Yang Tercecer Dari Pelaksanaan Festival Colo Sagu 2026
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, sekelompok orang di Papua memilih berjalan ke arah sebaliknya. Mereka kembali menoleh ke hutan-hutan sagu, mencari akar identitas yang perlahan mulai tergerus zaman.
Laporan Karolus Daot_Jayapura
Selama tiga hari, 19 hingga 21 Juni 2026, Kota Jayapura menjadi ruang perjumpaan bagi para pejuang sagu. Mulai dari tokoh politik, akademisi, mahasiswa, pelaku UMKM, seniman hingga masyarakat adat berkumpul dalam Festival Colo Sagu 2026 yang digelar Yayasan Colo Sagu Nusantara bersama Polresta Jayapura Kota.
Festival yang berlangsung di halaman Kantor DPR Papua dan Kampus Universitas Cenderawasih itu bukan sekadar perayaan kuliner tradisional. Di balik aroma papeda dan aneka olahan sagu yang memenuhi area festival, tersimpan kegelisahan besar tentang masa depan salah satu warisan terpenting orang Papua.
Gerakan Colo Sagu bukanlah sesuatu yang lahir secara tiba-tiba. Inisiatif ini mulai digelorakan sejak 2023 saat Kombes Pol Fredrickus W.A. Maclarimboen masih menjabat sebagai Kapolres Jayapura. Berbagai kegiatan dilakukan untuk mengajak masyarakat kembali mengenal dan mencintai sagu, mulai dari penanaman kembali pohon sagu, edukasi kepada masyarakat hingga kampanye pelestarian dusun-dusun sagu.
Ketika berpindah tugas menjadi Kapolresta Jayapura Kota pada 2025, semangat itu tidak ikut berpindah. Justru gerakan tersebut dibawa ke pusat Provinsi Papua dan berkembang menjadi festival tahunan yang semakin besar. Bagi Fredrickus, kecintaannya terhadap sagu lahir dari kesadaran sebagai orang Papua.
“Sagu bukan hanya makanan. Ini jati diri orang Papua,” ungkapnya saat pembukaan Festival Sagu di Halaman Kantor DPRP, Jumat (19/6)
Karena itulah, setiap penyelenggaraan Festival Colo Sagu tidak hanya berbicara tentang pangan lokal. Festival juga menjadi ruang pemberdayaan bagi pelaku UMKM, seniman lokal, komunitas lingkungan, serta generasi muda Papua.
Panggung hiburan yang menghadirkan musisi-musisi lokal menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Sagu dipertemukan dengan seni, ekonomi kreatif, dan semangat anak muda.
Salah satu momen yang paling menyita perhatian peserta seminar adalah kehadiran mantan Gubernur Irian Jaya dan Papua, Barnabas Suebu.
Di usia 80 tahun, Barnabas tampil bugar dan penuh energi. Saat berbicara di hadapan peserta seminar, di Kampus Uncen, ia mengungkapkan bahwa salah satu rahasia kesehatannya adalah kebiasaan mengonsumsi sagu sejak kecil. Bagi Barnabas, sagu adalah warisan kehidupan yang diberikan leluhur Papua.
Ia menjelaskan bagaimana seluruh bagian pohon sagu memiliki manfaat bagi manusia. Daunnya digunakan untuk berbagai kebutuhan hidup, batangnya menjadi habitat berbagai organisme, sementara sari patinya menjadi sumber pangan utama masyarakat. Bahkan ketika pohon sagu telah membusuk, manfaatnya belum berakhir.
Menurut Barnabas, batang sagu yang lapuk menjadi tempat tumbuhnya jamur yang sejak dahulu dimanfaatkan masyarakat Papua sebagai bagian dari pengobatan tradisional.
Saya masih ingat, bagaimana orang tua dahulu mengambil jamur sagu untuk membantu proses pemulihan ibu yang baru melahirkan. Karena ulat sagu ini kaya akan protein dan sangat baik untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil maupun anak-anak. Sehingga dulu kalau ibu hamil itu sangat disarankan makan ulat sagu,” kenangnya.
Ia pun menceritakan pengalamannya sebagai Duta Besar Indonesia di Meksiko semakin menguatkan kecintaannya terhadap sagu. Ia bahkan rela menempuh perjalanan panjang selama dua hari hanya untuk mendapatkan sagu di Amerika. “Saya berpesan, kalau ingin hidup sehat, konsumsilah sagu,” ujarnya.
Namun di balik cerita tentang manfaat sagu, tersimpan kenyataan yang mengkhawatirkan.
Guru Besar Antropologi Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Akhmad Kadir, mengingatkan bahwa menyusutnya hutan sagu di Papua bukan sekadar persoalan lingkungan atau pangan.
Menurutnya, ancaman terbesar dari hilangnya sagu adalah hilangnya identitas orang Papua itu sendiri. “Sagu adalah identitas orang Papua,” tegasnya di hadapan peserta seminar Nasional sagu di Kampus Uncen.
Selama bertahun-tahun melakukan penelitian lapangan, Akhmad menemukan bahwa sagu memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, hingga sistem pengetahuan masyarakat adat.
Di balik setiap dusun sagu terdapat pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Masyarakat adat memahami jenis-jenis sagu, cara pengelolaan, waktu panen hingga pemanfaatannya dalam berbagai ritual adat.
“Ketika hutan sagu hilang, maka bukan hanya pohonnya yang lenyap. Pengetahuan tradisional, sejarah, serta hubungan masyarakat dengan alam ikut menghilang,” ujarnya.
Pada banyak komunitas adat di Papua, sagu hadir dalam hampir seluruh siklus kehidupan, mulai dari penyambutan tamu, penyelesaian konflik adat, pesta adat hingga prosesi kematian. “Sagu adalah kehidupan dan bagian dari sistem nilai yang hidup dalam masyarakat adat,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Antropolog Universitas Cenderawasih, Abner Krey. Menurutnya, masyarakat Papua saat ini sedang menghadapi perubahan besar dalam pola konsumsi pangan. Jika dahulu sagu menjadi makanan pokok, kini masyarakat semakin bergantung pada beras, terutama di wilayah perkotaan.
Perubahan tersebut dinilai berisiko terhadap ketahanan pangan Papua. Ketergantungan pada beras membuat Papua rentan terhadap gangguan distribusi, kenaikan harga, maupun persoalan pasokan dari luar daerah.
Di sisi lain, hutan sagu yang selama ini menjadi penyangga kehidupan masyarakat adat terus mengalami tekanan akibat pembukaan lahan, pembangunan dan perubahan tata ruang. Abner bahkan menyebut sejumlah kajian menunjukkan populasi hutan sagu di Papua mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
Padahal Papua merupakan salah satu wilayah dengan ekosistem sagu terbesar di dunia. “Ketahanan pangan Papua tidak bisa hanya diukur dari banyaknya beras yang masuk. Kita harus melihat apakah masyarakat masih memiliki akses terhadap pangan yang berasal dari lingkungan mereka sendiri,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong perlindungan kawasan sagu, penguatan UMKM berbasis sagu, serta kebijakan yang menempatkan sagu sebagai bagian utama dalam strategi ketahanan pangan daerah.
Di antara para pembicara seminar, suara generasi muda juga hadir. Michael Jhon Yarisetouw, salah satu penggagas Festival Colo Sagu 2026, mengingatkan bahwa ancaman terhadap sagu kini telah menjadi ancaman terhadap masa depan Papua.
Menurutnya, persoalan terbesar bukan hanya berkurangnya hutan sagu, tetapi semakin jauhnya generasi muda dari pengetahuan tentang sagu itu sendiri. Jika anak-anak muda Papua tidak lagi mengenal sagu, maka warisan pengetahuan leluhur yang telah hidup ratusan tahun dapat hilang dalam satu generasi.
“Karena itu, Saya mengajak mahasiswa dan kaum muda untuk terlibat dalam penelitian, inovasi, kampanye lingkungan hingga advokasi perlindungan kawasan sagu,” ujar Michael.
Melalui gerakan yang mereka sebut sebagai Saguisme, Yayasan Colo Sagu Nusantara berupaya mengembalikan sagu sebagai simbol kedaulatan pangan Papua. “Sagu harus kembali menjadi kebanggaan orang Papua. Kita tidak boleh menjadi asing terhadap kekayaan yang selama ini menopang kehidupan kita,” ujarnya.
Sagu bukan sekadar makanan, ia adalah sejarah yang hidup, budaya yang diwariskan, identitas yang mengakar, sekaligus harapan bagi ketahanan pangan Papua di masa depan. Ketika hutan sagu dijaga, sesungguhnya yang sedang dijaga bukan hanya pohon-pohon yang tumbuh di rawa-rawa Papua. Yang sedang dipertahankan adalah jati diri sebuah bangsa yang telah hidup bersama sagu sejak ratusan tahun lalu. “Karena bagi orang Papua, menjaga sagu berarti menjaga kehidupan itu sendiri,” pungkas Michael. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q


















































