Guru Besar Uncen Frederik Sokoy Soal Minimnya Ornamen Budaya di Kota Jayapura
Di tengah pesatnya arus modernisasi dan pembangunan ekonomi di Kota Jayapura, isu kelestarian budaya lokal menjadi perhatian serius di kalangan akademisi. Budaya jadi ciri khas pembeda antar daerah sekaligus pondasi karakter masyarakat.
Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura
Penggunaan ornamen budaya di Kota Jayapura, sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Jayapura Nomor 17 Tahun 2011 dan Perda Nomor 7 Tahun 2004 tentang Aksesori Kota Jayapura.
Prof. Dr. Fredrik Sokoy, S.Sos., M.SiPerda ini mewajibkan seluruh bangunan dan fasilitas publik di wilayah Kota Jayapura untuk memasang ornamen atau motif khas Papua dan Port Numbay. Aturan ini bertujuan untuk melestarikan dan menampilkan identitas budaya lokal.
Kewajiban ini umumnya diaplikasikan tampak depan bangunan pemerintah, perkantoran, dan fasilitas umum. Pagar, gapura, dan tiang penerangan jalan di area strategis. Desain interior ruang publik dan sarana pariwisata.
Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen), Prof. Dr. Fredrik Sokoy, S.Sos., M.Si., menilai menjaga identitas kebudayaan daerah menjadi satu hal penting. Salah satunya dilakukan melalui penerapan ornamen lokal pada sektor visual usaha komersial.
Dalam pandangan antropologisnya, Prof. Fredrik Sokoy menjelaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan fisik, melainkan sebuah struktur mendasar dalam kehidupan bersosial.
“Budaya adalah sistem keteraturan dari makna dan simbol-simbol yang digunakan manusia untuk menafsirkan pengalaman dan memandu perilaku mereka,” ujar Prof. Fredrik kepada Cenderawasih Pos, Jumat (19/7).
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa budaya beserta seluruh simbol di dalamnya harus dihormati dan dihargai sebagaimana mestinya. Menurut Prof. Fredrik, ada alasan fundamental mengapa kebudayaan lokal wajib dijaga dan diintegrasikan dalam kehidupan modern. Diantaranya, budaya merupakan jati diri yang membedakan satu daerah dengan daerah lainnya, sekaligus menjadi fondasi karakter masyarakat setempat.
Kemudian budaya sebagai pemersatu dalam keberagaman. Di tengah masyarakat urban Kota Jayapura yang semakin heterogen, budaya menjadi instrumen penyeimbang untuk merekatkan perbedaan.
Serta budaya sebagai Warisan Nilai Luhur. Nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur mengandung kearifan lokal yang teruji dalam menjaga harmoni alam dan manusia.
Secara sosiologis, sikap saling menghargai kebudayaan lokal terbukti efektif untuk mencegah terjadinya konflik sosial, menumbuhkan rasa toleransi yang kokoh, serta menjaga keutuhan hidup bermasyarakat.
Prof. Fredrik menyoroti fenomena hilangnya karakteristik lokal pada wajah arsitektur dan estetika visual pelaku usaha di Kota Jayapura saat ini. Kemajuan kota yang ditandai dengan menjamurnya kafe, restoran, hingga perhotelan modern, sayangnya tidak diimbangi dengan adopsi identitas lokal yang memadai. Banyak tempat usaha baru tampil generic dan kehilangan sentuhan khas Papua.
Ia menekankan bahwa pemasangan ornamen atau identitas kebudayaan daerah di ruang publik dan tempat usaha merupakan salah satu bentuk penghormatan konkret yang paling terukur. Ketika sektor swasta mengadopsi simbol-simbol lokal, hal itu tidak hanya menjadi daya tarik estetika, tetapi juga bentuk pengakuan terhadap hak kultural masyarakat adat setempat.
Kondisi minimnya representasi visual kebudayaan ini pun kini telah bergeser menjadi bahan diskusi intensif di ruang akademis, yang diharapkan dapat segera ditindaklanjuti secara sinergis melalui kebijakan bersama pemerintah daerah.
Di akhir penyampaiannya, Guru Besar Uncen ini memberikan catatan kritis mengenai tantangan terbesar dalam pelestarian budaya hari ini. Menurutnya, kerentanan sosial muncul ketika lahir generasi atau kelompok masyarakat yang tidak menghargai budaya setempat.
“Orang yang tidak percaya dengan kekuatan budaya, sama pengertiannya dengan mereka tidak menghargai masyarakat setempat yang memiliki wilayah adat tersebut,” tegas Prof. Fredrik.
Budaya adalah jati diri daerah yang harus dijunjung tinggi. Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha, modernisasi Kota Jayapura diharapkan dapat berjalan beriringan tanpa harus menenggelamkan akar budaya asli Port Numbay. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Guru Besar Uncen Frederik Sokoy Soal Minimnya Ornamen Budaya di Kota Jayapura
Di tengah pesatnya arus modernisasi dan pembangunan ekonomi di Kota Jayapura, isu kelestarian budaya lokal menjadi perhatian serius di kalangan akademisi. Budaya jadi ciri khas pembeda antar daerah sekaligus pondasi karakter masyarakat.
Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura
Penggunaan ornamen budaya di Kota Jayapura, sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Jayapura Nomor 17 Tahun 2011 dan Perda Nomor 7 Tahun 2004 tentang Aksesori Kota Jayapura.
Prof. Dr. Fredrik Sokoy, S.Sos., M.SiPerda ini mewajibkan seluruh bangunan dan fasilitas publik di wilayah Kota Jayapura untuk memasang ornamen atau motif khas Papua dan Port Numbay. Aturan ini bertujuan untuk melestarikan dan menampilkan identitas budaya lokal.
Kewajiban ini umumnya diaplikasikan tampak depan bangunan pemerintah, perkantoran, dan fasilitas umum. Pagar, gapura, dan tiang penerangan jalan di area strategis. Desain interior ruang publik dan sarana pariwisata.
Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen), Prof. Dr. Fredrik Sokoy, S.Sos., M.Si., menilai menjaga identitas kebudayaan daerah menjadi satu hal penting. Salah satunya dilakukan melalui penerapan ornamen lokal pada sektor visual usaha komersial.
Dalam pandangan antropologisnya, Prof. Fredrik Sokoy menjelaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan fisik, melainkan sebuah struktur mendasar dalam kehidupan bersosial.
“Budaya adalah sistem keteraturan dari makna dan simbol-simbol yang digunakan manusia untuk menafsirkan pengalaman dan memandu perilaku mereka,” ujar Prof. Fredrik kepada Cenderawasih Pos, Jumat (19/7).
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa budaya beserta seluruh simbol di dalamnya harus dihormati dan dihargai sebagaimana mestinya. Menurut Prof. Fredrik, ada alasan fundamental mengapa kebudayaan lokal wajib dijaga dan diintegrasikan dalam kehidupan modern. Diantaranya, budaya merupakan jati diri yang membedakan satu daerah dengan daerah lainnya, sekaligus menjadi fondasi karakter masyarakat setempat.
Kemudian budaya sebagai pemersatu dalam keberagaman. Di tengah masyarakat urban Kota Jayapura yang semakin heterogen, budaya menjadi instrumen penyeimbang untuk merekatkan perbedaan.
Serta budaya sebagai Warisan Nilai Luhur. Nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur mengandung kearifan lokal yang teruji dalam menjaga harmoni alam dan manusia.
Secara sosiologis, sikap saling menghargai kebudayaan lokal terbukti efektif untuk mencegah terjadinya konflik sosial, menumbuhkan rasa toleransi yang kokoh, serta menjaga keutuhan hidup bermasyarakat.
Prof. Fredrik menyoroti fenomena hilangnya karakteristik lokal pada wajah arsitektur dan estetika visual pelaku usaha di Kota Jayapura saat ini. Kemajuan kota yang ditandai dengan menjamurnya kafe, restoran, hingga perhotelan modern, sayangnya tidak diimbangi dengan adopsi identitas lokal yang memadai. Banyak tempat usaha baru tampil generic dan kehilangan sentuhan khas Papua.
Ia menekankan bahwa pemasangan ornamen atau identitas kebudayaan daerah di ruang publik dan tempat usaha merupakan salah satu bentuk penghormatan konkret yang paling terukur. Ketika sektor swasta mengadopsi simbol-simbol lokal, hal itu tidak hanya menjadi daya tarik estetika, tetapi juga bentuk pengakuan terhadap hak kultural masyarakat adat setempat.
Kondisi minimnya representasi visual kebudayaan ini pun kini telah bergeser menjadi bahan diskusi intensif di ruang akademis, yang diharapkan dapat segera ditindaklanjuti secara sinergis melalui kebijakan bersama pemerintah daerah.
Di akhir penyampaiannya, Guru Besar Uncen ini memberikan catatan kritis mengenai tantangan terbesar dalam pelestarian budaya hari ini. Menurutnya, kerentanan sosial muncul ketika lahir generasi atau kelompok masyarakat yang tidak menghargai budaya setempat.
“Orang yang tidak percaya dengan kekuatan budaya, sama pengertiannya dengan mereka tidak menghargai masyarakat setempat yang memiliki wilayah adat tersebut,” tegas Prof. Fredrik.
Budaya adalah jati diri daerah yang harus dijunjung tinggi. Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha, modernisasi Kota Jayapura diharapkan dapat berjalan beriringan tanpa harus menenggelamkan akar budaya asli Port Numbay. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q


















































