Gegara MBG Datang Terlambat, Sebanyak 230 Siswa di Pati Keracunan

9 hours ago 11
Ilustrasi keracunan | freepik

PATI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ada yang janggal dari tragedi keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Pati. Ketika makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya tiba di sekolah, waktu yang tersisa untuk menyantapnya justru tinggal hitungan menit.

Di SMPN 1 Gembong, misalnya, makanan yang biasanya sudah berada di sekolah sebelum pukul 09.30 WIB baru datang sekitar pukul 11.30 WIB. Siswa pun hanya memiliki waktu sekitar 30 menit sebelum batas konsumsi yang tertera pada wadah makanan, yakni pukul 12.00 WIB.

Makanan tetap dibagikan. Para siswa dan guru menyantapnya seperti biasa.

Beberapa jam kemudian, keluhan kesehatan mulai bermunculan. Pada Rabu (9/9/2026), ratusan siswa dari dua sekolah di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mengalami gejala yang mengarah pada keracunan makanan.

Sedikitnya 230 siswa terdampak, masing-masing 103 siswa SMPN 1 Gembong dan 127 siswa MTsN 3 Pati. Puluhan guru di kedua sekolah tersebut juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.

Meski dugaan kuat mengarah pada makanan MBG yang disantap sehari sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Pati belum berani menyimpulkan bahwa program tersebut sebagai penyebab pasti.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan, timnya masih melakukan penyelidikan epidemiologis dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

“Informasi yang kami dengar awal ini merupakan dugaan keracunan dari makanan MBG yang disajikan kemarin. Tapi sekali lagi ini masih dugaan,” ujar Luky saat memberikan keterangan kepada media di SMPN 1 Gembong.

Namun, persoalan mengenai waktu distribusi menjadi catatan serius dari pihak sekolah.

Kepala SMPN 1 Gembong Istiana mengungkapkan, keterlambatan pengiriman membuat makanan baru tiba sekitar pukul 11.30 WIB. Padahal, biasanya paket MBG sudah diterima sekolah sebelum waktu istirahat pertama.

Situasi itu membuat pihak sekolah harus segera membagikan makanan karena pada wadah penyajian terdapat petunjuk agar makanan dikonsumsi sebelum pukul 12.00 WIB.

“Kami pun langsung membagikan makanan tersebut karena label pada tray (ompreng makan) menginstruksikan MBG harus dimakan sebelum pukul 12.00,” kata dia.

Tidak ada kecurigaan dari siswa maupun guru saat makanan disantap. Secara kasatmata, makanan juga tidak menunjukkan tanda-tanda yang membuat mereka ragu untuk mengonsumsinya.

Bahkan, sebagian siswa justru menikmati menu tersebut. Ada yang sampai meminta tambahan jatah milik temannya yang tidak masuk sekolah pada hari itu.

Kejadian serupa terjadi di MTsN 3 Pati.

Kepala MTsN 3 Pati Zaenal Arifin mengatakan, makanan yang biasanya dibagikan sekitar pukul 11.20 WIB justru datang setelah pukul 12.00 WIB.

Menurut dia, tidak ada indikasi kasatmata bahwa makanan tersebut telah rusak. Rasa makanan pun dinilai masih normal.

“Anak-anak malah merasakannya enak,” jelas Zaenal.

Tetapi malam harinya, persoalan mulai muncul.

Sejumlah siswa mengeluhkan sakit perut, mulas, diare hingga sakit kepala. Keluhan di MTsN 3 Pati mulai dirasakan sekitar pukul 22.00-23.00 WIB.

Keesokan paginya, jumlah siswa yang mengalami gejala semakin banyak.

Di SMPN 1 Gembong, siswa yang terdampak mencapai 103 orang dari total 443 siswa kelas 7, 8 dan 9. Sebanyak 13 guru juga dilaporkan mengalami gejala.

Kondisi serupa terjadi di MTsN 3 Pati. Sebanyak 127 siswa dari total 565 siswa mengalami keluhan. Sekitar 30 guru juga disebut mengalami gejala ringan.

Banyaknya siswa yang mengeluhkan kondisi kesehatan membuat sekolah bergerak cepat. Korban kemudian dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan karena kapasitas layanan di fasilitas kesehatan terdekat tidak lagi mencukupi.

Sebagian siswa SMPN 1 Gembong sempat mendapat penanganan di Puskesmas Gembong. Namun karena terjadi lonjakan pasien, sebagian korban kemudian dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati, RS Mitra Bangsa dan RS KSH.

Sementara itu, para siswa MTsN 3 Pati dievakuasi dan dipusatkan di RSUD RAA Soewondo untuk memudahkan koordinasi penanganan.

Situasi tersebut bahkan membuat pelayanan kesehatan mengalami kelebihan beban pasien.

Sekolah kemudian mengambil langkah antisipasi dengan memulangkan siswa lebih awal dan menghentikan sementara kegiatan pembelajaran tatap muka.

Menariknya, siswa kelas 7 di salah satu sekolah relatif terhindar dari kejadian tersebut karena pada hari itu mereka sedang mengikuti pembelajaran secara daring. Ruang kelas mereka digunakan untuk kegiatan lomba.

Dinkes Tunggu Hasil Laboratorium

Di tengah penanganan para korban, Dinkes Pati masih bekerja untuk mencari jawaban atas penyebab sebenarnya.

Luky mengatakan informasi mengenai kejadian tersebut diterima pihaknya pada Rabu sekitar pukul 08.30 WIB.

Tim epidemiologi kemudian diterjunkan untuk melakukan penyelidikan di lapangan sekaligus mengumpulkan sampel makanan.

“Tim kami sedang melakukan PE atau penyelidikan epidemiologis. Jadi kami belum bisa memastikan terkait dengan penyebabnya seperti apa. Nanti kita tunggu hasil penyelidikan epidemiologis dan uji labnya,” kata Luky.

Sampel makanan yang diperiksa berasal dari bank sampel makanan yang disimpan di dapur penyedia MBG, yakni SPPG Gembong 1.

Sampel tersebut selanjutnya akan diperiksa di laboratorium tingkat provinsi. Hasil pemeriksaan diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu satu hingga dua pekan.

Dinkes juga belum menetapkan jumlah final korban karena pendataan masih bergerak mengikuti laporan dari fasilitas kesehatan.

“Data masih dinamis, kami belum bisa memastikan berapa jumlahnya. Nanti data akan kami update berdasarkan sinkronisasi kami dengan Faskes yang ada di RSUD Soewondo, RS Mitra Bangsa, dan RS KSH,” paparnya.

Untuk sementara, kejadian tercatat di dua sekolah tersebut.

Di sisi lain, pihak sekolah menilai persoalan ketepatan waktu pengiriman makanan tidak bisa dianggap sepele. Bagi sekolah, makanan yang datang terlalu dekat dengan batas waktu konsumsi membuat siswa berada dalam situasi serba salah: harus menyantap segera atau mengambil risiko melewati batas waktu yang tertera.

Istiana pun meminta jadwal distribusi benar-benar dipatuhi.

“Jadi mohon untuk jam, itu jam distribusi ke sekolah-sekolah itu ditaati. Itu saja sebetulnya. Kita kendalanya sebetulnya hanya di situ,” tegas Istiana.

Kini, pertanyaan yang lebih besar menunggu hasil pemeriksaan laboratorium: apakah keracunan massal tersebut benar-benar berkaitan dengan menu MBG, atau ada faktor lain yang menyebabkannya.

Satu hal yang sudah menjadi catatan sekolah adalah soal waktu. Ketika makanan untuk ratusan siswa datang terlambat, bukan hanya jadwal makan yang berubah. Ruang untuk memastikan makanan dikonsumsi dalam kondisi dan batas waktu yang aman ikut terpangkas. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|