JAYAPURA – Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal dengan menggelar kegiatan Penyusunan dan Penulisan Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid III Tahun 2026, Kamis (25/6).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan bahasa dan budaya masyarakat adat Port Numbay yang kini menghadapi ancaman kepunahan akibat semakin berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kota Jayapura, Evert Nicolas Meraudje, yang menegaskan bahwa cerita rakyat bukan sekadar kisah yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan warisan budaya yang sarat dengan nilai-nilai luhur, kearifan lokal, identitas budaya, serta sejarah perjalanan masyarakat Port Numbay sejak masa lampau.
“Penyusunan buku cerita rakyat ini merupakan langkah nyata Pemerintah Kota Jayapura untuk mengabadikan cerita-cerita yang selama ini diwariskan secara lisan menjadi karya tulis yang dapat terus dijaga, dipelihara, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Menurut Evert, buku cerita rakyat tersebut akan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kehadiran buku ini juga menjadi bukti bahwa Kota Jayapura memiliki kekayaan budaya yang patut dijaga, dilestarikan, dan dibanggakan bersama.
Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya yang berada di sepuluh kampung adat Port Numbay, untuk terus menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai bahasa leluhurnya.
Selain itu, Evert berharap proses penyusunan buku tidak hanya menghasilkan transkrip cerita rakyat semata, tetapi juga melibatkan generasi muda sebagai ilustrator, penerjemah, hingga pengisi audio agar buku yang dihasilkan lebih menarik dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
“Penyusunan buku ini harus mampu menghadirkan nilai, konteks, dan pesan moral melalui tulisan, gambar, maupun suara, karena masa depan budaya ada di tangan kita semua,” katanya.
Pemerintah Kota Jayapura, lanjutnya, akan terus mendukung berbagai program pelestarian bahasa dan budaya daerah. Buku yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelajar, pendidik, peneliti, maupun masyarakat luas sebagai sumber pembelajaran sekaligus sarana menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Port Numbay.
Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku, mengungkapkan bahwa kondisi bahasa Port Numbay di sepuluh kampung adat saat ini semakin memprihatinkan karena jumlah penuturnya terus menurun.
Menurutnya, dokumentasi melalui penulisan cerita rakyat menjadi salah satu langkah strategis dalam menyelamatkan bahasa daerah agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. “Kami ingin cerita-cerita rakyat yang hidup di seluruh kampung adat dapat terdokumentasi dengan baik sehingga tetap dikenal dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Pada tahun 2026 ini, kegiatan tersebut menargetkan penyusunan 30 cerita rakyat baru dan 10 puisi yang ditulis dalam dua bahasa, yakni Bahasa Port Numbay dan Bahasa Indonesia. Melalui dokumentasi tersebut, diharapkan bahasa daerah tetap lestari sekaligus menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi generasi muda.
Program ini menjadi wujud nyata komitmen Pemerintah Kota Jayapura dalam menjaga identitas budaya masyarakat adat Port Numbay melalui pelestarian bahasa, sastra lisan, dan cerita rakyat sebagai bagian penting dari kekayaan budaya daerah yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.(kim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
JAYAPURA – Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal dengan menggelar kegiatan Penyusunan dan Penulisan Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid III Tahun 2026, Kamis (25/6).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan bahasa dan budaya masyarakat adat Port Numbay yang kini menghadapi ancaman kepunahan akibat semakin berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kota Jayapura, Evert Nicolas Meraudje, yang menegaskan bahwa cerita rakyat bukan sekadar kisah yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan warisan budaya yang sarat dengan nilai-nilai luhur, kearifan lokal, identitas budaya, serta sejarah perjalanan masyarakat Port Numbay sejak masa lampau.
“Penyusunan buku cerita rakyat ini merupakan langkah nyata Pemerintah Kota Jayapura untuk mengabadikan cerita-cerita yang selama ini diwariskan secara lisan menjadi karya tulis yang dapat terus dijaga, dipelihara, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Menurut Evert, buku cerita rakyat tersebut akan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kehadiran buku ini juga menjadi bukti bahwa Kota Jayapura memiliki kekayaan budaya yang patut dijaga, dilestarikan, dan dibanggakan bersama.
Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya yang berada di sepuluh kampung adat Port Numbay, untuk terus menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai bahasa leluhurnya.
Selain itu, Evert berharap proses penyusunan buku tidak hanya menghasilkan transkrip cerita rakyat semata, tetapi juga melibatkan generasi muda sebagai ilustrator, penerjemah, hingga pengisi audio agar buku yang dihasilkan lebih menarik dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
“Penyusunan buku ini harus mampu menghadirkan nilai, konteks, dan pesan moral melalui tulisan, gambar, maupun suara, karena masa depan budaya ada di tangan kita semua,” katanya.
Pemerintah Kota Jayapura, lanjutnya, akan terus mendukung berbagai program pelestarian bahasa dan budaya daerah. Buku yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelajar, pendidik, peneliti, maupun masyarakat luas sebagai sumber pembelajaran sekaligus sarana menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Port Numbay.
Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku, mengungkapkan bahwa kondisi bahasa Port Numbay di sepuluh kampung adat saat ini semakin memprihatinkan karena jumlah penuturnya terus menurun.
Menurutnya, dokumentasi melalui penulisan cerita rakyat menjadi salah satu langkah strategis dalam menyelamatkan bahasa daerah agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. “Kami ingin cerita-cerita rakyat yang hidup di seluruh kampung adat dapat terdokumentasi dengan baik sehingga tetap dikenal dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Pada tahun 2026 ini, kegiatan tersebut menargetkan penyusunan 30 cerita rakyat baru dan 10 puisi yang ditulis dalam dua bahasa, yakni Bahasa Port Numbay dan Bahasa Indonesia. Melalui dokumentasi tersebut, diharapkan bahasa daerah tetap lestari sekaligus menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi generasi muda.
Program ini menjadi wujud nyata komitmen Pemerintah Kota Jayapura dalam menjaga identitas budaya masyarakat adat Port Numbay melalui pelestarian bahasa, sastra lisan, dan cerita rakyat sebagai bagian penting dari kekayaan budaya daerah yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.(kim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q


















































