SUMUTPOS.CO – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) semakin mengkhawatirkan di kawasan Danau Toba. Pada Selasa (29/7), api dilaporkan sudah mendekati permukiman warga di Desa Paropo, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi.
Hingga akhir Juli 2025, total lahan terbakar di kawasan Danau Toba tercatat mencapai 1.708 hektare, menjadikan bencana ini sebagai ancaman serius terhadap keselamatan warga dan kelestarian lingkungan.
Camat Silahisabungan, Iwan Simarmata, mengungkapkan bahwa titik api muncul di area perbatasan antara Desa Paropo dan Desa Silalahi. Situasi diperparah dengan kondisi musim kemarau dan hembusan angin kencang yang menyebabkan api dengan cepat menjalar ke semak-semak kering di sekitar kawasan perbukitan Danau Toba. “Jarak api ke rumah warga tinggal beberapa puluh meter saja. Api mulai menjalar dari tepi jalan menuju arah perbukitan,” terang Iwan saat dihubu-ngi wartawan.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa kebakaran diketahui sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah menerima la-poran dari warga, pihak kecamatan langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan upaya penanggulangan awal. “Sampai saat ini belum bisa dipastikan total luas lahan yang terbakar, tapi secara kasat mata sudah cukup luas,” ungkapnya.
Petugas bersama warga berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, proses pemadaman terkendala sulitnya pasokan air ke lokasi kejadian. Iwan menambahkan bahwa pihaknya sudah melaporkan peristiwa ini kepada BPBD Kabupaten Dairi dan Unit Pemadam Kebakaran untuk penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumut mencatat, sebanyak 1.708 lahan di kawasan Danau Toba terbakar. Hal itu dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan, Penegakan Hukum dan Pe-ningkatan Kapasitas Dinas LHK Sumut, Zainuddin Harahap ketika ketika dikonfirmasi Sumut Pos, Selasa (29/7/2025).
Berdasarkan data yang terhitung sejak tanggal 2 Juni sampai 24 Juli 2025, kata Zainuddin, ribuan hektare tersebut disebabkan karena adanya kebakaran hutan dan lahan yang cukup signifikan.
“Kawasan yang cukup tinggi Karhutla terjadi di Samosir deng-an menghanguskan 1.052 hektare dan di Kabupaten Toba sebanyak 240 hektare terbakar hingga hari ini,” ungkapnya.
Zainuddin juga mengatakan, jumlah data seluruh lahan yang hangus, mayoritas berada di kawasan Danau Toba. “Kabupaten Simalungun ada 105 hektare lahan, Kabupaten Toba ada 240 hektare lahan, Kabupaten Karo ada 63 hektare, Kabupaten Dairi 82 hektare lahan, Kabupaten Samosir 1.052 hektare, Kabupaten Humbahas sebanyak 163 hektare dan Kabupaten Tapanuli Utara sebagai 3 hektare,” ucapnya.
Saat ini, kata Zainuddin, Karhutla di Kawasan Danau Toba hari ini hanya ada satu titik, terjadi di perbukitan Desa Habeahan Naburahan, Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir. “Kejadian diperkirakan sekitar pukul 09.30 WIB, berdasarkan informasi dari masyarakat dan kebakaran masih sedang berlangsung,” ucapnya.
Zainuddin menyebut kebakaran yang terjadi pada hari ini kurang lebih sebanyak 5 hektare. “Hari ini kebakaran di lahan yang terbakar adalah hutan lindung, tapi penyebabnya belum diketahui, tetapi tim masih dalam tahap pemadaman,” ujar Zainuddin.
Sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara menetapkan tujuh daerah dalam status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih mengatakan, tujuh daerah status siaga darurat yakni Kabupaten Toba, Kabupa-ten Samosir, Kabupaten Simalu-ngun dan Kabupaten Humbang Hasundutan. Lalu, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi dan Kabupaten Tapanuli Utara.
Kemudian, langkah penetapan siaga darurat ini merupakan arahan dari Gubernur Sumut Bobby Nasution, agar masalah kebakaran dan kekeringan bisa diatasi.
“Ini adalah bagian dari upaya kita menaikkan air permukaan. Langkah-langkah antisipasi, kita sudah mensiagakan petugas kita disana, untuk memadamkan api api yang muncul, juga mendistribusikan air bersih,” tuturnya.
Dia mengatakan, data BPBD Sumut mencatat sebanyak 80 kejadian kebakaran hutan di provinsi itu periode Januari-Juli 2025 yang tersebar di 21 kabupaten/kota.
“Dan ini juga sudah berlangsung cukup lama ya. Januari-Juli 2025 total kebakaran hutan dan lahan sebanyak 80 kejadian. Luas yang terdampak 1.804, 95 hektare,” ujar Tuahta.
Lebih lanjut, Tuahta menyebutkan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga puncak kemarau itu akan berlangsung pada bulan Juli ini hingga akhir Agustus 2025.
“Jadi berdasarkan itu, dan fakta di lapangan juga itu memang hampir benar terjadi ya, kekeringan dan kebakaran hutan. Apalagi memang saat ini sedang revalidasi Geopark Kaldera Toba dari UNESCO. Jadi ini juga bentuk komitmen Pak Gubsu dan 7 kepala daerah untuk menjaga bahwa geopark ini tetap green card nanti,” ungkapnya.
Karena itu, Tuahta berharap kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG membuat hujan buatan di tujuh daerah yang rawan terjadi kebakaran tersebut.
“Ini hanya siaga darurat, selain memang kolaborasi dengan BMKG, BNBP soal pembuatan hujan, juga kita harap untuk menyiapkan stakeholder di kabupa-ten dan provinsi untuk masa kekeringan sampai dengan agustus nanti,” pungkasnya.
Sementara itu, di wilayah lain Sumatera Utara, Satbrimob Polda Sumut juga bergerak cepat menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Gunung Manapun, Kecamatan Aosa Timur, Kabupaten Padanglawas (Palas), pada Senin (28/7) sekitar pukul 11.00 WIB.
Dansat Brimob Polda Sumut, Kombes Pol Rantau Isnur Eka, membenarkan keterlibatan personel dalam menangani Karhutla di wilayah hukum Polres Palas.
Kegiatan ini, sambung Rantau, dipimpin Iptu Riswan Wadanki Kompi 2 Batalyon C. “Satu Satuan Setingkat Pleton (SST) Brimob BKO Polres Palas diturunkan dan berhasil memadamkan titik api di dua lokasi, yakni Desa Penarik dan Desa Marenu,” ujar Kombes Rantau.
Ia menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem dan pembukaan lahan oleh masyarakat diduga menjadi penyebab utama munculnya api. Pihak Brimob mengimbau agar masyarakat le-bih bijak dalam mengelola lahan dan tidak melakukan pembakaran, terlebih di musim kemarau panjang yang tengah melanda sejumlah wilayah.
Karhutla kini menjadi perhatian serius dari pemerintah pusat, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto dan institusi Polri, yang terus mendorong langkah-langkah preventif demi menjaga kelestarian lingkungan.
Ia berharap, agar seluruh lapisan stakeholder serta masyarakat dapat menjaga lingkungan hutan dan alamnya, guna terhindar dari Karhutla. (rud/dwi/san/ila)