Berpantun saat Diwisuda, Laura Sitindaon Kaget Pantunnya Booming di Jagat Maya

1 month ago 12

SUMUTPOS.CO – Sosok Laura Amanda Sari Sitindaon SH langsung viral usai menyampaikan kata sambutan mewakili wisudawan dan wisudawati Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Gedung Selecta Medan, 8 Juli lalu. Laura pun kaget karena
mendadak booming.

PANTUN Laura sontak mengisi berbagai media sosial di jagat maya. “Dari Klaten ke Argentina. Jangan lupa ke Kota Kudus. Agar si Kristen ini tak ke mana-mana, adakah beasiswa S2 sampai lulus,” kata Laura berpantun.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd bersama Rektor UMSU Prof Dr Agussani MAP yang hadir pada acara wisuda ini langsung tersenyum menyimak pantun dari lulusan berprestasi Fakultas Hukum UMSU tersebut.

Senyuman juga terlihat di wajah orangtua Laura, para wisudawan/wisudawati UMSU dan tetamu yang memenuhi lantai lima dan enam Gedung Selecta Medan. Wisuda UMSU pada 8-9 Juli 2025 diikuti 1.956 lulusan doktor, magister, dokter dan sarjana.

Sang menteri sempat terheran-heran dengan dua kalimat awal pantun Laura. “Saya tidak tahu, tadi pantun dari Klaten ke Argentina, kemudian tersesat di Kudus. Tapi pesannya, saya kira sudah sampai. Insya Allah, aspirasinya bisa dipenuhi Pak Rektor. Kalau Pak Rektor tak memenuhi, saya gunakan otoritas sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah,” ungkap Abdul Mu’ti.

Rektor UMSU Prof Dr Agussani MAP melalui sebuah pantun pun memenuhi aspirasi Laura. “Terbang tinggi si Burung Cendana. Terbang berpaut si Burung Tempua. Laura jangan ke mana-mana, Ananda telah resmi menjadi mahasiswa S2,” kata rektor yang langsung diapresiasi para peserta dan undangan wisuda UMSU.

Kaget Booming

Putri kedua dari lima bersaudara pasangan Sarwedi Sitindaon yang bekerja sebagai petani, dengan Dormaida Sipayung ini kaget karena dirinya booming dan viral. “Perasaannya terharu, bangga dan bahagia jadi bagian dari UMSU. Laura juga bahagia, karena ternyata speech kemarin sempat booming dan mampu membanggakan UMSU. Semoga mampu menginspirasi banyak orang dan menanamkan jiwa tolerasi yang kuat di Indonesia,” kata Laura kepada Sumut Pos di Medan, Senin (14/7).

Dari mana Laura dapat inspirasi menulis pantun tersebut? Alumni SD Negeri 023 Sei Medang, SMP Negeri 5 Pangkalan Kuras, dan SMA Swasta Unggul Sakti ini mengutarakan, pantunnya terinspirasi dari pantun ‘adakah seratus’.

Lantas, sudahkah Laura Amanda Sari Sitindaon mendaftar jadi mahasiswa S2 UMSU setelah mendapat beasiswa dari rektor dan menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah? Ternyata saat ini Laura sedang melaksanakan kegiatan Internal Moot Court Competition sebagai panitia pelaksana sampai 26 Juli 2025 sehingga dia belum jadi mendaftar kuliah magister. “Pendaftaran S2 juga masih panjang, Laura akan mendaftar setelah selesai melaksanakan Internal Moot Court Competition,” ujarnya.

Pilih UMSU

Bagi warga Riau ini, UMSU sejak awal jadi pilihan terbaiknya untuk melanjutkan jenjang pendidikan sejak SMA. Padahal di Riau juga memiliki banyak perguruan tinggi dan mendapatkan beasiswa sebagai mahasiswa perguruan tinggi di Tangerang Selatan. Ia lantas kuliah S1 di UMSU meski tanpa beasiswa.

“Pada saat itu, UMSU adalah universitas yang mewadahi pendaftaran online dan sudah mengikuti perkembangan teknologi di era pandemi Covid-19. Kemudian, Bapak hanya memberikan izin kuliah di Pulau Sumatera yang memiliki akreditasi terbaik. Pilihan saya jatuh pada UMSU,” katanya.

Ia sempat was-was kuliah di UMSU. “Wah seperti ini dunia kuliah. Semua terlihat begitu Islami dan penuh nuansa dakwah serta jargon-jargon pergerakan. Saat itu, Bapak mengatakan kepada Saya. Nang (anak, red), pindahlah, atau istirahat setahun. Nggak apa-apa, Bapak lebih sayang pada mentalmu. Nanti kau dikucilkan boru,” ungkap Laura.

Ia pun menanggapi pesan bapaknya dengan tersenyum. “Pak, coba dulu. Begitu saya menanggapinya. Walau dalam hati saya bertanya-tanya, apakah saya bisa diterima? Apakah, Saya pantas?” ujarnya penuh haru.

Semester berikutnya, keraguan itu muncul lagi oleh orangtua Laura. “Lalu, saya jawab. Aku nggak dikucilkan. Aku diterima di sini. Bapak saya, mulai memahami bahwa di sini tidak ada ruang untuk diskriminasi,” ujarnya.

Bahkan saat kuliah, ia dipercaya sebagai sekretaris Komunitas Peradilan Semu. Memimpin 17 anggota sebagai ketua delegasi nasional Moot Court Competition. Menjadi pemateri sekaligus coaching di Universitas Asahan.

“Paling membekas saat kuliah di UMSU adalah ikut program wakaf Al-Quran di Bulan Ramadan tahun 2024. Ini bukan hanya pengalaman lintas iman, tetapi bagaimana kita belajar tentang kebersamaan, toleransi, dan kemanusiaan,” ungkapnya.

Laura juga mengatakan, jika teman-temannya pernah mendengar kalimat toleransi, di kampus UMSU ini bukan hanya sebuah jargon. “Tapi nilai indah yang diimplementasikan oleh UMSU yang mengajarkan bahwa rasa hormat, kasih dan toleransi adalah pondasi peradaban. Karena sampai detik ini diwisuda, saya masih seorang Kristen Protestan di tengah-tengah ramainya wisudawan muslim di UMSU,” terangnya.

Lantas apa cita-citanya? Perempuan kelahiran Petapahan, daerah dekat Pekanbaru, pada 14 Agustus 2004 ini berkeinginan menjadi akademisi dan praktisi hukum. Pilihannya ingin menjadi jaksa.

Ia percaya kata-kata dari Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. “Saya yakin dan percaya, teman-teman sudah menggunakan idealisme itu untuk menuntut ilmu di UMSU tercinta,” pungkas Laura. (dmp/adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|