Dorong Cakupan Imunisasi, Kemenkes dan GHS Gencarkan Pelatihan & Kampanye Digital di Sumut

1 month ago 17

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi sekaligus memperbaiki persepsi publik terhadap pentingnya vaksinasi di Sumatera Utara (Sumut), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bekerja sama dengan Global Health Strategies (GHS) menggelar pelatihan peningkatan kapasitas bagi tenaga kesehatan di Dinas Kesehatan Sumut, khususnya di 28 Kabupaten/Kota.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, 15–16 Juli 2025, di Grand Central Hotel, Medan. Sementara itu, dua puskesmas di Medan, yakni Helvetia dan Amplas, jadi pilot projectnya yang telah berjalan.

Program pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif global “Vax Social”, yang dilaksanakan di tiga negara: Indonesia, India, dan Nigeria. Untuk Indonesia, empat provinsi menjadi target program, yakni Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Riau, dan Sulawesi Utara.

“GHS ini membantu kami lewat pelatihan dan pembuatan konten yang sebelumnya sudah disiapkan. Kami sangat terbantu dengan kehadiran GHS yang menghadirkan pendekatan baru melalui pelatihan dan konten digital.

 Senior Advisor GHS, Dr dr Anung Sugihantono, Senior Director GHS untuk Indonesia dan ASEAN, Ganendra Awang Kristandya, Kabid P2P Dinkes Sumut, Novita Rohdearni Saragih dan lainnya.Dari kiri ke kanan: Senior Advisor GHS, Dr dr Anung Sugihantono, Senior Director GHS untuk Indonesia dan ASEAN, Ganendra Awang Kristandya, Kabid P2P Dinkes Sumut, Novita Rohdearni Saragih dan lainnya.

Ini betul-betul memberi warna baru bagi kami,” kata Kabid P2P Dinkes Sumut, Novita Rohdearni Saragih, dalam keterangan persnya usai membuka kegiatan pelatihan di Grand Central Hotel, Medan, Selasa (15/7/2025).

Menurut Novita, cakupan imunisasi dasar lengkap di Sumatera Utara saat ini baru mencapai 32,39 persen dari target 58 persen. Meskipun demikian, Sumut berada di posisi kelima secara nasional.

“Tantangan besar masih ada, terutama pada aspek kesadaran dan perubahan sikap masyarakat terhadap vaksinasi. Target kami bukan sekadar angka, tapi perubahan perilaku. Ini pekerjaan rumah kita bersama,” ujar Novita.

Novita berharap, kegiatan ini bisa meningkatkan capaian imunisasi di Sumatera Utara. Apalagi kehadiran tenaga kesehatan dari 28 kabupaten/kota merupakan hal yang sudah luar biasa dalam kegiatan ini.

Kesempatan yang sama, Senior Director GHS untuk Indonesia dan ASEAN, Ganendra Awang Kristandya mengatakan, Vax Social ini sebuah program yang sifatnya global, melibatkan tiga negara. Yakni, Nigeria, India dan Indonesia.

“Tujuannya sama, meningkatkan pengetahuan, sikap dan prilaku masyarakat yang ada di provinsi itu terkait dengan imunisasi. Strateginya melalui digital, khususnya melalui media sosial karena kita lihat media sosial diakses semua orang,” ujar Ganendra.

“Harapannya, lewat media sosial GHS bisa membantu masyarakat meningkatkan pemahamannya, memberikan informasi yang tepat, bisa membantu meningkatkan capaian imunisasi. Media sosial dipilih sebagai strategi utama untuk menyebarkan pesan-pesan imunisasi yang akurat, cepat, dan menjangkau luas. Lewat media sosial, kami menyebarkan informasi yang tepat, bukan hanya untuk meningkatkan pemahaman tapi juga untuk mendorong tindakan,” kata Ganendra.

Dikatakan Ganendra, sampai saat ini GHS bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Dinas Kesehatan Kota Medan dan dua Puskesmas pilot project, Puskesmas Helvetia dan Puskesmas Amplas.

“Kita sudah mengembangkan lebih dari 150 konten digital yang telah disebar melalui kanal media sosial resmi Dinas Kesehatan Kota Medan dan dua puskesmas yakni Puskesmas Helvetia dan Puskesmas Amplas. Dari tiga kanal ini kita bagikan informasi yang tepat dan hasilnya dilihat lebih dari 8 juta akun,” ungkap Ganendra.

Bukan hanya itu, GHS juga membentuk WhatsApp Group Ibu Pandai, yakni mengundang para ibu di sekitar puskesmas masuk dalam WhatsApp Grup.” Di WhatsApp Grup itu kita bagikan informasi tentang kesehatan, imunisasi dan sebagainya.

Data awal menunjukkan bahwa setiap tiga informasi yang dibagikan, satu ibu menunjukkan minat baru untuk mengimunisasi anaknya,” ungkap Ganendra.

Senior Advisor GHS, Dr dr Anung Sugihantono, menambahkan bahwa pendekatan lokal jadi kunci. “Yang menentukan imunisasi anak bukan cuma ibunya. Di Medan beda dengan Langkat, di Bitung beda dengan Manado. Itulah kenapa pesan-pesan ini harus dikemas secara lokal,” jelasnya.

Dalam pelatihan, para peserta juga diajak memilih platform yang tepat,Facebook, WhatsApp, Instagram, hingga X (dulu Twitter) sesuai karakter masyarakat di wilayah masing-masing.

Ke depan, GHS dan Kemenkes akan membagikan alat ukur efektivitas kampanye berbasis media sosial. Ini penting, kata Anung, agar promosi kesehatan tidak lagi dianggap sekadar “cuap-cuap” tanpa hasil.

“Kita harus bisa buktikan bahwa kampanye di medsos berdampak langsung pada peningkatan imunisasi. Kalau jalannya benar, hasilnya bisa diukur,” pungkasnya. (ila)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|