MEDAN, SumutPos.co– Acara kegiatan Halal Bihalal Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI) Sumatera Utara yang seharusnya berlangsung khidmat berujung ricuh. Insiden penganiayaan yang terjadi di lokasi kegiatan mengakibatkan seorang kader mengalami luka serius di kepala hingga harus mendapatkan 12 jahitan.
Peristiwa bermula saat sekelompok orang yang dipimpin oleh pria berinisial IR bersama rekan-rekannya, termasuk MP, mendatangi lokasi acara. Mereka melayangkan protes keras kepada Ketua KA KAMMI Sumut, Abdul Rahim Siregar, atas tudingan ketidakkomitmenan. Situasi memanas ketika kelompok tersebut mencoba mengusir sejumlah tamu undangan dan melarang mereka menghadiri prosesi pelantikan.
Ketua DKP KAMMI Sumut, Malik Vanedi, mengungkapkan bahwa upaya peleraian sempat dilakukan oleh para kader di lokasi. Namun, situasi tidak terkendali hingga MP diduga melakukan pemukulan terhadap salah satu kader KAMMI dan seorang anggota Satpol PP, Rahmat Daulay. “Korban mengalami luka bocor di kepala dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Malahayati. Akibat serangan tersebut, korban harus menerima 12 jahitan,” ujar Malik.
Hal yang menjadi sorotan dalam insiden ini adalah pengakuan pelaku saat diamankan oleh petugas Satpol PP. Pelaku MP sempat menggertak petugas dengan mengaku sebagai anggota TNI, bahkan menunjukkan nomor anggota yang tertera pada ikat pinggangnya. Namun, setelah diinterogasi lebih dalam, MP akhirnya mengaku sebagai warga sipil.
Menanggapi tindakan anarkis tersebut, Ketua Umum PW KAMMI Sumatera Utara, Hasan Basri, mengecam keras aksi premanisme di ruang publik tersebut. Pihaknya menyatakan akan menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kasus ini. “Kami mengecam segala bentuk kekerasan dalam kegiatan organisasi. Peristiwa ini tidak bisa ditoleransi. Kami meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini secara transparan,” tegas Hasan Basri.
Selain melaporkan tindakan penganiayaan, PW KAMMI Sumut juga mendesak pihak TNI untuk memberikan klarifikasi resmi terkait pencatutan identitas institusi yang dilakukan oleh pelaku. KAMMI Sumut berkomitmen akan mengawal kasus ini hingga tuntas guna memastikan keadilan bagi korban dan menjaga marwah organisasi. (rel/adz)
MEDAN, SumutPos.co– Acara kegiatan Halal Bihalal Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI) Sumatera Utara yang seharusnya berlangsung khidmat berujung ricuh. Insiden penganiayaan yang terjadi di lokasi kegiatan mengakibatkan seorang kader mengalami luka serius di kepala hingga harus mendapatkan 12 jahitan.
Peristiwa bermula saat sekelompok orang yang dipimpin oleh pria berinisial IR bersama rekan-rekannya, termasuk MP, mendatangi lokasi acara. Mereka melayangkan protes keras kepada Ketua KA KAMMI Sumut, Abdul Rahim Siregar, atas tudingan ketidakkomitmenan. Situasi memanas ketika kelompok tersebut mencoba mengusir sejumlah tamu undangan dan melarang mereka menghadiri prosesi pelantikan.
Ketua DKP KAMMI Sumut, Malik Vanedi, mengungkapkan bahwa upaya peleraian sempat dilakukan oleh para kader di lokasi. Namun, situasi tidak terkendali hingga MP diduga melakukan pemukulan terhadap salah satu kader KAMMI dan seorang anggota Satpol PP, Rahmat Daulay. “Korban mengalami luka bocor di kepala dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Malahayati. Akibat serangan tersebut, korban harus menerima 12 jahitan,” ujar Malik.
Hal yang menjadi sorotan dalam insiden ini adalah pengakuan pelaku saat diamankan oleh petugas Satpol PP. Pelaku MP sempat menggertak petugas dengan mengaku sebagai anggota TNI, bahkan menunjukkan nomor anggota yang tertera pada ikat pinggangnya. Namun, setelah diinterogasi lebih dalam, MP akhirnya mengaku sebagai warga sipil.
Menanggapi tindakan anarkis tersebut, Ketua Umum PW KAMMI Sumatera Utara, Hasan Basri, mengecam keras aksi premanisme di ruang publik tersebut. Pihaknya menyatakan akan menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kasus ini. “Kami mengecam segala bentuk kekerasan dalam kegiatan organisasi. Peristiwa ini tidak bisa ditoleransi. Kami meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini secara transparan,” tegas Hasan Basri.
Selain melaporkan tindakan penganiayaan, PW KAMMI Sumut juga mendesak pihak TNI untuk memberikan klarifikasi resmi terkait pencatutan identitas institusi yang dilakukan oleh pelaku. KAMMI Sumut berkomitmen akan mengawal kasus ini hingga tuntas guna memastikan keadilan bagi korban dan menjaga marwah organisasi. (rel/adz)

13 hours ago
6

















































