MEDAN, SUMUTPOS.CO – Gelombang panas yang melanda Kota Medan sepanjang Juni hingga Juli 2025 berdampak serius terhadap kesehatan warga. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan mencatat lonjakan signifikan jumlah pasien, terutama yang mengalami gangguan pernapasan dan pencernaan.
Kepala Tim Hukum dan Humas RSUD dr Pirngadi Medan, Gibson Girsang, mengungkapkan bahwa selama tiga pekan terakhir, terjadi peningkatan tajam kunjungan pasien, baik rawat inap maupun rawat jalan.
“Dalam tiga minggu ini, kita mengalami peningkatan jumlah pasien. Baik yang rawat inap maupun rawat jalan,” ujar Gibson kepada wartawan, Kamis (31/7/2025).
Data menunjukkan, jumlah pasien rawat inap yang sebelumnya berkisar antara 115 hingga 120 orang, kini melonjak hingga 143 pasien. Sedangkan untuk layanan rawat jalan, jumlah pasien pada Juni tercatat sebanyak 6.794 orang, meningkat drastis menjadi 8.147 pasien pada Juli 2025.
Menurut Gibson, mayoritas pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas dan gangguan saluran cerna, kondisi yang kerap dipicu oleh cuaca ekstrem dan penurunan daya tahan tubuh.
“Rata-rata pasien penyakit dalam, yaitu gangguan pencernaan dan infeksi pernapasan. Ini mungkin disebabkan faktor cuaca yang panas belakangan ini,” katanya.
Fenomena ini menjadi alarm bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap dampak cuaca panas, terutama dengan menjaga hidrasi, pola makan, serta menghindari aktivitas berlebihan di luar ruangan saat suhu sedang tinggi.
Sebelumnya, Kota Medan tengah dilanda cuaca panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Suhu udara hingga mencapai 37,8 derajat Celcius, jauh di atas rata-rata suhu normal bulan Juli. Fenomena ini mengundang perhatian masyarakat dan menjadi perhatian serius Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan.
Kepala Balai BMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa kondisi panas ekstrem ini disebabkan oleh tidak turunnya hujan selama lebih dari satu pekan, disertai suhu udara yang sangat tinggi dan angin kencang.
“Berdasarkan data pengamatan kami pada 17 Juli 2025, suhu udara tercatat mencapai 37,8°C, yang tergolong dalam kategori ekstrem. Ini merupakan angka tertinggi dibandingkan rerata suhu maksimum normal bulan Juli yang berkisar 33,7°C dari tahun 2008 hingga 2024,” ungkap Hendro.
BMKG mengidentifikasi bahwa kondisi cuaca ini tidak terlepas dari pengaruh siklon tropis ‘Wipha’ yang aktif pada pertengahan Juli dan kini mulai menjauh dari wilayah Indonesia. Siklon tersebut memengaruhi pola cuaca di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan.
“Ketika siklon menjauh, uap air yang biasanya menjadi sumber hujan juga ikut menjauh, sehingga menyebabkan udara menjadi lebih kering. Ditambah lagi, pergerakan udara kering dari Samudera Hindia ke wilayah tengah Sumatera semakin memperparah kondisi ini,” terang Hendro.
BMKG juga mencatat, adanya angin dengan kecepatan hingga 50 km/jam, serta perubahan arah angin di ketinggian 3.000 kaki yang berhembus dari arah barat daya. Wilayah yang terdampak meliputi Langkat, Deliserdang, Binjai, dan sebagian wilayah Kota Medan.
“Selain suhu tinggi, kami juga mencatat kelembapan udara yang cukup tinggi di lapisan atas, serta labilitas atmosfer yang memungkinkan pertumbuhan awan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang,” jelas Hendro.
Dan dari analisis streamline, lanjut Hendro, terdapat belokan angin di wilayah Sumatera Utara yang turut menambah asupan uap air khususnya di wilayah pantai barat, pegunungan, dan lereng timur Sumatera Utara, seperti Kepulauan Nias, Langkat, Binjai, Deliserdang, Sebagian kota Medan, Madina, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Humbahas, sebagian Tapanuli Utara.
Meski cuaca panas masih terasa menyengat, BMKG dalam prakiraan cuacanya menyebutkan bahwa kemungkinan hujan ringan akan terjadi pada Selasa (29 Juli 2025), dan berlanjut dalam dua hingga tiga hari ke depan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan saat siang hari, menggunakan pelindung matahari, seperti topi dan tabir surya,, memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi, serta memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG.
“Cuaca saat ini bersifat dinamis. Potensi gangguan cuaca masih mungkin terjadi, dan masyarakat diimbau untuk selalu waspada serta menjaga kesehatan,” pungkas Hendro. (ila)