Keberanian Gugun Gumilar di Tengah Persoalan Rumah Ibadah, Diwa: Layak Dihargai

4 hours ago 7
Di tengah insiden pembubaran ibadah jemaat GKPI Mauk Sepatan, Gugun Gumilar memilih hadir langsung untuk membuka ruang dialog. Istimewa

“Di tengah insiden pembubaran ibadah jemaat GKPI Mauk Sepatan, Gugun Gumilar memilih hadir langsung untuk membuka ruang dialog.

Diwa Foundation menilai keberanian tersebut layak diapresiasi sebagai teladan dalam merawat toleransi dan persatuan Indonesia.”

Ketika suasana di tengah warga memanas akibat insiden pembubaran ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Mauk Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (20/9/2026), Gugun Gumilar memilih mengambil langkah yang tidak mudah: hadir langsung di tengah persoalan dan mendorong penyelesaian melalui dialog.

Langkah tersebut mendapat perhatian dari Founder sekaligus Ketua Dewan Pembina Diwa Foundation, Diah Warih Anjari atau Diwa.

Ia memberikan apresiasi tinggi kepada Gugun Gumilar yang dinilainya menunjukkan keberanian dan kepedulian dalam menjaga toleransi antarumat beragama.

Diwa bahkan memberikan empat jempol atas sikap Gugun yang menurutnya menunjukkan kesungguhan seorang anak bangsa dalam menjaga persatuan.

“Jelas ini kesungguhan, keberanian, dan niat yang luar biasa dari sosok Gugun Gumilar menjaga toleransi di Tanah Air ini. Ini harus mendapatkan penghargaan,” tegas Diwa.

Menurut Diwa, keberanian Gugun tidak semestinya hanya dilihat dari keberaniannya hadir di tengah situasi yang sedang memanas.

Lebih dari itu, kehadiran tersebut harus dimaknai sebagai upaya untuk mencari jalan keluar dan mengembalikan persoalan kepada semangat kerukunan.

“Apabila Presiden mendengar kisah heroik ini, pasti Gugun akan dipanggil dan diberikan penghargaan dari pemerintah,” ujar Diwa.

Teladan Anak Muda

Diwa menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang memiliki keberanian untuk tampil ketika persatuan dan kerukunan menghadapi tantangan.

Menurutnya, Gugun dapat menjadi contoh bahwa menjaga toleransi bukan sekadar berbicara tentang keberagaman, tetapi juga membutuhkan keberanian untuk hadir, mendengar berbagai pihak dan mendorong penyelesaian secara damai.

“Tokoh muda semacam Gugun Gumilar ini bisa menjadi teladan yang baik menjaga persatuan dan kesatuan umat, bangsa dan negara,” kata Diwa.

Ia berharap muncul lebih banyak sosok muda lain yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Saya berharap Gugun-Gugun yang lain yang berjuang untuk negaranya juga bisa tumbuh,” tuturnya.

Toleransi Butuh Keberanian

Insiden di Mauk Sepatan sekaligus menjadi pengingat bahwa toleransi tidak cukup hanya menjadi slogan. Dalam masyarakat yang beragam, perbedaan membutuhkan ruang dialog dan sikap saling menghormati.

Gugun Gumilar sendiri dikenal sebagai tokoh muda yang mendedikasikan dirinya pada isu kebangsaan dan kerukunan. Dalam istilah yang digunakan Diwa, Gugun memilih “jalan Ninja”—bergerak ketika dibutuhkan dan hadir untuk menjaga keseimbangan di tengah persoalan.

Bagi Diwa, sosok seperti Gugun penting untuk dikenalkan kepada publik, khususnya generasi muda. Sebab, keberanian menjaga toleransi merupakan bagian dari upaya merawat persatuan Indonesia.

Diwa Foundation memberikan apresiasi dan penghargaan tertinggi kepada anak bangsa yang selama ini menjaga betul toleransi beragama di Indonesia,” ujar Diwa.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana: perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru dalam keberagaman itulah keberanian untuk menghormati, berdialog dan menjaga persatuan menjadi semakin penting.

Dan di tengah dinamika kehidupan sosial yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak “Gugun” lain—anak-anak muda yang berani hadir, bukan untuk memperbesar persoalan, melainkan untuk mencari jalan menuju kerukunan. *

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|