Dunia Maya Makin Ramai, Ketua Komjak RI Pesan Anak Muda Wonogiri: Jangan Sampai Kehilangan Kompas

7 hours ago 6
KejaksaanKetua Komisi Kejaksaan (Komjak) Republik Indonesia, Prof Dr Pujiono Suwadi memberikan pemaparan dalam Ngobrol Inspiratif Bareng Anak Muda yang digelar Gerakan Solusi Indonesia (GSI) bersama Pemkab Wonogiri, Kejaksaan Negeri Wonogiri dan Bank Jateng Cabang Wonogiri di Pendopo Kabupaten Wonogiri, Jumat (18/9/2026). Dok. GSI

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM Dunia maya menawarkan banyak hal kepada anak muda: kesuksesan, popularitas, gaya hidup hingga ruang untuk menyampaikan kritik. Namun, Ketua Komisi Kejaksaan (Komjak) RI Prof Dr Pujiyono Suwadi mengingatkan ada satu hal yang jangan sampai hilang, yakni kemampuan membedakan kehidupan nyata dengan apa yang tampil di layar.

Pesan itu disampaikan Pujiyono saat menjadi pembicara dalam Ngobrol Inspiratif Bareng Anak Muda yang digelar Gerakan Solusi Indonesia (GSI) bersama Pemkab Wonogiri, Kejaksaan Negeri Wonogiri dan Bank Jateng Cabang Wonogiri di Pendopo Kabupaten Wonogiri, Jumat (18/9/2026).

Dalam acara yang dihadiri 130 anak muda dari OSIS dan Pramuka, mahasiswa, organisasi kepemudaan dan karang tarun itu, juga menghadirkan pembicara lain. Seperti Co Founder GSI, Anas Syahirul, Local Hero Wonogiri, Yosep Bagus, Pegiat Literasi Digital, Niken Satyawati dan Mahasiswa Berprestasi Wonogiri, Ajeng Adela Selandani.

“Dunia nyata itu ya kadang senang, kadang jelek, dan harus kita nikmati,” papar Pujiyono.

Menurut Dewan Pakar GSI tersebut, kegelisahan anak muda saat ini tidak hanya muncul ketika mereka harus menentukan masa depan setelah lulus sekolah atau kuliah. Persoalan lain muncul ketika kehidupan sehari-hari semakin sulit dipisahkan dari dunia digital.

Ia menggambarkan kondisi anak muda yang hidup dalam dua ruang sekaligus: kehidupan nyata dan dunia maya.

“Kegelisahan yang kedua adalah banyak anak muda sekarang yang hidupnya ini sebenarnya kita dua alam tetapi terjebak pada alam dunia maya,” ujarnya.

Pujiyono kemudian menyampaikan pesan yang menjadi salah satu inti pembicaraannya.

“Jangan terjebak alam dunia maya. Akibatnya kesusahan kompas (kehidupan),” harap dia.

Menurutnya, media sosial memang dapat menjadi sumber informasi, inspirasi sekaligus ruang untuk menyampaikan pendapat. Namun, banyaknya informasi tidak otomatis membuat seseorang memiliki arah hidup yang jelas.

Anak muda bisa melihat orang lain sukses melalui media sosial dan kemudian ingin mencapai hal serupa. Mereka juga dapat melihat berbagai persoalan sosial maupun kebijakan pemerintah lalu terdorong untuk mengkritik.

Masalahnya, kata Pujiyono, keinginan dan kritik tersebut perlu diikuti tindakan nyata.

“Jadi pengin sukses, habis itu ngapain, bingung,” kata dia.

Karena itu, Pujiyono mendorong anak muda tidak berhenti sebagai penonton ataupun pengkritik. Menurutnya, kritik akan lebih bermakna apabila diikuti kemauan untuk ikut mencari jalan keluar.

“Kalau kita kemudian mengkritik terus kemudian kita berupaya ke depan kita harus jadi bagian dari solusi, maka kemudian setidaknya kritik kita itu tidak kemudian arahnya menghujat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan fenomena yang disebutnya sebagai the death of expertise atau kematian keahlian.

Menurut Pujiyono, perkembangan media sosial membuat jumlah pengikut atau popularitas seseorang terkadang lebih menentukan tingkat kepercayaan publik dibandingkan latar belakang keilmuan.

“Faktanya, kalian lebih percaya pada apa yang media sosial katakan, daripada apa yang guru katakan,” ungkap Pujiyono.

Ia kemudian memberikan contoh dari bidang hukum yang menjadi latar belakang pendidikannya.

“Saya itu kuliah di Hukum, sampai S1, S2, S3 dan doktor. Tetapi ketika saya ngomong soal hukum di media sosial, bisa jadi Anda lebih percaya pada orang yang lulusan teknik yang follower-nya banyak dibanding saya yang follower-nya tidak begitu banyak,” ujarnya.

Pesannya sederhana: jumlah pengikut tidak otomatis menentukan kebenaran sebuah informasi.

Karena itu, anak muda diminta lebih kritis sebelum menerima, membagikan ataupun mempercayai informasi yang beredar di media sosial.

Pujiyono juga mengingatkan sejumlah persoalan yang dapat mengganggu masa depan generasi muda, mulai dari judi online, narkotika, perkelahian kelompok hingga penggunaan media sosial yang tidak bijak.

“Makanya kita harus juga bijak bermedia sosial. Sebelum ngetik-ngetik, sebelum ngeshare itu dipikir dulu,” pesannya.

Ia juga mendorong anak muda memiliki mimpi sekaligus kesiapan menghadapi proses panjang untuk mencapainya. Pendidikan, menurutnya, menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas diri dan membuka peluang masa depan.

Bupati Wonogiri: Energi Anak Muda Harus Punya Arah

Pesan tentang masa depan generasi muda juga disampaikan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno.

Setyo menyebut anak muda memiliki energi besar yang dapat digunakan untuk mendorong perubahan dan pembangunan daerah. Namun, energi tersebut menurutnya membutuhkan arah agar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

“Peran pemuda sangat sentral dan energi yang luar biasa dalam membuat perubahan, tentunya di sini membutuhkan arah yang jelas sehingga memiliki daya konstruktif yang memberikan manfaat pada masyarakat luas,” paparnya.

Menurut Setyo, generasi muda memiliki posisi penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Masa depan pembangunan Indonesia, termasuk Kabupaten Wonogiri, akan banyak ditentukan oleh kemampuan generasi muda dalam mengembangkan potensi dan mengambil peran.

Dalam forum tersebut, Setyo juga menyampaikan persoalan judi online di Wonogiri.

Ia menyebut berdasarkan data yang disampaikannya dalam acara, Wonogiri berada dalam 10 besar dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah terkait persoalan judi online.

“Wonogiri ini darurat judi online. Tiga puluh lima kabupaten/kota di Jawa Tengah, kita masuk ranking 10,” ujar Bupati.

Setyo juga menyebut angka perputaran dana mencapai Rp128 miliar dengan jumlah pengguna akun sekitar 46.600. Angka tersebut merupakan data yang disampaikan Bupati dalam forum dan belum disertai rincian periode maupun metodologi pengukuran dalam materi yang tersedia.

Setyo kemudian mengingatkan anak muda agar tidak melihat judi sebagai jalan untuk mendapatkan kesejahteraan.

“Yakinlah judi tidak mungkin Anda menjadi kaya,” katanya.

Selain persoalan judi online, dukungan terhadap pendidikan anak muda juga menjadi bagian pembahasan. Setyo menyampaikan program beasiswa mahasiswa berprestasi yang telah berjalan sejak 2016 hingga 2025.

Dalam pemaparannya, total penyaluran beasiswa disebut mencapai Rp70,09 miliar untuk 5.604 mahasiswa.

Untuk 2026, Pemkab Wonogiri menganggarkan Rp7,5 miliar dengan bantuan Rp12 juta bagi 605 mahasiswa.

Kesempatan pendidikan tersebut diharapkan dapat membantu anak muda mengembangkan kemampuan dan kemudian membawa manfaat bagi daerah.

“Pemuda harus membangun kesejahteraan bagi masyarakat yang dilandasi cita-cita mulia untuk kemajuan bersama serta kemajuan bangsa dan negara,” jelas Setyo.

Jaksa: Kenali Hukum, Jauhi Hukuman

Kepala Kejaksaan Negeri Wonogiri Hery Somantry juga mengajak generasi muda memahami konsekuensi hukum dari setiap tindakan.

Ia mengatakan Kejari Wonogiri telah menjalankan berbagai kegiatan edukasi hukum di sekolah melalui program Jaksa Masuk Sekolah. Program tersebut diarahkan sebagai langkah pencegahan agar remaja memahami hukum sejak dini.

“Hampir 70 persen tindak pidana yang ada di Wonogiri ini yang sudah kita lakukan penuntutan di persidangan ya, itu hampir rata-rata perkara perlindungan anak,” ungkap Hery.

Ia menyebut perkara yang ditangani antara lain berkaitan dengan pencabulan, termasuk perkara yang melibatkan anak sebagai pelaku maupun korban.

Karena itu, menurut Hery, pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Pemerintah, sekolah, keluarga, tokoh agama dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun lingkungan yang lebih aman bagi anak dan remaja.

“Ini bukan hanya tugas kami di kejaksaan, tapi ini tugas kita semua. Kenali hukum, jauhi hukuman,” tutur dia.

Forum yang mempertemukan pejabat, aparat penegak hukum dan anak muda tersebut akhirnya membawa satu benang merah: generasi muda tidak cukup hanya memiliki akses terhadap informasi.

Mereka juga perlu memiliki kemampuan memilah informasi, menentukan arah hidup, berani mengambil peran dan mengubah kritik menjadi tindakan.

Di tengah derasnya arus media sosial, pesan Pujiyono menjadi relevan: dunia maya boleh menjadi tempat mencari informasi dan inspirasi, tetapi arah kehidupan tetap harus dibangun di dunia nyata. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|