu dan pasir. “Sekitar 8 hektare terdampak. Ada juga satu orang yang lahannya habis total, tinggal batu dan pasir,” ungkapnya.
Warga juga menuding aktivitas tambang dilakukan tanpa memperhatikan dampak lingkungan sekitar. Mereka menilai pengerukan yang dilakukan di Sungai Berkail menyebabkan abrasi semakin parah dan mengubah struktur aliran sungai secara signifikan.
“Kami sesalkan karena pengerukan dilakukan secara brutal, tidak peduli dampak ke masyarakat sekitar,” kata Barus.
Menurutnya, perubahan aliran sungai tersebut membuat kondisi lahan warga semakin kritis dari waktu ke waktu. Warga pun mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada perangkat desa dan pihak terkait, namun belum mendapatkan penyelesaian yang memuaskan.
Barus mengaku, sebelumnya sudah pernah dilakukan pertemuan antara pihak perusahaan dan masyarakat di tingkat desa. Namun, hasil pertemuan tersebut dinilai tidak memberikan solusi nyata bagi warga terdampak.
“Pernah ada pertemuan, tapi tidak ada hasil yang memuaskan. Kami hanya diminta menunggu pertemuan lanjutan, tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dan pihak berwenang dapat turun langsung untuk meninjau lokasi serta memastikan adanya keadilan bagi masyarakat yang terdampak.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Desa Lau Damak, Hendri Sembiring, menyatakan bahwa sebagian keluhan masyarakat sebenarnya sudah pernah dibahas dalam forum bersama pihak terkait.
Menurutnya, sejumlah kebutuhan masyarakat seperti perbaikan jalan dan kontribusi untuk pembangunan desa disebut telah diakomodasi oleh pihak perusahaan. “Kalau terkait kebutuhan masyarakat, seperti jalan dan pembangunan, itu sudah diakomodir,” ujarnya.
Namun terkait dugaan kerusakan lahan dan perubahan aliran sungai, ia mengatakan akan melakukan pengecekan dan tindak lanjut lebih lanjut bersama perangkat desa. “Kalau memang ada persoalan baru seperti itu, akan kami tindak lanjuti dan koordinasikan kembali,” tuturnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas galian C di lokasi tersebut masih berlangsung. Sejumlah alat berat seperti ekskavator dan mesin pemecah batu (crusher) terlihat beroperasi, sementara deretan truk tampak bersiap mengangkut material hasil pengerukan. (ted/ila)
LANGKAT — Aktivitas pertambangan galian C di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, semakin meresahkan. Warga Desa Lau Damak mengeluhkan dampak serius dari kegiatan penambangan pasir dan batu yang diduga menyebabkan perubahan aliran sungai serta mengikis lahan perkebunan mereka hingga sekitar delapan hektare.
Salah satu warga terdampak, Anton Barus, menyebut aktivitas tambang di aliran Sungai Berkail diduga dilakukan oleh perusahaan berinisial AM. Ia mengatakan, kegiatan tersebut bukan hal baru, melainkan sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir dengan pola buka-tutup lokasi.
“Pernah beroperasi sekitar tahun 2015, kemudian tutup, lalu buka lagi di lokasi yang sama. Kurang lebih sudah tiga tahun terakhir berjalan,” ujar Barus, Senin (27/4/2026).
Menurut Barus, aktivitas galian tersebut telah merugikan sedikitnya 13 warga yang memiliki lahan di sekitar lokasi tambang. Kebun sawit milik warga kini banyak yang rusak akibat perubahan aliran sungai yang diduga disengaja oleh aktivitas pengerukan.
“Kami dirugikan karena ladang sawit kami terkikis. Aliran sungai dibelokkan, sehingga tanah warga berubah jadi aliran sungai,” katanya.
Ia menambahkan, total lahan terdampak diperkirakan mencapai delapan hektare. Bahkan, ada satu warga yang kehilangan seluruh tanaman sawitnya karena lahannya kini hanya menyisakan batu dan pasir. “Sekitar 8 hektare terdampak. Ada juga satu orang yang lahannya habis total, tinggal batu dan pasir,” ungkapnya.
Warga juga menuding aktivitas tambang dilakukan tanpa memperhatikan dampak lingkungan sekitar. Mereka menilai pengerukan yang dilakukan di Sungai Berkail menyebabkan abrasi semakin parah dan mengubah struktur aliran sungai secara signifikan.
“Kami sesalkan karena pengerukan dilakukan secara brutal, tidak peduli dampak ke masyarakat sekitar,” kata Barus.
Menurutnya, perubahan aliran sungai tersebut membuat kondisi lahan warga semakin kritis dari waktu ke waktu. Warga pun mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada perangkat desa dan pihak terkait, namun belum mendapatkan penyelesaian yang memuaskan.
Barus mengaku, sebelumnya sudah pernah dilakukan pertemuan antara pihak perusahaan dan masyarakat di tingkat desa. Namun, hasil pertemuan tersebut dinilai tidak memberikan solusi nyata bagi warga terdampak.
“Pernah ada pertemuan, tapi tidak ada hasil yang memuaskan. Kami hanya diminta menunggu pertemuan lanjutan, tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dan pihak berwenang dapat turun langsung untuk meninjau lokasi serta memastikan adanya keadilan bagi masyarakat yang terdampak.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Desa Lau Damak, Hendri Sembiring, menyatakan bahwa sebagian keluhan masyarakat sebenarnya sudah pernah dibahas dalam forum bersama pihak terkait.
Menurutnya, sejumlah kebutuhan masyarakat seperti perbaikan jalan dan kontribusi untuk pembangunan desa disebut telah diakomodasi oleh pihak perusahaan. “Kalau terkait kebutuhan masyarakat, seperti jalan dan pembangunan, itu sudah diakomodir,” ujarnya.
Namun terkait dugaan kerusakan lahan dan perubahan aliran sungai, ia mengatakan akan melakukan pengecekan dan tindak lanjut lebih lanjut bersama perangkat desa. “Kalau memang ada persoalan baru seperti itu, akan kami tindak lanjuti dan koordinasikan kembali,” tuturnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas galian C di lokasi tersebut masih berlangsung. Sejumlah alat berat seperti ekskavator dan mesin pemecah batu (crusher) terlihat beroperasi, sementara deretan truk tampak bersiap mengangkut material hasil pengerukan. (ted/ila)

6 hours ago
4

















































