Pasien Terus Bertambah, Rumah Sakit Kewalahan
SENTANI – Kasus dugaan keracunan usai mengonsumsi makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Jika sebelumnya diduga terjadi di SMA N 5 Kota Jayapura, kali ini terjadi di Kabupaten Jayapura. Insiden tersebut menimpa para siswa di wilayah Distrik Depapre, Selasa (4/8).
Puluhan siswa PAUD, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis di sekolah mereka kemarin. Para siswa ini mulai merasakan gejala muntah-muntah dan lemas setelah pulang sekolah sehingga langsung dilarikan ke Puskesmas Depapre untuk mendapatkan penanganan medis.
Kapolsek Depapre, Ipda Akhsani saat dikonfirmasi via telepon, membenarkan adanya dugaan keracunan yang dialami oleh para siswa. Kapolsek mengatakan hingga Selasa sore sudah ada 30 orang yang dirawat di Puskesmas Depapre, data tersebut kemungkinan bertambah. “Dari data yang kita miliki hingga selasa sore tadi ada 30 siswa terdiri dari siswa PAUD, SD dan SMP yang datang untuk mendapatkan perawatan di puskesmas depapre,”katanya.
“Dari 30 pasien itu, beberapa pasien sudah dirujuk ke RSUD Yowari untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut,” sambungnya. Sementara itu, Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan mengatakan, sampai dengan saat ini pihaknya beserta anggota masih membantu di Puskesmas Depapre. “Ini sementara sebagian siswa sudah kita evakuasi ke RSUD Yowari, jika tidak cukup akan kami bawa ke RS Bhayangkara. Kami tetap menjaga keamanan sambil membantu proses evakuasi para korban,” kata Dion.
Bupati Jayapura, Yunus Wonda terlihat ikut mengangkat seorang pasien saat tiba di rumah sakit tadi malam. Dilaporkan ada puluhan siswa dilarikan ke rumah sakit dan diduga keracunan usai mengkonsumsi menu MBGKepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, dr. Anton Mote, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengatakan tim kesehatan saat ini tengah fokus melakukan penanganan terhadap para siswa yang mengalami keluhan.
“Saya sedang berada di Puskesmas Depapre untuk melihat langsung kondisi di lokasi. Sebagian pasien telah dirujuk ke RSUD Yowari, sementara sebagian lainnya diarahkan ke Puskesmas Komba karena mempertimbangkan ketersediaan tempat tidur dan fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar dr. Anton saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Menurutnya, hingga kini proses pendataan dan penanganan masih berlangsung sehingga pihaknya belum dapat menyampaikan jumlah pasti korban maupun penyebab dugaan keracunan tersebut. “Untuk data pastinya, saya belum bisa memberikan keterangan karena saat ini kami masih fokus menangani para pasien,” katanya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa yang terdampak serta berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan untuk memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis secara optimal. Sementara, Sekretaris Komisi A DPRK Jayapura, Ferianto Ragalawa, meminta dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara dihentikan operasionalnya.
Menurut Ferianto, penghentian sementara perlu dilakukan sampai seluruh proses pemeriksaan dan evaluasi terhadap makanan serta standar pengolahan di dapur SPPG selesai dilakukan. “Untuk sementara dapur tersebut harus ditutup dulu. Periksa semua standar yang ada di dapur, apakah sudah sesuai aturan atau tidak, dan cari tahu penyebabnya,” ujar Ferianto.
Ia juga meminta Pansus MBG DPRK Jayapura mengambil langkah cepat dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap standar operasional dapur SPPG, termasuk proses pengolahan dan penyediaan makanan kepada siswa. Ferianto menegaskan, langkah tersebut bukan untuk menghentikan program MBG, tetapi sebagai upaya memastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar aman dan memenuhi standar kesehatan.
“Setelah ada hasil pemeriksaan, baru bisa dibuka dan beroperasi kembali,” katanya. Ferianto menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, jumlah anak yang mengalami keluhan diduga akibat makanan tersebut mencapai sekitar 20 orang. Para siswa dilaporkan berdatangan ke Puskesmas Depapre sejak sore hingga malam untuk mendapatkan penanganan medis.
Ia meminta persoalan tersebut segera ditangani karena menyangkut keselamatan anak-anak yang merupakan generasi penerus Papua. “Kasihan anak-anak kita. Mereka adalah generasi masa depan Papua. Kalau sampai terjadi sesuatu, tentu sangat disayangkan,” ujarnya. Sebagai komisi yang membidangi pemerintahan, hukum dan keamanan, Ferianto menilai aspek keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian utama dalam penanganan kejadian tersebut.
Ia berharap pemeriksaan dapat segera dilakukan untuk memastikan penyebab dugaan keracunan dan mencegah kejadian serupa kembali terjadi. Pantauan Cenderawasih Pos di RS Yowari sedikitnya ada 70 pasien yang dirawat sedangkan pasien yang belum tertangani langsung dialihkan ke beberapa rumah sakit lain.
Sanking banyaknya pasien, Bupati Yunus Wonda juga terlihat ikut menggendong seorang bocah ketika baru sampai di rumah sakit. Sementara itu mobil ambulans hingga pukul 23.30 WIT tadi malam masih terdengar wira wiri menjemput dan menggeser pasien. (ana/dil/ade)
Pasien Terus Bertambah, Rumah Sakit Kewalahan
SENTANI – Kasus dugaan keracunan usai mengonsumsi makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Jika sebelumnya diduga terjadi di SMA N 5 Kota Jayapura, kali ini terjadi di Kabupaten Jayapura. Insiden tersebut menimpa para siswa di wilayah Distrik Depapre, Selasa (4/8).
Puluhan siswa PAUD, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis di sekolah mereka kemarin. Para siswa ini mulai merasakan gejala muntah-muntah dan lemas setelah pulang sekolah sehingga langsung dilarikan ke Puskesmas Depapre untuk mendapatkan penanganan medis.
Kapolsek Depapre, Ipda Akhsani saat dikonfirmasi via telepon, membenarkan adanya dugaan keracunan yang dialami oleh para siswa. Kapolsek mengatakan hingga Selasa sore sudah ada 30 orang yang dirawat di Puskesmas Depapre, data tersebut kemungkinan bertambah. “Dari data yang kita miliki hingga selasa sore tadi ada 30 siswa terdiri dari siswa PAUD, SD dan SMP yang datang untuk mendapatkan perawatan di puskesmas depapre,”katanya.
“Dari 30 pasien itu, beberapa pasien sudah dirujuk ke RSUD Yowari untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut,” sambungnya. Sementara itu, Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan mengatakan, sampai dengan saat ini pihaknya beserta anggota masih membantu di Puskesmas Depapre. “Ini sementara sebagian siswa sudah kita evakuasi ke RSUD Yowari, jika tidak cukup akan kami bawa ke RS Bhayangkara. Kami tetap menjaga keamanan sambil membantu proses evakuasi para korban,” kata Dion.
Bupati Jayapura, Yunus Wonda terlihat ikut mengangkat seorang pasien saat tiba di rumah sakit tadi malam. Dilaporkan ada puluhan siswa dilarikan ke rumah sakit dan diduga keracunan usai mengkonsumsi menu MBGKepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, dr. Anton Mote, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengatakan tim kesehatan saat ini tengah fokus melakukan penanganan terhadap para siswa yang mengalami keluhan.
“Saya sedang berada di Puskesmas Depapre untuk melihat langsung kondisi di lokasi. Sebagian pasien telah dirujuk ke RSUD Yowari, sementara sebagian lainnya diarahkan ke Puskesmas Komba karena mempertimbangkan ketersediaan tempat tidur dan fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar dr. Anton saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Menurutnya, hingga kini proses pendataan dan penanganan masih berlangsung sehingga pihaknya belum dapat menyampaikan jumlah pasti korban maupun penyebab dugaan keracunan tersebut. “Untuk data pastinya, saya belum bisa memberikan keterangan karena saat ini kami masih fokus menangani para pasien,” katanya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa yang terdampak serta berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan untuk memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis secara optimal. Sementara, Sekretaris Komisi A DPRK Jayapura, Ferianto Ragalawa, meminta dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara dihentikan operasionalnya.
Menurut Ferianto, penghentian sementara perlu dilakukan sampai seluruh proses pemeriksaan dan evaluasi terhadap makanan serta standar pengolahan di dapur SPPG selesai dilakukan. “Untuk sementara dapur tersebut harus ditutup dulu. Periksa semua standar yang ada di dapur, apakah sudah sesuai aturan atau tidak, dan cari tahu penyebabnya,” ujar Ferianto.
Ia juga meminta Pansus MBG DPRK Jayapura mengambil langkah cepat dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap standar operasional dapur SPPG, termasuk proses pengolahan dan penyediaan makanan kepada siswa. Ferianto menegaskan, langkah tersebut bukan untuk menghentikan program MBG, tetapi sebagai upaya memastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar aman dan memenuhi standar kesehatan.
“Setelah ada hasil pemeriksaan, baru bisa dibuka dan beroperasi kembali,” katanya. Ferianto menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, jumlah anak yang mengalami keluhan diduga akibat makanan tersebut mencapai sekitar 20 orang. Para siswa dilaporkan berdatangan ke Puskesmas Depapre sejak sore hingga malam untuk mendapatkan penanganan medis.
Ia meminta persoalan tersebut segera ditangani karena menyangkut keselamatan anak-anak yang merupakan generasi penerus Papua. “Kasihan anak-anak kita. Mereka adalah generasi masa depan Papua. Kalau sampai terjadi sesuatu, tentu sangat disayangkan,” ujarnya. Sebagai komisi yang membidangi pemerintahan, hukum dan keamanan, Ferianto menilai aspek keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian utama dalam penanganan kejadian tersebut.
Ia berharap pemeriksaan dapat segera dilakukan untuk memastikan penyebab dugaan keracunan dan mencegah kejadian serupa kembali terjadi. Pantauan Cenderawasih Pos di RS Yowari sedikitnya ada 70 pasien yang dirawat sedangkan pasien yang belum tertangani langsung dialihkan ke beberapa rumah sakit lain.
Sanking banyaknya pasien, Bupati Yunus Wonda juga terlihat ikut menggendong seorang bocah ketika baru sampai di rumah sakit. Sementara itu mobil ambulans hingga pukul 23.30 WIT tadi malam masih terdengar wira wiri menjemput dan menggeser pasien. (ana/dil/ade)


















































