Panggung hiburan memeriahkan peringatan HUT ke-39 Pemuda Joko Songo di Kalongan RT 01, Matesih, Karanganyar, Sabtu (19/9/2026). Beragam kesenian dan musik disuguhkan untuk menghibur warga yang hadir | Foto: Albert WeiKARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tiga puluh sembilan tahun bukanlah perjalanan singkat bagi sebuah kelompok kepemudaan. Namun, Pemuda Joko Songo di Kalongan RT 01, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, hingga kini masih mampu mempertahankan kekompakan dan semangat kebersamaan.
Momentum tersebut diperingati melalui acara ulang tahun ke-39 Pemuda Joko Songo yang digelar di lingkungan Kalongan, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut berlangsung meriah dengan dukungan warga setempat.
Beragam hiburan disuguhkan untuk masyarakat, mulai dari pertunjukan seni tari, komedi parodi bernuansa lawas yang dibawakan grup Remukan Peyek, hingga pertunjukan musik dangdut.
Antusiasme warga semakin terasa karena panitia juga menyediakan berbagai hadiah doorprize. Hadiah yang dibagikan beragam, mulai dari hadiah sederhana hingga sepeda gunung yang menjadi salah satu hadiah utama.
Di balik kemeriahan tersebut, peringatan HUT ke-39 Pemuda Joko Songo juga menjadi momentum untuk mengingat perjalanan panjang kelompok pemuda yang telah melewati beberapa generasi.
Mempertahankan sebuah kelompok selama hampir empat dekade tentu bukan perkara mudah. Pergantian generasi, perbedaan gagasan maupun dinamika dalam organisasi menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui.
Namun, berbagai perbedaan tersebut selama ini diupayakan untuk diselesaikan melalui musyawarah sehingga tidak menghilangkan semangat kebersamaan. Kekompakan dan semangat guyub rukun itulah yang membuat Pemuda Joko Songo tetap bertahan hingga sekarang.
Terinspirasi Sejarah Perjuangan
Nama Joko Songo sendiri bukan sekadar nama kelompok kepemudaan tanpa makna. Akan tetapi, nama tersebut memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan kemerdekaan yang terjadi di wilayah Matesih.
Di Kalongan RT 01 terdapat Tugu Joko Songo yang menjadi penanda sejarah perjuangan sembilan pemuda yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda pada masa perang kemerdekaan.
Kisah tersebut berlatar Agresi Militer Belanda II pada 1948-1949. Ketika Surakarta dan wilayah sekitarnya diduduki pasukan Belanda, para pejuang Indonesia, termasuk pelajar dan mahasiswa, melakukan perjuangan secara gerilya di sejumlah wilayah.
Salah satu kesatuan yang aktif bergerilya di wilayah Karanganyar adalah Pasukan Alap-Alap, bagian dari Tentara Pelajar (TP) Detasemen II/Batalyon 200.
Wilayah Matesih dan Karangpandan pada masa itu menjadi jalur strategis yang menghubungkan Solo dengan kawasan Tawangmangu. Jalur tersebut menjadi salah satu wilayah operasi pasukan gerilya untuk melakukan penghadangan, sabotase maupun mengganggu pergerakan pasukan Belanda.
Dalam sebuah pertempuran, sekelompok anggota Pasukan Alap-Alap yang tengah melakukan pengintaian diketahui keberadaannya oleh pasukan Belanda.
Baku tembak pun tidak terhindarkan. Dengan jumlah personel dan persenjataan yang tidak seimbang, para pejuang muda tetap memberikan perlawanan. Dalam peristiwa tersebut, sembilan anggota Tentara Pelajar gugur.
Untuk mengenang perjuangan mereka, kemudian didirikan Tugu atau Monumen Joko Songo di wilayah Kalongan, Matesih. Makam para pejuang yang sebelumnya dimakamkan secara darurat di sekitar lokasi pertempuran selanjutnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan.
Pada tugu tersebut juga terdapat prasasti dengan kalimat berbahasa Jawa yang menggambarkan semangat perjuangan para pejuang.
“Angudi leburing angkoro penjajah, amrih luhuring anak putu.”
Albert Wei, warga Matesih dalam rilisnya ke Joglosemarnews menjelaskan, kalimat tersebut bermakna perjuangan untuk menghancurkan keangkaramurkaan penjajah demi kemuliaan dan kesejahteraan generasi penerus.
Sebutan Joko Songo pun lekat dengan kisah sembilan pemuda tersebut. Dalam bahasa Jawa, “joko” berarti jejaka atau pemuda, sedangkan “songo” berarti sembilan. Nama tersebut menjadi simbol untuk mengenang sembilan pemuda yang gugur ketika masih berusia muda.
Karena itu, keberadaan Tugu Joko Songo tidak hanya menjadi penanda sebuah peristiwa sejarah lokal saja, tetapi juga menjadi pengingat mengenai pengorbanan generasi muda dalam mempertahankan kemerdekaan.
Hingga kini, situs tersebut terus dirawat dan menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah perjuangan di Karanganyar. Sejumlah kegiatan seperti napak tilas perjuangan dan ziarah juga dilakukan untuk mengenang jasa para pejuang.
Bagi Pemuda Joko Songo, nama tersebut sekaligus menjadi pengingat agar semangat kebersamaan tetap dijaga.
Perjalanan 39 tahun kelompok pemuda itu mengandung makna bagaimana sebuah nama yang lahir dari sejarah perjuangan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Semangat yang dahulu ditunjukkan sembilan pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan kini diterjemahkan dalam bentuk yang berbeda, yakni menjaga persatuan, keguyuban dan kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

2 hours ago
2

















































