TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Satuan Tugas (Satgas) Ketahanan Pangan Kota Tebingtinggi melakukan peninjauan ke beberapa pasar, kilang padi, dan toko grosir sembako di wilayah Kota Tebingtinggi, Selasa (5/8). Peninjauan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga, memastikan ketersediaan bahan pangan pokok, dan mencegah praktik kecurangan seperti pengoplosan beras.
Dalam peninjauan ini, tim satgas yang terdiri dari perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Polres Tebingtinggi, Kejaksaan Negeri (Kejari), dan Koramil 13 Tebingtinggi, dibagi menjadi tiga kelompok untuk lokasi berbeda.
Tim pertama meninjau Pasar Gambir, Toko Sembako AJ Jalan Iskandarmuda, dan UD Kilang Padi Kamal Jalan Yos Sudarso. Sedangkan tim kedua ke Pasar Inpres, UD Semesta Jalan Soekarno Hatta, dan Kilang Padi Cinta Damai Jalan Soekarno Hatta. Selanjutnya untuk tim ketiga di Pasar Sakti, UD Sembiring Jalan Soekarno Hatta, dan Kilang Padi Cipanas Jalan Letda Sujono.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan, Erni Widya, yang mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tebingtinggi, Selasa, menyampaikan, stok bahan pangan pokok secara umum masih aman dan mencukupi.
“Untuk stok beras, minyak goreng, gula, aneka bawang, cabai, telur, daging, ikan, dan sayuran di pasar masih dalam posisi aman dan cukup,” ungkap Erni. Meskipun demikian, Erni mencatat adanya peningkatan harga pada beberapa komoditas, terutama beras dan sayuran.
“Harga beras di pasar masih tinggi, sekitar Rp16.000 per kilogram untuk beras medium, dan Rp16.500 untuk beras premium. Komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan berbagai jenis sayuran, juga mengalami kenaikan,” bebernya.
Dia juga menuturkan, harga gula dan minyak goreng cenderung stabil. Minyak goreng berada di kisaran Rp16.000 per liter, sementara gula pasir Rp16.500 per kilogram. Terkait isu pengoplosan beras dan ketidaksesuaian label kemasan, Erni memastikan, tim tidak menemukan adanya indikasi kecurangan tersebut.
“Dari hasil pemantauan kami di kilang padi dan toko grosir, tidak ada indikasi pengoplosan beras atau pencantuman kualifikasi yang berbeda dengan isi kemasan. Baik dari jenis beras, derajat sosoh, derajat patah, maupun volume, semuanya sesuai,” pungkasnya. (ian/saz)
TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Satuan Tugas (Satgas) Ketahanan Pangan Kota Tebingtinggi melakukan peninjauan ke beberapa pasar, kilang padi, dan toko grosir sembako di wilayah Kota Tebingtinggi, Selasa (5/8). Peninjauan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga, memastikan ketersediaan bahan pangan pokok, dan mencegah praktik kecurangan seperti pengoplosan beras.
Dalam peninjauan ini, tim satgas yang terdiri dari perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Polres Tebingtinggi, Kejaksaan Negeri (Kejari), dan Koramil 13 Tebingtinggi, dibagi menjadi tiga kelompok untuk lokasi berbeda.
Tim pertama meninjau Pasar Gambir, Toko Sembako AJ Jalan Iskandarmuda, dan UD Kilang Padi Kamal Jalan Yos Sudarso. Sedangkan tim kedua ke Pasar Inpres, UD Semesta Jalan Soekarno Hatta, dan Kilang Padi Cinta Damai Jalan Soekarno Hatta. Selanjutnya untuk tim ketiga di Pasar Sakti, UD Sembiring Jalan Soekarno Hatta, dan Kilang Padi Cipanas Jalan Letda Sujono.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan, Erni Widya, yang mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tebingtinggi, Selasa, menyampaikan, stok bahan pangan pokok secara umum masih aman dan mencukupi.
“Untuk stok beras, minyak goreng, gula, aneka bawang, cabai, telur, daging, ikan, dan sayuran di pasar masih dalam posisi aman dan cukup,” ungkap Erni. Meskipun demikian, Erni mencatat adanya peningkatan harga pada beberapa komoditas, terutama beras dan sayuran.
“Harga beras di pasar masih tinggi, sekitar Rp16.000 per kilogram untuk beras medium, dan Rp16.500 untuk beras premium. Komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan berbagai jenis sayuran, juga mengalami kenaikan,” bebernya.
Dia juga menuturkan, harga gula dan minyak goreng cenderung stabil. Minyak goreng berada di kisaran Rp16.000 per liter, sementara gula pasir Rp16.500 per kilogram. Terkait isu pengoplosan beras dan ketidaksesuaian label kemasan, Erni memastikan, tim tidak menemukan adanya indikasi kecurangan tersebut.
“Dari hasil pemantauan kami di kilang padi dan toko grosir, tidak ada indikasi pengoplosan beras atau pencantuman kualifikasi yang berbeda dengan isi kemasan. Baik dari jenis beras, derajat sosoh, derajat patah, maupun volume, semuanya sesuai,” pungkasnya. (ian/saz)